Serunya Sosialisasi Pilkada Bagi Penyandang Disabilitas

Sesekali, beberapa dari mereka mengacungkan tangan, seraya meminta penjelasan informasi. Ada yang paham, ada pula yang masih terbengong, meski petugas berulang kali menjabarkan. Maklum saja, ratusan pria wanita berbagai usia itu adalah penyandang disabilitas yang musti belajar mencoblos, agar dapat menyalurkan hak pilihnya kelak.Semarang, Obsessionnews - Begitulah kiranya sedikit gambaran sosialisasi yang diberikan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang kepada puluhan anggota masyarakat minoritas, penyandang tunarungu, tunanetra dan cacat fisik. Meski memiliki kekurangan fisik, antusiasme peserta tak surut mengikuti acara di aula Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. Alunan musik The Bas Band, yang melantunkan lagu-lagu klasik sebelum acara dimulai membuat peserta yang didominasi tunanetra girang ikut bernyanyi. The Bas Band sendiri bukan sembarang grup musik. Mereka terdiri dari para tunanetra yang ikut meramaikan kegiatan pada Sabtu (5/12/2015). Sebut saja seorang tunanetra yang masih belia, Rena Trisetyo Maryana, mengaku senang dengan kegiatan yang difasilitasi KPU ini. Sebagai warga yang baru pertama kali menggunakan hak pilih, ia merasa sangat terbantu dengan bimbingan penggunaan alat bantu template. "Udah ada gambaran akunya harus gimana, jadi tahu," tutur dara yang juga mahasiswi di Universitas Dian Noeswantoro ini. Begitu pula Anis yang juga penyandang tunanetra. Gadis muda ini sebelumnya sudah beberapa kali mengikuti pemilihan legislatif. Ia sempat kewalahan saat harus memakai alat bantu template besar. Sehingga, alat bantu dengan huruf braille ini diakuinya memberikan manfaat besar. "Dalam satu waktu kita tunanetra harus belajar apa saja jenis template yang gede itu. Lumayan susah awalnya. Tapi sesudah diberi pengarahan jadi bisa," tuturnya tersenyum manis.
Ketua KPU Kota Semarang, Henry Wahyono dalam sambutannya mengatakan, sudah saatnya masyarakat terpinggirkan ikut berpartisipasi dalam kemeriahan pesta demokrasi. Sebab, suara mereka ikut menentukan keberlangsungan Kota Semarang di masa depan. "Saudara-saudaraku harus turut mencoblos. Karena suara anda sekalian sangat penting untuk kota kita tercinta," ujarnya disambut gemuruh tepuk tangan. Sepanjang acara, peserta diberi banyak pembekalan, terutama cara mencoblos yang baik dan benar. Tak luput, penyajian contoh template surat suara bagi pencoblos tunanetra. Ternyata, khusus surat suara tunanetra, telah diberi huruf braille untuk memudahkan mereka menorehkan pilihan. Yang menarik, beberapa penyandang tunarungu sempat "protes" dengan berdiskusi dalam satu kelompok. Memang, salah satu dari mereka mengajukan pertanyaan terkait status libur pada hari Pilkada mendatang Terpisah, Komisioner KPU Kota Semarang, Siti Prihatiningtyas menambahkan, pihaknya mengundang 150 peserta dari berbagai penderita disabilitas. Siti yang juga memberikan materi sosialisasi memandang, banyak kalangan disabilitas masih banyak yang belum paham terkait tata cara pencoblosan. "Jadi kebalik balik. Yang menurut KPU sah malah dikira mereka sah. Tapi setelah diberi pengertian, mereka Insya Allah sudah bisa (untuk mencoblos)," terangnya. Diakuinya, melalui sosialisasi mampu mengurangi tingkat kecurangan saat Pilkada kelak. Pasalnya, seringkali penyandang difabel dipandang sebelah mata dan dianggap tidak penting. Sehingga, saat pencoblosan hak mereka tidak diakomodir dengan baik. "Tapi kita dari KPU sudah sosialisasi ke tingkat kebawah. Kita ada prinsip aksesibilitas. Jadi untuk penyandang disabilitas harus mendapat perlakuan sama," tandas wanita berkerudung itu. (Yusuf IH)
Ketua KPU Kota Semarang, Henry Wahyono dalam sambutannya mengatakan, sudah saatnya masyarakat terpinggirkan ikut berpartisipasi dalam kemeriahan pesta demokrasi. Sebab, suara mereka ikut menentukan keberlangsungan Kota Semarang di masa depan. "Saudara-saudaraku harus turut mencoblos. Karena suara anda sekalian sangat penting untuk kota kita tercinta," ujarnya disambut gemuruh tepuk tangan. Sepanjang acara, peserta diberi banyak pembekalan, terutama cara mencoblos yang baik dan benar. Tak luput, penyajian contoh template surat suara bagi pencoblos tunanetra. Ternyata, khusus surat suara tunanetra, telah diberi huruf braille untuk memudahkan mereka menorehkan pilihan. Yang menarik, beberapa penyandang tunarungu sempat "protes" dengan berdiskusi dalam satu kelompok. Memang, salah satu dari mereka mengajukan pertanyaan terkait status libur pada hari Pilkada mendatang Terpisah, Komisioner KPU Kota Semarang, Siti Prihatiningtyas menambahkan, pihaknya mengundang 150 peserta dari berbagai penderita disabilitas. Siti yang juga memberikan materi sosialisasi memandang, banyak kalangan disabilitas masih banyak yang belum paham terkait tata cara pencoblosan. "Jadi kebalik balik. Yang menurut KPU sah malah dikira mereka sah. Tapi setelah diberi pengertian, mereka Insya Allah sudah bisa (untuk mencoblos)," terangnya. Diakuinya, melalui sosialisasi mampu mengurangi tingkat kecurangan saat Pilkada kelak. Pasalnya, seringkali penyandang difabel dipandang sebelah mata dan dianggap tidak penting. Sehingga, saat pencoblosan hak mereka tidak diakomodir dengan baik. "Tapi kita dari KPU sudah sosialisasi ke tingkat kebawah. Kita ada prinsip aksesibilitas. Jadi untuk penyandang disabilitas harus mendapat perlakuan sama," tandas wanita berkerudung itu. (Yusuf IH) 




























