Guru dan Masa Depan Pendidikan di Papua

Timika, Obsessionnews - Kekurangan guru di pedalaman Papua, khususnya di Distrik Agimuga, kabupaten Mimika harus menjadi perhatian serius pemerintah. Anak-anak di daerah ini tak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik karena tenaga pengajar tak bisa memenuhi kewajibannya. "Mereka itu (guru) mengajar satu hari libur satu tahun, ini soal di sini, ini yang harus dibuat (dicarikan solusi)," tutur Enduardus Pinimet, warga Amungun, Selasa (15/12/2015). Pinimet prihatin dengan kondisi pendidikan di Distrik Agimuga. Diakuinya, masih belum tersedia infrastruktur bagi kepala sekolah dan rumah guru sekolah dasar di wilayah terpencil dan terisolir sehingga banyak kepala sekolah dan guru meninggalkan tempat tugas yang mengakibatkan tingginya angka ketidakhadiran kepala sekolah dan guru di tempat tugas. "Ini bukan saja di Agimuga tapi di gunung dan pesisi juga begitu. Sama halnya juga dengan petugas medis," ungkapnya. Frans Kilanangame, tokoh masyarakat setempat mengusulkan perlu ditingkatkan monitoring dan evaluasi terhadap tenaga pendidik yang jarang aktif di sekolah. Mengenai permasalahan minimnya guru, perlu adanya pendistribusian guru yang merata di setiap sekolah di Papua. Selain itu, guru harus menyadari bahwa mereka adalah abdi negara. "Waktu menitoring kemarin saya bilang kalau bisa sekolah yayasan ini kita hilangkan, kita taruh sekolah swasta yang lain biar mengajarnya aktif," kata Frans. Seperti yang kita tahu bahwa guru sangat memiliki peran dalam dunia pendidikan. Ruh pendidikan sesungguhnya terletak dipundak guru. Bahkan, baik buruknya atau berhasil tidaknya pendidikan hakikatnya ada di tangan guru. Sebab, sosok guru memiliki peranan yang strategis dalam “mengukir” peserta didik menjadi pandai, cerdas, terampil, bermoral dan berpengetahuan luas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu guru yang tidak lain sebagai salah satu pelaku pendidikan harus siap melayani kebutuhan pendidikan salah satunya mendidik siswa dengan keikhlasan. Sehingga guru akan selalu merasa senang dan tidak terbebani meskipun waktu dan pikirannya ia sumbangkan demi pendidikan. Masalah-masalah yang membelenggu pendidikan di Papua akan mengancam potensi anak-anak Papua untuk tumbuh sebagai insan yang merdeka. Hak mereka untuk memperoleh pendidikan yang layak tidak dapat terpenuhi. Apabila keadaan ini tetap dibiarkan tanpa adanya penanganan maka bisa dipastikan anak-anak Papua tetap dibelenggu lingkaran kebodohan, bahkan akan semakin mengalami keterpurukan. (Has)





























