Momentum Bela Negara, Ini Tantangan yang Disebut Jokowi

Jakarta, Obsessionnews - Pada hari ini, Indonesia memperingati Hari Bela Negara yang dilaksanakan secara serentak di seluruh pelosok tanah air. Pada momentum peringatan Hari Bela Negara tahun ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk belajar dari sejarah perjuangan bangsa. "Sejarah mencatat bahwa Republik Indonesia bisa berdiri tegak sebagai negara bangsa yang berdaulat tidak lepas dari semangat bela negara dari seluruh kekuatan rakyat, mulai dari prajurit TNI, petani, pedagang kecil, nelayan, ulama, santri dan elemen rakyat yang lain," kata Jokowi melalui amanat tertulisnya, Sabtu (19/12/2015). Jokowi mengatakan para bela negara itu telah berjuang, mengorbankan jiwa raganya untuk membela tanah airnya dari para penjajah. Sejarah juga menunjukkan bahwa membela negara tidak hanya dilakukan dengan kekuatan senjata, akan tetapi juga dilakukan oleh setiap warganegara dengan kesadarannya untuk membela negara melakukan upaya-upaya politik maupun diplomasi. Indonesia hari ini, kata Jokowi adalah hasil semangat bela negara dari para pejuang kesuma bangsa. Demikian pula, Indonesia di masa depan, ia yakin juga akan tetap bertahan sebagai bangsa yang besar dan berdaulat karena semangat bela negara dari seluruh anak bangsanya. "Itulah api semangat yang tidak pernah padam dan harus terus kita kobarkan dalam menghadapi tantangan-tantangan baru di depan mata," katanya. Saat ini, sebagai bangsa yang besar, Indonesia menghadapi dinamika konstelasi geopolitik-ekonomi dunia yang berubah pasca perang dingin. Gelombang perdagangan bebas dan tekanan integrasi ekonomi regional akan semakin besar dalam beberapa tahun ke depan. Perdagangan bebas telah menjadi agenda yang didorong oleh hampir semua negara di dunia. Persaingan ekonomi antar negara diperkirakan akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang, terutama dalam hal penguasaan akses sumberdaya maritim, energi dan pangan. "Inilah tantangan konkrit yang kita harus hadapi bersama. Apabila kita lengah maka bangsa Indonesia akan tertinggal dan tergulung oleh perubahan ekonomi dan politik dunia tersebut," lanjut Jokowi. Bersamaan dengan gelombang perdagangan bebas, Indonesia juga sedang menghadapi ancaman keamanan dari kejahatan kemanusiaan yang bersifat trans nasional. Radikalisme dan terorisme telah menjadi ancaman nyata bagi keamanan dan perdamaian dunia. Selain itu, banyak anak-anak muda yang terjebak dalam ketergantungan pada narkotika, karena Indonesia telah menjadi pasar bagi sindikat internasional. Banyak WNI yang juga masuk dalam jaringan perdagangan manusia yang tidak berperi kemanusiaan. Di dalam negeri, Indonesia juga harus menghadapi tantangan kemiskinan, keterbelakangan dan ketimpangan. Jokowi mengakui belum semua warga bangsa bisa mendapatkan pelayanan kesehatan, memperoleh pendidikan yang layak, mendapatkan fasilitas air bersih, menikmati listrik di rumah-rumah mereka dan juga bebas dari keterisolasian. Semua itu, tantangan nyata yang harus dihadapi bersama. "Kita juga menghadapi tantangan dalam mengelola kemajemukan. Kemajemukan bisa menjadi kekuatan yang maha dahsyat jika kita mampu menjaganya dengan baik. Banyak contoh yang bisa kita lihat, bagaimana suatu bangsa harus menghadapi takdir sejarahnya menjadi terpecah-belah, tercerai-berai karena tidak mampu menjaga kemajemukan," ucap Presiden. (Has)





























