Karena Star Wars, Agama Baru pun Lahir

Karena Star Wars, Agama Baru pun Lahir
Jakarta, Obsessionnews - Ketika akal dan pikiran manusia tak mampu lagi menyelesaikan persoalan, di situlah spiritual berperan. Begitu kira-kira riwayat lahirnya kepercayaan di dunia ini. Tapi bagaiman jika kepercayaan yang kemudian menjelma jadi agama lahir setelah sebuah film dirilis berkali-kali. Star Wars yang banyak menyedot pemirsa dan meraup pendapatan kotor sebanyak 3,3 miliar dolar AS atau setara Rp 46,4 triliun mampu melakukan itu. Melahirkan agama yang kabarnya sudah dianut seperempat juta orang di dunia. Jediisme nama keyakinan baru itu. Ide awalnya, didasari sistem kepercayaan jagoan berjubah dan bersenjata 'lightsaber' dalam film Star Wars. Adalah Patrick Day-Childs yang juga memakai nama Jedi, Chi-a serta Amshe pemilik Gereja Jediisme di Inggris. Dia, bergabung dengan kelompok itu sejak 10 tahun lalu hingga akhirnya turut serta membentuk Dewan Gereja Jediisme. Patrick menyebutkan, kepercayaan inti Gereja Jediisme di Inggris adalah emosional tapi damai, ketidak tahuan namun berpengetahyan, gairah tapi tentram, kacau namun harmonis, dan kematian tapi force. "Kami percaya bila Anda mati, Anda memberikan jiwa Anda kepada Force;dalam arti Anda telah meninggalkan jejak di dunia ini dan semua orang akan mengingat Anda, dengan baik atau buruk," begitu kata dia seperti dilansir BBC, Rabu (16/12). Di dalam Jediisme, kata Patrick, tak masalah kalau anggotanya menganut dua agama sekaligus. Misalnya, Jedi Budha. Dan di Inggris menurut dia, banyak orang masuk kelompok ini dengan alasan anarkis atau main-main. Tapi banyak juga yang benar-benar percaya. Layaknya agama kebanyakan, memeluk Jediisme juga ada syaratnya yakni mengunduh satu paket latihan dan menyelesaikan ujian. Hingga saat ini, sudah 250 ribu orang yang melakukannya kemudian dinyatakan lulus. Asal tahu saja, di Inggris ada 176.632 pemeluk Jedi. Di Australia 65 ribu orang, Republik Ceko 15.070 jiwa, dan Kanada 9 ribu orang. Saat memeluk Jediisme, individu tak diwajibkan mengenakan jubah layaknya para jagoan di film Star Wars. Ini, cuma diwajibkan saat ritual digelar. "Salah satu cara yang membantu mereka mengatasi kegelisahan adalah mengenakan tudung," sebut Patrick. Gereja Jediisme di Inggris, juga menjalin hubungan dengan Gereja Sith. Tujuannya, agar setiap pemeluk agama ini lebih mudah memahami kepercayaan yang lahir di abad robot tersebut. Sith dalam film Star Wars adalah kelompok pengguna Force yang mengabdi pada sisi gelap. Di dalam Gereja Sith, tidak dianjurkan individu melakukan pembunuhan. Di sini, hanya ada sugesti yakni, biarkan emosi mengendalikan diri sebab orang mampu mengandalkan emosinya. Setiap hari, Patrick memang 'berdakwah' menyebarkan agama Jedi. Dia mengaku, tak malu. Ketika berdiskusi lantas tiba-tiba muncul topik Jediisme dalam pembicaraan, dia bisa berbicara berjam-jam apalagi saat lawan bicaranya membiarkan. "Saya punya stiker di mobil saya yang berbunyi Saya bersama Jediisme," kata dia. Pasangan Patrick yang bukan penganut Jediisme tak pernah mempersoalkan keyakinannya tersebut. Dan dia berjanji bakal mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai Jedi. Sebab, sederhananya kata dia, Jediisme adalah tentang tolong menolong, dan semua orang ingin anaknya melakukan hal itu. "Ketika mereka tiba pada umur saat mereka bisa memilih kepercayaan sendiri, maka itu terserah mereka sepenuhnya. Tunangan saya tidak punya masalah dengan itu. Dia bukan Jedi," jelas Patrick. Seandainya film Star Wars berjudul The Force Awakens memberi konsep baru soal Jedi di dalam film tersebut, Patrick mengaku bakal meresponnya dengan antusias. Dia bilang, Star Wars bukan cuma soal menonton. Tapi juga tentang perspektif kepercayaan. "Jediisme bukan fan group, ia telah menjadi sesuatu yang lain. Jadi apabila seorang Jedi menjadi jahat dan mereka semua berubah menjadi Sith, kepercayaan kami tidak akan terpengaruh," tutupnya. (Mahbub Junaidi)