Fachmi Idris, Dedikasi Sang Dokter Aktivis (Bagian 4)

"Saya Mengalir Saja..."Humble, begitulah Fachmi saat diminta bercerita tentang kariernya hingga ia bisa menduduki posisi sebagai Direktur Utama BPJS Kesehatan. “Saya merasa biasa-biasa saja, haha..” tawanya lepas. Ia semula tak mau bercerita. “Saya nggak mau riya (menonjolkan diri-red), ” imbuhnya. Namun dengan berbagai alasan yang dilontarkan Men’s Obsession akhirnya Fachmi mau juga bercerita dengan catatan tidak menulisnya secara berlebihan dan lebih kepada yang telah dan akan dikerjakannya. Sejurus kemudian, selepas menyeruput kopi hitam kesukaannya, Fachmi bercerita dan berikut kutipannya. [caption id="attachment_78307" align="alignnone" width="448"]
Bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.[/caption] Bisa ceritakan sedikit perjalanan Anda hingga saat ini? Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Karena saya merasa biasa saja sebetulnya. Bukan tidak bersyukur, tapi saya itu orangnya ya mengalir saja. Never cross in my mind menjadi Direktur Utama. Kalau asal muasalnya, ketika saya menjadi komisaris independen di PT Askes tahun 2008 atas permintaan Menteri Kesehatan. Saya dianggap sebagai dokter ya kebetulan pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) banyak anggotanya dan banyak mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan program ini, nah saya diminta membantu mengawasi. Ada pengalaman yang menginspirasi Anda sebelum bergabung di Askes? Ada cerita menarik pada tahun 2003, sebelum saya di Askes. Waktu itu masih Wakil Ketua Umum IDI, tapi sudah sebagai ketua terpilih diutus untuk menghampiri World Medical Congress, ikatan dokter sedunia, oleh Medical Association di Denmark. Waktu itu saya berkenalan dengan Profesor Blacos, dia itu Presiden World Medical Association. Dia berasal dari Republik Czech. Dia tanya,"Kamu dari mana?” “Ya, saya dari Indonesia Medical Association”. Lalu dia tanya lagi,“How many total population in indonesia?” Saya jawab 200 juta orang. Dia kaget. “Wah banyak ya dari indonesia”. Dia lanjut bertanya,“How many person in indonesia cover by insurance?” [caption id="attachment_78308" align="alignnone" width="640"]
Bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi).[/caption] Padahal waktu itu saya belum di Askes, tapi karena saya dosen yang mengajarkan tentang sistem kesehatan. Jadi di kedokteran komunitas itu ada sub bagian yang memang memberikan mata kuliah tentang health system, dan saya pengajar di health system, segala sesuatu yang saya ajar seperti sistem pelayanan, sistem pembiayaan, bagaimana menghasilkan pelayanan yang bermutu, jadi basic-nya teoritis tentang apa itu sistem pelayanan, public healthfinance mau medical service finance, yang kita bicarakan medical service finance. Saya waktu itu otomatis secara teoritis saya jawab seperti itu yang saya ketahui yang terstruktur itu PT Askes, ada sekitar 10 juta ada lagi Jamsostek waktu itu saya jawab 6 jutaan kurang lebih. Dia kaget, dia bilang,"Less 10 percent Indonesian people cove by insurance.” Kurang dari 10 persen, ya ada commercial insurance tapi tak banyak, ya saya pikir 2 juta, ini pertanyaan yang bikin saya merinding ya. Kemudian saya tidak pernah lupa, dia ngomong begini,“In your passion will be getting lose, they dont have any money, what would you do.” Setiap dokter pasti ngomong“mati” kamu dokter kamu ngapain, itu ya mungkin buat saya hidayah di situ. Dokter itu nggak mungkin ngebebasin jasa medis, mungkin sekali dua kali, tapi begitu butuh obat dan lainnya, mungkin sekali dua kali bisa bantu ya tapi setiap kali tak mungkin, itu nggak profesional. Orang yang profesional itu orang yang hidup dari nafkahnya, itulah statement yang nggak pernah lupa, mungkin itulah ya, Tuhan membawa kesitu. Dan masuklah saya sebagai komisaris Askes. Ada hal menarik saat menjabat Komisaris Askes? Begini, dulu pertama kali saya duduk sebagai komisaris, itu yang namanya interaksi dengan jajaran direksi hanya 3 bulan sekali. Karena