Distrik Agimuga Diyakini Jadi Sentra Produksi Daging

Distrik Agimuga Diyakini Jadi Sentra Produksi Daging
Timika, Obsessionnews - Distrik Agimuga, Mimika, Provinsi Papua diprediksikan bisa menjadi daerah sentra produksi daging dalam waktu mendatang. Hal itu karena populasi sapi di Distrik tersebut terus mengalami peningkatan. Populasi sapi terus bertambah dari waktu ke waktu seiring dengan pengembangan program pemeliharaan sapi dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). Hingga akhir Desember 2015, Peternak sapi dari kampung Aramsolki dan Amungun, Distrik Agimuga sudah mampu menambah populasi sapi menjadi 109 ekor. "Saat ini kita belum bisa produksi, kita pengembangan dulu suatu saat kalau sudah berkembang ditambah populasi induk betina saya rasa punya peluang," ujar John Arnold Palulungan dari Universitas Negeri Papua (Unipa), Senin (14/12/2015). John Arnold selaku koordinator Kantor Perwakilan Operasonal kerja sama LPMAK - Unipa itu mengatakan kondisi ini bukan tidak mungkin dalam waktu mendatang, Distrik Agimuga menjadi sentra produksi daging yang bisa menyuplai kebutuhan Mimika. Sistem pemeliharaan sapi di Distrik Agimuga dilakukan secara berkelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang dengan dipimpin oleh seorang koordinator. Pembagian ini untuk lebih efektif serta memudahkan pengawasan atas jalannya program pemberdayaan masyarakat LMPAK ini. Dia mengakui minat warga sangat besar untuk mengikuti program LPMAk ini. Namun untuk mempercepat populasi sapi, bibit betina diminta harus ditambah dengan ketersediaan lahan yang besar untuk tempat pemeliharaan. "Pengembalaan sapi di lahan-lahan bekas kebun mereka. Mungkin harus disiapkan satu rinch untuk menampung ternak ini supaya tidak jadi hama bagi masyarakat yang lain, karena yang jadi masalah kalau anaknya masuk ke kebon kan dia merusak," katanya. LPMAK menggandeng Unipa melakukan pendampingan terhadap anggota masing-masing kelompok, termasuk menyediakan ahli madya kesehatan hewan setiap kampung dan seorang sarjana peternakan. Warga penerima bantuan kemudian dilatih dan dibina agar tidak kesulitan dalam hal pengembalaan. "Mereka terus dibina hingga suatu saat nanti (ternak) akan diserahkan kepada masyarakat sendiri," ucap John. (Has)