Hati-Hati, Emosi Negatif Pengaruhi Kesehatan

Jakarta, Obsessionnews - "Jika seseorang ingin memiliki kesehatan yang baik, pertama ia harus bertanya pada diri sendiri apakah ia siap untuk menghilangkan alasan munculnya penyakit, baru kemudian bagaimana membantunya." - Hippocrates Manusia mengalami berbagai emosi, mulai dari bahagia, sedih, cemas, hingga depresi. Masing-masing emosi menciptakan perasaan yang berbeda di dalam tubuh, dan melepaskan zat kimia yang berbeda. Ketika mengalami hal yang membuat kita bahagia, zat kimia yang dilepaskan tubuh seperti serotonin, dopamin atau oksitosin bekerja menciptakan kondisi nyaman. Sebaliknya, saat stres tubuh akan melepaskan zat kortisol. Zat ini memberi sinyal pada tubuh seakan diri seseorang sedang menghadapi bahaya, dan mengubah mode rileks ke mode survival. Lalu bagaimana ketika kita berpikiran negatif sepanjang waktu? Bagaimana pengaruhnya pada tubuh? Segala hal memiliki pandangan dualitas, positif dan negatif. Sampai batas tertentu, kebanyakan dari kita menilai sesuatu sebagai hal positif maupun negatif. Otak adalah alat yang sangat kuat bekerja mendefinisikan hal tersebut. Dua orang yang menghadapi situasi yang sama dapat memahami keadaan secara berbeda bergantung pada pemikiran masing-masing. Jadi sebenarnya otak yang mendefinisikan sesuatu sebagai hal negatif. Persepsi seseorang tentang pengalaman atau situasi memiliki kekuatan utama bagaimana suatu kondisi dirasakan dan bagaimana pengaruhnya pada tubuh. Sebuah riset di Finlandia membuktikan adanya hubungan kuat antara pikiran dan tubuh. Meskipun tidak terlihat secara visual, pikiran dapat berpengaruh pada fisik. Sebagai contoh, seseorang yang mengalami depresi biasanya mengalami sakit di bagian kepala atau dada. Ketika seseorang marah, detak jantung meningkat, paru-paru menarik oksigen lebih banyak. Hal ini menyebabkan aliran darah meningkat dan bagian dari sistem kekebalan tubuh ditekan sementara. Stres juga mengakibatkan naiknya tekanan darah, kadar kolesterol, serta kadar gula darah. Pada sebagian kasus, keadaan ini memungkinkan munculnya sel tumor, diabetes dan sakit jantung. Bila stres semakin menjadi, sistem kekebalan tubuh menjadi semakin peka terhadap kortisol. Karena peradangan diatur sebagian oleh hormon ini, penurunan sensitivitas meningkatkan respon inflamasi dan bisa menyebabkan peradangan. Perasaan tidak dianggap, rasa tidak aman, takut, kesal, khawatir berlebih, dan dendam juga disinyalir sebagai penyebab beberapa gejala nyeri pada bagian tubuh seperti bahu, punggung, lutut, serta pergelangan tangan dan kaki. Selain menjaga kebugaran dan asupan, memelihara emosi positif dan mengubah persepsi merupakan cara menjaga kondisi kesehatan. Kurangi stres dengan mengidentifikasi apa penyebab stres untuk menemukan solusi dan penyelesaian masalah. Bangun hubungan baik dengan orang-orang di sekitar, serta istirahatkan pikiran. Tak kalah penting lakukan hal-hal yang membuat nyaman, seperti menekuni hobi ataupun berwisata. (ang)





