kita mengenal laporan perbulan yang harus kita approve, yang dilaporkan ke Kementerian BUMN. Nah, di situ saya lihat kalau 3 bulan sekali rapat kita tidak dapat memahami institusi itu lebih dalam, interaksi kita dangkal sekali hanya melihat kertas kemudian rapat selesai. Salah seorang deputi kemudian mengingatkan saya itu kalau menjadi komisaris upayakan menjadi anggota komite, karena anggota komite di dalam. Benar, setelah saya di komite, saya minta rapat komisaris sebulan sekali, jangan 3 bulan sekali, agar ada report bulanan direksi. Ada yang tidak setuju. Saya bilang, maaf, komisaris kan 30 persen dari gaji direksi, menurut saya dengan gaji sebesar itu kok terlalu besar ya jika kami hanya rapat 3 bulan sekali? Akhirnya setuju, mulailah sebulan sekali, setelah itu lambat laun akhirnya komisaris rapat seminggu sekali. Akhirnya temen-temen seneng juga dengan segala waktu terbatas akhirnya mengosongkan setiap bulan. Kemudian saya diangkat menjadi anggota DJSN (Dewan Jaminan Sosial Nasional), mempersiapkan lahirnya pelaksanaan sistem jaminan sosial nasional, disitu saya membuat komite kajian dan penelitian. Secara makro saya semakin memperdalam background akademis saya di situ, kemudian semakin diperkaya dengan berbagai interaksi tentang jaminan sosial kemudian tahun 2012 ada pergantian direksi, kami komisaris ditugaskan menjadi tim fit n proper, menyeleksi calon-calon direksi, untuk memberikan short list kepada pemegang saham. Nah disini sejarah mulai sebenarnya. Maksudnya? Waktu itu semua orang gelisah. Karena Askes ketika itu sedang siap melakukan transformasi, ditambah lagi harus ganti direksi dan belum ada langkah-langkah konkret dari pemerintah. Ada Undang- Undang di tahun 2004, tiba-tiba keluar lagi UU di tahun 2011. Sementara DJSN sendiri yang dibawah presiden belum pernah bertemu presiden, kemudian Askes pun belum jadi BPJS, ditambah lagi belum ada pergerakan yang tepat untuk mengantisipasi tahun 2014. Karena tanggal 1 januari 2014 kan harus mulai, sementara akhir 2012 ini tanda-tandanya belum kelihatan. Di sisi lain, Dirut Askes saat itu Pak Gede Subawa sudah tak bisa lagi diperpanjang karena faktor umur. Harus diganti. Padahal waktunya sendiri tanggung, tinggal setahun lagi. Saya inginnya Pak Gede diperpanjang setahun. Ternyata ada hambatan umur, tidak boleh melanggar ketentuan. Tiba-tiba dari Kementerian Kesehatan, Pak Farid Hussein menelepon saya dan mengingatkan kondisi di Askes bisa gawat dan harus ada Dirut dan minta saya sebagai Dirutnya. Saya kaget. Saya bilang bahwa saya tidak ada rencana ke sana (jadi Dirut-red). Kemudian masih di tahun 2012, saya ditelepon dari orang kementerian, ketika saya sedang jalan ke Bogor. Intinya mengabarkan karena saya bukan pegawai Askes, maka untuk menjadi Dirut harus ikut tes oleh pihak ke 3 dan saya harus biayai sendiri. Anda mau? Saya nggak mau waktu itu, saya kebetulan agak trauma, saya pernah diumumkan menjadi wakil Menteri Kesehatan udah tanda tangan pakta integritas, semua udah beres tinggal dilantik eh tidak jadi. Sampai saat ini saya tidak tahu alasannya, di luar teknis lah, pokoknya ada alasan politik, bisa dirasakan tapi tidak boleh diungkapkan. Nanti setelah ini saya mau tanya sama pak SBY apa sebenarnya alasan saya tidak dilantik. Ya, kalau bicara tanda kutip ya terzalimilah. Tapi saya nggak pernah ungkap. Waktu itu Anda nggak ada dukungan dari kekuatan politik? Nggak ada sama sekali. Ada cerita, ketika nama saya masuk sebagai calon Dirut PT Askes, kan harus persetujuan Presiden, Pak SBY ketika itu. Saya bangga dengan pak SBY, ketika nama saya masuk lagi ke beliau, padahal dulu batal jadi wakil menteri. Alhamdulillah, keluarlah Surat Keputusan. Oleh Pak Dahlan Iskan waktu itu Menteri BUMN saya disuruh tentukan calon direksi sendiri, pesen Pak Dahlan kalau ada deputi yang nitip nama kasih tahu ke saya. Akhirnya saya wawancarai satu persatu calon direksi. Suasana enak waktu itu. Jadi solidaritas tim ini penting. Kemudian pada tanggal 17 Januari 2013, tantangannya luar biasa, di satu sisi sebagai BUMN saya harus sukses, target mesti tercapai, di sisi lain saya harus mempersiapkan transformasi yang juga luar biasa. Untungnya saya tertopang sama sumber daya yang luar biasa, General Manager dan direksi saya itu memang orang-orang yang terpilih. 