Yuk Nikmati Belanja di Pasar Apung

Banjarmasin, Obsessionnews - Belum punya rencana mengisi liburan akhir tahun. Coba deh, ke Pasar Apung, sebuah pasar di tengah sungai yang telah menjadi obyek wisata sejak dahulu kala. Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, terdapat beberapa Pasar Apung yang menjadi tujuan favorit para turis, diantaranya Pasar Apung Quin yang terletak di atas Sungai Barito di muara sungai Quin. [caption id="attachment_77418" align="alignleft" width="644"]
Kegiatan Perdagangan di Pasar Terapung Muara Kuin[/caption] Aktivitas di pasar apung Quin dimulai sejak sebelum matahari terbit hingga pukul 09.00 WITA setiap harinya. Menikmati keindahan pasar apung di tengah-tengah sungai barito saat matahari pagi baru bersinar, menjadi sebuah pemandangan yang indah dan eksotis. Keindahan cahaya sinar matahari di sepanjang sungai Quin, menambah pengalaman wisata dan belanja di pasar apung menjadi lebih berkesan. Ya, jika ingin mengunjungi pasar apung, memang disarankan tiba sebelum matahari terbit agar bisa mendapat moment tersebut dan menyaksikan indahnya keramaian pasar di tengah-tengah cahaya matahari pagi. Ingin berwisata ke pasar apung Quin, Anda bisa menempuhnya dengan menggunakan perahu dari dua titik, yaitu dari depan Masjid Sultan Suriansyah dan dari Dermaga. Terdapat dua jenis perahu yang bisa digunakan dengan harga sewa yang bervariasi, mulai dari Rp.200.000, untuk perahu kecil atau kelotok dengan kapasitas 6 orang, hingga Rp.500.000 untuk perahu besar dengan kapasitas hingga 15 orang. Dari mulut darmaga menuju pasar Quin, menempuh jarak sekitar 3 km dengan memakan waktu kurang lebih 30 menit menggunakan perahu besar. Sedangkan jika menggunakan kelotok mungkin akan lebih lama, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit hingga 1 jam. Sepanjang perjalanan menuju pasar Apung, Anda dapat menikmati pemandangan sepanjang muara sungai Quin – Sungai Barito, beserta kehidupan masyarakat yang tinggal di sepanjang tepian sungai dengan suasana pedesaan. Sepanjang jalan itu, Anda akan melihat langsung aktivitas penduduk yang tinggal di rumah-rumah kayu di pinggir sungai, seperti mencuci. Namun sayangnya, sepanjang perjalanan masih banyak ditemukan sampah-sampah yang menggenangi sungai tersebut, sehingga sangat mengganggu pemandangan keindahan muara sungai Quin. Setiba di pasar apung Quin di tengah sungai Barito, layaknya pasar, Anda akan menemukan banyak pedagang di atas kelotok. Mereka berdagang berkerumun di tengah sungai dengan kelotok-nya masing-masing. Aneka dagangan ditawarkan, mulai dari sayuran, buah-buahan, makanan ringan, minuman seperti kopi dan teh hingga cinderamata. Menurut Udin, salah satu pemilik perahu yang sudah 15 tahun mengemudi untuk pengunjung pasar apung Quin ini, sayur dan buah-buahan yang dijual tersebut, kebanyakan dari hasil kebun mereka masing-masing. Yang menarik, di pasar Apung Quin juga terdapat warung makan yang menjual nasi lengkap dengan lauknya, hingga makanan khas Kalimantan Selatan, Soto Banjar. baca juga: Wah, Masyarakat AS Ternyata 'Gandrung' Hantu dan Mistik Pengakuan Heni tentang Rumah Hantu di Bekasi FOTO Wisata Pancing Gratis di Jakarta Wisata Halal Harus DikembangkanPresiden Canangkan Kawasan Wisata Mandeh Nikmati sensasi menyantap soto Banjar atau makanan lainnya di atas perahu yang bergoyang-goyang terbawa ombak kecil, menjadi pengalaman berkesan yang tidak didapatkan dari warung makan biasa