Kesehatan Berawal Dari Mulut

Jangan pernah menganggap remeh kesehatan mulut Anda. Karena sejumlah penelitian menemukan fakta, bahwa mulut bisa menjadi ‘pintu masuk’ bagi menyebarnya penyakit di tubuh Anda. Jadi, sehat tidaknya mulut tidak hanya menimbulkan aroma tak sedap saja. Sebuah studi oleh British Journal Medicine menemukan fakta, bahwa bakteri yang ada pada gigi dan mulut dapat beredar menebalkan dinding pembuluh darah, sehingga menyebabkan kerja jantung Anda lebih berat. Temuan medis lainnya bahkan mengonfirmasi bahwa kondisi mulut yang tidak sehat dapat menyebabkan terjadinya luka pada area mulut dan gusi (scorbut). dan hal ini akan mengganggu kerja tubuh untuk mencerna gula secara sempurna. Kita mulai dari gigi berlubang atau karies. Ini, merupakan masalah yang kerap dialami orang Indonesia. Lubang tersebut bisa muncul karena sisa makanan yang terselip bersama bakteri dan tetap menempel di gigi. Jika tidak segera dilakukan penyikatan gigi, lama kelamaan akan terbentuk plak yang merupakan tempat pertumbuhan ideal bagi bakteri yang dapat memproduksi asam. Asam ini akhirnya menghancurkan email gigi dan menyebabkan gigi berlubang. Selain itu kuman-kuman pada plak akan mengeluarkan racun yang merangsang gusi sehingga terjadi radang gusi, akibatnya gusi menjadi mudah berdarah. Keadaan ini jika terus dibiarkan akan berdampak pada bergeraknya gusi dari perlekatannya dengan gigi, sehingga mempengaruhi tulang pendukung dan ligamen (jaringan pengikat) sekitarnya dan menyebabkan tanggalnya gigi. Akibat yang ekstrim dari terabaikannya dari kesehatan gigi dan mulut adalah kerusakan organ vital lain. “Masih rendahnya kepedulian keluarga Indonesia dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan gusi bisa menjadi pemicu munculnya sejumlah penyakit berbahaya yang membutuhkan pengobatan mahal. Bahkan, penyakit gigi bisa membawa kematian,” ungkap drg. RA. Syanti W. Astuty dari Bethsaida Hospitals Dental Center. Hal itu terjadi karena gigi berlubang yang didiamkan menjadi sumber infeksi dan menyebarkan penyakit ke bagian lain di tubuh, seperti pada mata, hidung, jantung, atau pencernaan. Keadaan ini disebut sebagai infeksi fokal. Sebagai tambahan, beberapa obat tertentu seperti dekongestan, antihistamin, hingga obat penahan sakit dan obat-obat diuretic yang meningkatkan produksi urin umumnya dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk menghasilkan air liur. Padahal, air liur memiliki fungsi untuk membuang makanan dan menetralkan asam yang diproduksi bakteri di mulut Anda. Dengan kata lain, air liur sesungguhnya membantu tubuh terlindung dari serangan mikroba atau bakteri berlebih yang dapat membuat Anda sakit. Berikut penyakit-penyakit yang bisa timbul dengan adanya gangguan pada mulut dan gigi: Endocarditis Infeksi yang terjadi pada bagian dalam jantung (endocardium). Umumnya, penyakit ini timbul dikarenakan adanya bakteri dan kuman dari bagian tubuh lainnya, seperti mulut, yang menyebar melalui aliran darah dan kemudian merusak area jantung. Penyakit kardiovaskular Bakteri pada gusi dan gigi bisa mempengaruhi kesehatan Anda. Bakteri tersebut dapat mempengaruhi peredaran darah dan menebal di arteri, sehingga mempertinggi risiko serangan jantung. Selain itu, bila Anda memiliki plak pada gigi dalam jumlah yang banyak, bisa merusak peredaran darah, mempengaruhi otak dan menyebabkan stroke. 