90 persen itu memang qualified bekerja, siap bekerja, all out. Jadi saya langsung tanamkan transformasi tahun ini, transformasi struktur cultural namanya. Saya buat secara khusus organisasi yang setingkat General Manager untuk mengawal proses transformasi ini. Anda optimis 1 Januari 2019 transformasi sudah beres? Kalau itu, harus selesai! Itu yang saya jawab waktu saya ditanya tentang visi misi. Jadi memang harus terus menjelaskan. Sebenarnya begini, pertama harus melakukan Educated Government, paling berat itu, karena kita harus bersosialisasi, mengedukasi government. Kedua, empowerment, nah itu dia pekerjaan yang tak pernah berhenti. Kemudian yang ketiga energizing di tengah instuition. Temen-temen ini pekerja yang luar biasa sebenernya. Mereka bisa pulang pukul 9 sampai pukul 10 malam. Karena peserta yang kita kelola terus bertambah dari 16,4 juta menjadi 112 juta terus bertambah di luar ekspektasi kita, target kita 121 juta orang kemudian yang mendaftar sampai 133 juta orang. Sekarang di tahun 2015 ini kita mulai hati-hati, karena pertumbuhan peserta yang tinggi. Ini bisa jadi masalah baru, karena orang sudah bayar harus dapat pelayanan, ini kami harus bicara. Ini kalau 100 persen di bawah kontrol kita me-manage peserta, kita harus perbaiki terus, ada Kementerian Kesehatan sebagai regulator, kemudian juga operator pelayanan yang ada di rumah sakit vertikal, kemudian ada Pemda, kemudian sektor swasta, ini kan harus kita bawa. Kalau kita tidak bisa me-manage peningkatan kepesertaan dengan baik itu akan menjadi ancaman. Nah, kita bersyukur punya BPJS, kita sudah hitung tahun sekian yang direkrut sekian, jadi tahapannya jelas, kita konsisten dengan program itu dan kita over target. Target 120 juta yang daftar 133 juta. Tahun ini kan targetnya 168 juta, kita harus liat kalau segmen yang membatasi itu kita mesti stop. (Sahrudi) Baca juga: Fachmi Idris, Dedikasi Sang Dokter Aktivis (Bagian 1)Fachmi Idris, Dedikasi Sang Dokter Aktivis (Bagian 2)Fachmi Idris, Dedikasi Sang Dokter Aktivis (Bagian 3)
Bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.[/caption] Bisa ceritakan sedikit perjalanan Anda hingga saat ini? Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Karena saya merasa biasa saja sebetulnya. Bukan tidak bersyukur, tapi saya itu orangnya ya mengalir saja. Never cross in my mind menjadi Direktur Utama. Kalau asal muasalnya, ketika saya menjadi komisaris independen di PT Askes tahun 2008 atas permintaan Menteri Kesehatan. Saya dianggap sebagai dokter ya kebetulan pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) banyak anggotanya dan banyak mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan program ini, nah saya diminta membantu mengawasi. Ada pengalaman yang menginspirasi Anda sebelum bergabung di Askes? Ada cerita menarik pada tahun 2003, sebelum saya di Askes. Waktu itu masih Wakil Ketua Umum IDI, tapi sudah sebagai ketua terpilih diutus untuk menghampiri World Medical Congress, ikatan dokter sedunia, oleh Medical Association di Denmark. Waktu itu saya berkenalan dengan Profesor Blacos, dia itu Presiden World Medical Association. Dia berasal dari Republik Czech. Dia tanya,"Kamu dari mana?” “Ya, saya dari Indonesia Medical Association”. Lalu dia tanya lagi,“How many total population in indonesia?” Saya jawab 200 juta orang. Dia kaget. “Wah banyak ya dari indonesia”. Dia lanjut bertanya,“How many person in indonesia cover by insurance?” [caption id="attachment_78308" align="alignnone" width="640"]
Bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi).[/caption] Padahal waktu itu saya belum di Askes, tapi karena saya dosen yang mengajarkan tentang sistem kesehatan. Jadi di kedokteran komunitas itu ada sub bagian yang memang memberikan mata kuliah tentang health system, dan saya pengajar di health system, segala sesuatu yang saya ajar seperti sistem pelayanan, sistem pembiayaan, bagaimana menghasilkan pelayanan yang bermutu, jadi basic-nya teoritis tentang apa itu sistem pelayanan, public healthfinance mau medical service finance, yang kita bicarakan medical service finance. Saya waktu itu otomatis secara teoritis saya jawab seperti itu yang saya ketahui yang terstruktur itu PT Askes, ada sekitar 10 juta ada lagi Jamsostek waktu itu saya jawab 6 jutaan kurang lebih. Dia kaget, dia bilang,"Less 10 percent Indonesian people cove by insurance.” Kurang dari 10 persen, ya ada commercial insurance tapi tak banyak, ya saya pikir 2 juta, ini pertanyaan yang bikin saya merinding ya. Kemudian saya tidak pernah lupa, dia ngomong begini,“In your passion will be getting lose, they dont have any money, what would you do.” Setiap dokter pasti ngomong“mati” kamu dokter kamu ngapain, itu ya mungkin buat saya hidayah di situ. Dokter itu nggak mungkin ngebebasin jasa medis, mungkin sekali dua kali, tapi begitu butuh obat dan lainnya, mungkin sekali dua kali bisa bantu ya tapi setiap kali tak mungkin, itu nggak profesional. Orang yang profesional itu orang yang hidup dari nafkahnya, itulah statement yang nggak pernah lupa, mungkin itulah ya, Tuhan membawa kesitu. Dan masuklah saya sebagai komisaris Askes. Ada hal menarik saat menjabat Komisaris Askes? Begini, dulu pertama kali saya duduk sebagai komisaris, itu yang namanya interaksi dengan jajaran direksi hanya 3 bulan sekali. Karena kita mengenal laporan perbulan yang harus kita approve, yang dilaporkan ke Kementerian BUMN. Nah, di situ saya lihat kalau 3 bulan sekali rapat kita tidak dapat memahami institusi itu lebih dalam, interaksi kita dangkal sekali hanya melihat kertas kemudian rapat selesai. Salah seorang deputi kemudian mengingatkan saya itu kalau menjadi komisaris upayakan menjadi anggota komite, karena anggota komite di dalam. Benar, setelah saya di komite, saya minta rapat komisaris sebulan sekali, jangan 3 bulan sekali, agar ada report bulanan direksi. Ada yang tidak setuju. Saya bilang, maaf, komisaris kan 30 persen dari gaji direksi, menurut saya dengan gaji sebesar itu kok terlalu besar ya jika kami hanya rapat 3 bulan sekali? Akhirnya setuju, mulailah sebulan sekali, setelah itu lambat laun akhirnya komisaris rapat seminggu sekali. Akhirnya temen-temen seneng juga dengan segala waktu terbatas akhirnya mengosongkan setiap bulan. Kemudian saya diangkat menjadi anggota DJSN (Dewan Jaminan Sosial Nasional), mempersiapkan lahirnya pelaksanaan sistem jaminan sosial nasional, disitu saya membuat komite kajian dan penelitian. Secara makro saya semakin memperdalam background akademis saya di situ, kemudian semakin diperkaya dengan berbagai interaksi tentang jaminan sosial kemudian tahun 2012 ada pergantian direksi, kami komisaris ditugaskan menjadi tim fit n proper, menyeleksi calon-calon direksi, untuk memberikan short list kepada pemegang saham. Nah disini sejarah mulai sebenarnya. Maksudnya? Waktu itu semua orang gelisah. Karena Askes ketika itu sedang siap melakukan transformasi, ditambah lagi harus ganti direksi dan belum ada langkah-langkah konkret dari pemerintah. Ada Undang- Undang di tahun 2004, tiba-tiba keluar lagi UU di tahun 2011. Sementara DJSN sendiri yang dibawah presiden belum pernah bertemu presiden, kemudian Askes pun belum jadi BPJS, ditambah lagi belum ada pergerakan yang tepat untuk mengantisipasi tahun 2014. Karena tanggal 1 januari 2014 kan harus mulai, sementara akhir 2012 ini tanda-tandanya belum kelihatan. Di sisi lain, Dirut Askes saat itu Pak Gede Subawa sudah tak bisa lagi diperpanjang karena faktor umur. Harus diganti. Padahal waktunya sendiri tanggung, tinggal setahun lagi. Saya inginnya Pak Gede diperpanjang setahun. Ternyata ada hambatan umur, tidak boleh melanggar ketentuan. Tiba-tiba dari Kementerian