Husen Lauk Prihatin Ikan Lokal Tak Dilirik

Bandung, Obsessionnews - Husen Lauk (Ikan) prihatin karena selama ini ikan lokal tidak banyak memperhatikan. Keprihatikan Husen Lauk yang memiliki nama asli Ir H Mohammad Husen ternyata sangat beralasan. Menurut Husen (67), pensiunan Dinas perikanan Jabar tahun 2004 itu banyak pengusaha justru memilih ikan invasif seperti patin, lele dumbo nila serta koki dan nila yang dilirik ketimbang ikan lokal seperti nilem, tambakan, tawes, beureum panon, dan ikan air tawar lainnya. Husen Lauk itu yang kini aktif sebagai pengurus DPD HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) Jawa Barat, juga di Masyarakat Aqua Culture Indonesia, plus sebagai Ketua Formikan (Forum Komunikasi Karantina Ikan) Jawa Barat. ”Jadwal saya padat menjadi instruktur pada berbagai forum perikanan di Nusantara. Namun disesalkan, semua sibuk dengan budi daya ikan asing seperti patin, mas, dan nila. Herannya, pihak pemerintah itu pendukungnya. Ikan lokal yang punya banyak kelebihan, tak dikembangkan. Saya suka iri, jadinya,” ujarnya, Sabtu (19/12/2015). Penyebabnya, begitu masif ikan asing menyerbu ikan lokal. Husen juga menyampaikan data BPS per September 2015, PDB perikanan pertumbuhannya 7,99%. "Ini melampaui pertumbuhan ekonomi 4,71%. Bandingkanlah dengan pertumbuhan pertanian yang hanya 4,2%, dan kehutanan 1.06%," ujar Husen.
Istimewanya, timpal ia dari PDB yang termasuk tumbuhnya terbilang cepat itu berasal dari rumput laut 10,83%, tawes 24,82% dan nilem 7,19%,", ujar lulusan Akademi Perikanan Tanjung Sari tahun 1977 itu. Husen menambahkan kontribusi Jabar terhadap produksi Nasional pada 2009, Ikan nilem sekitar 87,5%, tawes 46,1%, gurame 23,5%, dan tambakan 73,8 %. "Betapa potensi ikan endemik di Jabar itu besar sekali untuk nasional. Eh malah ikan endemik disia-siakan. Bikin mumet ajah," papar Husen. Ditambahkan Husen sudah lama ada Permen KKP No 3 /2010 tetang Perlindungan Jenis Ikan. Termasuk Keputusan Bupati Tasikmalaya 5224/189/1994, ikan gurame itu ikon Tasikmalaya. Husen Lauk yang selama bertahun-tahun gigih berusaha mengembalikan kejayaan ikan endemik di Indonesia seperti Nilem (Osteochilus hasselti), Tambakan (Helostoma temmincki), Tawes (Puntius gonionotus), Gurame (Osphronemus gouramy) dan Beureum panon (Puntius orphoides). Menyangkut saresehan perikanan 23 Desember mendatang, Husen mengingatkan tahun 1990-an, melalui majalah perikanan terbitan Israel, Bamidgeh, sistem pembenahan ikan nilem di Galunggung Tasikmalaya disebut ekselen (hebat – red)”.
Dalam kisahnya, Dr. Bardach dari Israel, Dr. Huet dari Prancis, Dr. Alikunhi dari India, sangat terkesan oleh pembudidayaan ikan nilem “tradisional” di Tasikmalaya. “Saya membacanya di majalah Bamidgeh yang menjadi rujukan ihwal perikanan di dunia. Saya mendampingi mereka pada kunjungannya di Jawa Barat,” jelas Husen Lauk. Dituturkan lagi, sistem Galunggung yang ekselen itu, sejatinya hasil kearifan lokal kolam nilem pemijahan yang diberi pasir. Perintisnya, kata Husen Lauk lagi, “Itu tuh Lurah Jenal di Rancapaku - Leuwisari, Abah Udin di Saladah Cisaruni (alm). Mereka ini kala itu berada di Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya pada era 1950-an”. Husen Lauk menyampaikan, dalam salah satu penerbitan majalah Bamidgeh yang prestisius itu, ”Ada terminology buleng, panyabetan, kereneng, oblok, palet, gomblangan, dan banyak nama-nama peralatan dan cara setempat, masuk pada ranah dunia perikanan internasional. Belum lagi, jelas Husen para pakar kita saat ini melupakan keunggulan para pembudidaya ikan lokal. "Aneh, ya koq bisa begini. Makanya, ikan patin, lele dumbo, nila, yang semuanya ikan invasif, justru lebih berkembang di negara kita,"ujarnya. (Dudy Supriyadi)
Istimewanya, timpal ia dari PDB yang termasuk tumbuhnya terbilang cepat itu berasal dari rumput laut 10,83%, tawes 24,82% dan nilem 7,19%,", ujar lulusan Akademi Perikanan Tanjung Sari tahun 1977 itu. Husen menambahkan kontribusi Jabar terhadap produksi Nasional pada 2009, Ikan nilem sekitar 87,5%, tawes 46,1%, gurame 23,5%, dan tambakan 73,8 %. "Betapa potensi ikan endemik di Jabar itu besar sekali untuk nasional. Eh malah ikan endemik disia-siakan. Bikin mumet ajah," papar Husen. Ditambahkan Husen sudah lama ada Permen KKP No 3 /2010 tetang Perlindungan Jenis Ikan. Termasuk Keputusan Bupati Tasikmalaya 5224/189/1994, ikan gurame itu ikon Tasikmalaya. Husen Lauk yang selama bertahun-tahun gigih berusaha mengembalikan kejayaan ikan endemik di Indonesia seperti Nilem (Osteochilus hasselti), Tambakan (Helostoma temmincki), Tawes (Puntius gonionotus), Gurame (Osphronemus gouramy) dan Beureum panon (Puntius orphoides). Menyangkut saresehan perikanan 23 Desember mendatang, Husen mengingatkan tahun 1990-an, melalui majalah perikanan terbitan Israel, Bamidgeh, sistem pembenahan ikan nilem di Galunggung Tasikmalaya disebut ekselen (hebat – red)”.
Dalam kisahnya, Dr. Bardach dari Israel, Dr. Huet dari Prancis, Dr. Alikunhi dari India, sangat terkesan oleh pembudidayaan ikan nilem “tradisional” di Tasikmalaya. “Saya membacanya di majalah Bamidgeh yang menjadi rujukan ihwal perikanan di dunia. Saya mendampingi mereka pada kunjungannya di Jawa Barat,” jelas Husen Lauk. Dituturkan lagi, sistem Galunggung yang ekselen itu, sejatinya hasil kearifan lokal kolam nilem pemijahan yang diberi pasir. Perintisnya, kata Husen Lauk lagi, “Itu tuh Lurah Jenal di Rancapaku - Leuwisari, Abah Udin di Saladah Cisaruni (alm). Mereka ini kala itu berada di Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya pada era 1950-an”. Husen Lauk menyampaikan, dalam salah satu penerbitan majalah Bamidgeh yang prestisius itu, ”Ada terminology buleng, panyabetan, kereneng, oblok, palet, gomblangan, dan banyak nama-nama peralatan dan cara setempat, masuk pada ranah dunia perikanan internasional. Belum lagi, jelas Husen para pakar kita saat ini melupakan keunggulan para pembudidaya ikan lokal. "Aneh, ya koq bisa begini. Makanya, ikan patin, lele dumbo, nila, yang semuanya ikan invasif, justru lebih berkembang di negara kita,"ujarnya. (Dudy Supriyadi) 




























