Praktik Tambang di Kalbar Mengkhawatirkan

Pontianak, Obsessionnews – Praktik pertambangan di Kalimantan Barat (Kalbar) sudah sangat memprihatinkan. Akibatnya dampak lingkungan dari aktivitas pertambangan semakin mengancam keberlangsung hidup masyarakat yang bergantung pada aliran sungai yang ada di Kalbar dan dampaknya juga bagi hewan. Selain itu juga, praktek tambang harus diawasi karena berkenaan dengan kewajiban perusahaan tambang dalam melestarikan lingkungan terhadap izin tambang yang ada. Hal ini diungkapkan Jurubicara LSM Perkumpulan SaMPan Kalbar, Dede Purwansyah, Selasa (8/12). Menurutnya, berbagai permasalahan pertambangan di Kalbar seperti penambangan di luar konsesi, tidak melakukan reklamasi pasca tambang. Selain itu, pihak perusahaan tambang tidak membayar jaminan, serta state loss karena tidak memenuhi kewajiban keuangan. “Kurun 15 tahun terakhir, pertambangan skala industri sangat luar biasa merambah Kalbar dan sampai tahun 2014 terdapat 813 izin usaha pertambangan (IUP) dengan luas kisaran 6,4 juta hektar," jelasnya. Dede yang juga merupakan tim Advokasi dan Transparansi melihat, praktik pertambangan dilakukan dalam skala pertambangan rakyat maupun skala industri yang terlalu banyak akan berdampak pada pembinaan dan pengawasan di lapangan terhadap pemegang IUP di Kalbar. Menurutnya, perkembangan dari lajunya praktik pertambangan yang terjadi akan berkontribusi banyak pada berkurangnya tutupan hutan. Ia meterangkan, tahun 2014 saja hanya tersisa 5,7 juta ha. Sementara rata-rata laju deforestasi dari tahun 2000 sampai 2009 sebesar 149.750 ha dan tahun 2009 sampai 2013 sebesar 106.750 ha. Ia pun berharap kedepan pemerintah daerah harus selektif melihat dampak yang ditimbulkan dari praktik-praktik tambang yang memiliki izin maupun praktik tanpa izin dengan mengedepankan aspek keberlanjutan kehidupan alam dan ekosistem di dalamnya. "Dampak tersebut berupa lubang bekas galian tambang, rusaknya sepadan sungai, pencemaran air, dan juga banyaknya konflik sosial mengakibatkan masyarakat sebagai pengguna dari sumber daya alam tepian sungai, merasa terganggu dan terancam," ungkapnya. (Saufie)





