Kesehatan, Pak Farid Hussein menelepon saya dan mengingatkan kondisi di Askes bisa gawat dan harus ada Dirut dan minta saya sebagai Dirutnya. Saya kaget. Saya bilang bahwa saya tidak ada rencana ke sana (jadi Dirut-red). Kemudian masih di tahun 2012, saya ditelepon dari orang kementerian, ketika saya sedang jalan ke Bogor. Intinya mengabarkan karena saya bukan pegawai Askes, maka untuk menjadi Dirut harus ikut tes oleh pihak ke 3 dan saya harus biayai sendiri. Anda mau? Saya nggak mau waktu itu, saya kebetulan agak trauma, saya pernah diumumkan menjadi wakil Menteri Kesehatan udah tanda tangan pakta integritas, semua udah beres tinggal dilantik eh tidak jadi. Sampai saat ini saya tidak tahu alasannya, di luar teknis lah, pokoknya ada alasan politik, bisa dirasakan tapi tidak boleh diungkapkan. Nanti setelah ini saya mau tanya sama pak SBY apa sebenarnya alasan saya tidak dilantik. Ya, kalau bicara tanda kutip ya terzalimilah. Tapi saya nggak pernah ungkap. Waktu itu Anda nggak ada dukungan dari kekuatan politik? Nggak ada sama sekali. Ada cerita, ketika nama saya masuk sebagai calon Dirut PT Askes, kan harus persetujuan Presiden, Pak SBY ketika itu. Saya bangga dengan pak SBY, ketika nama saya masuk lagi ke beliau, padahal dulu batal jadi wakil menteri. Alhamdulillah, keluarlah Surat Keputusan. Oleh Pak Dahlan Iskan waktu itu Menteri BUMN saya disuruh tentukan calon direksi sendiri, pesen Pak Dahlan kalau ada deputi yang nitip nama kasih tahu ke saya. Akhirnya saya wawancarai satu persatu calon direksi. Suasana enak waktu itu. Jadi solidaritas tim ini penting. Kemudian pada tanggal 17 Januari 2013, tantangannya luar biasa, di satu sisi sebagai BUMN saya harus sukses, target mesti tercapai, di sisi lain saya harus mempersiapkan transformasi yang juga luar biasa. Untungnya saya tertopang sama sumber daya yang luar biasa, General Manager dan direksi saya itu memang orang-orang yang terpilih. 90 persen itu memang qualified bekerja, siap bekerja, all out. Jadi saya langsung tanamkan transformasi tahun ini, transformasi struktur cultural namanya. Saya buat secara khusus organisasi yang setingkat General Manager untuk mengawal proses transformasi ini. Anda optimis 1 Januari 2019 transformasi sudah beres? Kalau itu, harus selesai! Itu yang saya jawab waktu saya ditanya tentang visi misi. Jadi memang harus terus menjelaskan. Sebenarnya begini, pertama harus melakukan Educated Government, paling berat itu, karena kita harus bersosialisasi, mengedukasi government. Kedua, empowerment, nah itu dia pekerjaan yang tak pernah berhenti. Kemudian yang ketiga energizing di tengah instuition. Temen-temen ini pekerja yang luar biasa sebenernya. Mereka bisa pulang pukul 9 sampai pukul 10 malam. Karena peserta yang kita kelola terus bertambah dari 16,4 juta menjadi 112 juta terus bertambah di luar ekspektasi kita, target kita 121 juta orang kemudian yang mendaftar sampai 133 juta orang. Sekarang di tahun 2015 ini kita mulai hati-hati, karena pertumbuhan peserta yang tinggi. Ini bisa jadi masalah baru, karena orang sudah bayar harus dapat pelayanan, ini kami harus bicara. Ini kalau 100 persen di bawah kontrol kita me-manage peserta, kita harus perbaiki terus, ada Kementerian Kesehatan sebagai regulator, kemudian juga operator pelayanan yang ada di rumah sakit vertikal, kemudian ada Pemda, kemudian sektor swasta, ini kan harus kita bawa. Kalau kita tidak bisa me-manage peningkatan kepesertaan dengan baik itu akan menjadi ancaman. Nah, kita bersyukur punya BPJS, kita sudah hitung tahun sekian yang direkrut sekian, jadi tahapannya jelas, kita konsisten dengan program itu dan kita over target. Target 120 juta yang daftar 133 juta. Tahun ini kan targetnya 168 juta, kita harus liat kalau segmen yang membatasi itu kita mesti stop. (Sahrudi) Baca juga: Fachmi Idris, Dedikasi Sang Dokter Aktivis (Bagian 1)Fachmi Idris, Dedikasi Sang Dokter Aktivis (Bagian 2)Fachmi Idris, Dedikasi Sang Dokter Aktivis (Bagian 3)




