11.000 orang dewasa pernah di teliti dan mereka yang tidak menyikat gigi secara rutin ternyata memiliki resiko 70% lebih tinggi untuk mengalami masalah jantung. Masalah Pada Kehamilan Anda tak bisa memilih memprioritaskan kesehatan mulut atau kehamilan Anda. Saat hamil, terjadi lonjakan hormonal dan peredaran darah sehingga sangat mungkin terjadi perubahan pada wilayah gigi dan gusi. Menurut American Academy of Periodontists, sekitar 50% wanita yang sedang hamil akan mengalami ginivitis, sebuah kondisi di mana gusi mudah bengkak, mudah berdarah dan menjadi sensitif. Bila Anda tak memeriksakannya maka bisa membuat masalah baru yang membahayakan. Beberapa studi yang masih meneliti lebih lanjut memperkirakan adanya hubungan antara infeksi mulut dengan kelahiran prematur hingga kesulitan punya anak. Diabetes Salah satu gejala diabetes tipe 2 bisa dideteksi lewat infeksi gusi. Studi dari Columbia University mempelajari 9.296 relawan yang berusia di atas 20 tahun, memiliki resiko mengalami diabetes tipe 2 dilihat dari tingginya infeksi gusi yang dialami dibanding mereka yang tidak. Masalah infeksi pada mulut memang bisa mempengaruhi penyakit diabetes karena kemampuan mulut untuk mengolah gula menjadi berkurang. Orang yang mengidap diabetes biasanya memiliki bau manis (acetone breath) yang dapat dikenali oleh dokter gigi Infeksi Pernafasan Dalam sebuah jurnal kesehatan, peneliti menemukan bahwa mereka yang mengalami masalah pernafasan seperti bronkitis akut, pneumonia dan ISPA, cenderung memiliki kesehatan gigi dan mulut yang buruk. Hal ini karena bakteri bulu masuk ke saluran atas tenggorokan dan menyebar ke saluran pernafasan lainnya. Bila hal ini diteruskan, bisa membuat masalah pada organ paru-paru Anda. Kanker Payudara Ini yang penting untuk diketahui wanita. Semakin banyak penelitian yang membuktikan hubungan kesehatan mulut berpengaruh besar pada kesehatan tubuh Anda. Bila Anda mengalami masalah gigi sampai harus mencabutnya dan sering mengalami masalah gusi, bisa jadi mengalami resiko 11 kali lebih banyak mengalami kanker payudara. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hal ini. Namun bila Anda merasa memiliki gejala yang satu ini, maka tak ada salahnya untuk mengonsumsi makanan yang lebih sehat lagi sambil menjaga kesehatan mulut dan gigi. Karena adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara kesehatan mulut dan gigi dengan kesehatan tubuh Anda secara menyeluruh, pastikan Anda menyampaikan kondisi kesehatan Anda saat memeriksakan diri ke dokter maupun dokter gigi. Gigi yang sehat tak cukup hanya rapi dan putih, tetapi juga harus didukung oleh gusi yang kencang serta akar dan tulang yang sehat. Pada kondisi normal, dari gigi dan mulut yang sehat ini tidak tercium bau tak sedap. Kondisi tersebut hanya dapat dicapai jika kita merawatnya dengan cara rutin membersihkan gigi dua kali sehari, terutama setelah makan, ditambah dengan memeriksakan kesehatan gigi dan gusi ke dokter setiap enam bulan sekali. Drg. Syanti menggarisbawahi bagi orang berumur dihimbau untuk mengunjungi dokter gigi 3-4 bulan sekali karena liur yang dihasilkan semakin kental sehingga plak lebih mudah terbentuk. “Cara menggosok gigi yang tepat juga dapat membantu meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit gigi. Hal inilah yang oleh Bethsaida Hospitals Dental Center hendak sampaikan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran mereka melalui pelayanan dan konsultasi yang diberikan,” imbuh drg. Syanti. (Gia)





























