KPU Jabar Catat yang Golput pada Pilkada Serentak 2015

Bandung, Obsessionnews - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat (Jabar) akan mendata sejumlah pemilih yang golput pada Pilkada serentak 9 Desember 2015, menyusul pengalaman Pilkada di beberapa daerah yang hanya 46 persen pemilih yang menyalurkan hal suaranya. "Di daerah-daerah tertentu yang tingkat kehadirannya dramatis, kita akan catat dan akan di evaluasi terutama hal-hal yang luar biasa, seperti di Bekasi," tegas Komisioner KPU Jabar Aang Ferdinan kepada sejumlah wartawan di kantor KPU Jabar Jalan Garut kota Bandung, Selasa (8/12). Menurutnya, KPU mengaku khawatir akan penyebab ketidakhadiran tersebut, sosialisi yang kurang atau ada faktor lain seperti sinyal telepon dan lain-lain. Pengegekan warga yang golput dilakukan pada daftar hadir di TPS. "Intinya jangan sampai ada warga yang tidak tahu atau karena dihambat, sehingga KPU perlu mengevaluasi," cetusnya. Menyinggung masalah persiapan Pilkada serentak, Aang menilai sudah 99 persen dan tinggal menggenapkan 100 persen pada besok hari. Menurutnya selama kampanye berlangsung kurang lebih 5 bulan dan berakhir tanggal 5 Desember 2015 lalu, tidak ada hal yang mencolok dan mengganggu jalannya pesta demokrasi di Jabar. "Saya juga sudah bekerjasama dengan pihak BPBD jabar apabila bencana yang mungkin saja terjadi, seperti banjir dan longsor di beberapa daerah rawan untuk segera memindahkan TPS," ujarnya. [caption id="attachment_80505" align="aligncenter" width="640"]
Aang KPU Jabar[/caption] Begitupun teknis di lapangan, seperti Pilkada di Kabupaten Tasikmalaya yang hanya ada satu pasangan. "Kalau banyak yang memilihnya berarti terpilih, tetapi apabila sedikit kita akan serahkan ke Gubernur Jabar, karena kalau satu pasangan surat suaranya setuju atau tidak setuju," ucapnya. Kabupaten Tasikmalaya paling terakhir mengalami persiapan karena harus menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi atas kisruh Partai Golkar. Diantara 8 Kota Kabupaten penyelenggara Pilkada serentak di Jabar, Kabupaten Cianjur merupakan daerah tertinggi rawan konflik disusul Indramayu dan Pangandaran. Pengandaran baru pertama mengadakan Pilkada pasca pemekaran dari Ciamis. Sementara untuk jumlah pemilih di Jabar mencapai 11 juta orang lebih, diantaranya di Kabupaten Bandung mencapai 2,6 juta pemilih, 1098 TPS yang tersebar di 178 Desa. Kota Kabupaten yang menggelar Pilkada serentak di Jabar, yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Karawang, Kabupaten Sukabumi, Kota Depok, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Tasikmalaya. (Dudy Supriyadi)
Aang KPU Jabar[/caption] Begitupun teknis di lapangan, seperti Pilkada di Kabupaten Tasikmalaya yang hanya ada satu pasangan. "Kalau banyak yang memilihnya berarti terpilih, tetapi apabila sedikit kita akan serahkan ke Gubernur Jabar, karena kalau satu pasangan surat suaranya setuju atau tidak setuju," ucapnya. Kabupaten Tasikmalaya paling terakhir mengalami persiapan karena harus menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi atas kisruh Partai Golkar. Diantara 8 Kota Kabupaten penyelenggara Pilkada serentak di Jabar, Kabupaten Cianjur merupakan daerah tertinggi rawan konflik disusul Indramayu dan Pangandaran. Pengandaran baru pertama mengadakan Pilkada pasca pemekaran dari Ciamis. Sementara untuk jumlah pemilih di Jabar mencapai 11 juta orang lebih, diantaranya di Kabupaten Bandung mencapai 2,6 juta pemilih, 1098 TPS yang tersebar di 178 Desa. Kota Kabupaten yang menggelar Pilkada serentak di Jabar, yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Karawang, Kabupaten Sukabumi, Kota Depok, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Tasikmalaya. (Dudy Supriyadi) 




