di daratan. Ya, di sinilah Anda akan berpetualang, berhadapan dengan situasi bagaimana rasanya berbelanja di atas sungai, melakukan kegiatan jual beli dari perahu ke perahu tentunya harus cekatan mengambil belanjaan dan melakukan transaksi dari atas perahu. Pasar apung Quin beroperasi setiap hari, namun ramai dikunjungi pada saat weekend yang biasanya penuh oleh para wisatawan, baik itu turis lokal maupun mancanegara. Selain pasar apung Quin di tengah sungai Barito, di Siring Sungai Martapura, juga diramaikan pasar apung di pinggiran darmaga, yang khusus digelar setiap Minggu, mulai pukul 06.00 – 10.00 WITA. Pulau Monyet di Tengah Sungai Berkunjung ke pasar apung Quin, rasanya tak lengkap jika tidak mengunjungi pulau kembang, yakni sebuah pulau dengan luas 60 hektar yang dihuni ratusan monyet. [caption id="attachment_77419" align="alignleft" width="557"]
Pulau Kembang, yakni sebuah pulau dengan luas 60 hektar yang dihuni ratusan monyet[/caption] Pulau kembang masih terletak di sekitar sungai Barito, tak jauh dari pasar apung, memakan waktu kurang lebih hanya 15 menit menggunakan kelotok dan perahu. Di pulau ini, Anda dapat berinteraksi langsung dengan para monyet yang langsung menyerbu pengunjung begitu perahu tiba di darmaga pulau kembang. Para monyet tersebut umumnya hanya ingin makanan dari pengunjung yang datang. Maka disarankan jika Anda berencana ke sana, persiapkan perahu Anda dengan makanan atau buah-buahan untuk oleh-oleh para monyet di sana. Yang menarik, beberapa monyet tersebut bahkan tak takut berenang menghampiri perahu pengunjung hanya untuk meminta makanan. Jika tersedia makanan, ia tidak akan mengganggu, ia akan makan di dekat Anda dengan santai, pengunjung pun bisa berinteraksi langsung, bahkan menyentuh monyet itu saat ia sedang makan. Ketika urusan perut sudah terpenuhi, monyet tersebut akan berenang kembali ke tempat asalnya. Selain melihat para monyet beraksi dari atas perahu, pengunjung juga dapat memasuki pulau yang ditetapkan sebagai hutan wisata berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 788/Kptsum12/1976 untuk beinteraksi lebih dekat dengan para monyet. Namun Anda jangan kaget jika tiba-tiba monyet-monyet jinak itu akan naik ke atas pundak atau kepala untuk mengajak bermain atau meminta makan. Pengunjung bisa mengelilingi pulau sembari melihat-lihat pemandangan pepohonan yang tumbuh di atas rawa lengkap dengan monyet-monyet yang bertengger di atasnya. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, monyet-monyet tersebut bukanlah sembarang monyet. “Monyet-monyet di sini sakti. Dulu pernah ada pengunjung yang membawa pulang salah satu monyet, tapi tiba tiba sakit dan tidak bisa disembuhkan oleh dokter. Akhirnya ada orang pintar yang menyarankan untuk kembalikan monyet tersebut ke asalnya, lalu dia sembuh,” cerita Udin saat menemani Men’s Obsession menyusuri muara sungai Quin dan sungai Barito pertengahan Agustus lalu. (Suci Yulianita /rez)
Kegiatan Perdagangan di Pasar Terapung Muara Kuin[/caption] Aktivitas di pasar apung Quin dimulai sejak sebelum matahari terbit hingga pukul 09.00 WITA setiap harinya. Menikmati keindahan pasar apung di tengah-tengah sungai barito saat matahari pagi baru bersinar, menjadi sebuah pemandangan yang indah dan eksotis. Keindahan cahaya sinar matahari di sepanjang sungai Quin, menambah pengalaman wisata dan belanja di pasar apung menjadi lebih berkesan. Ya, jika ingin mengunjungi pasar apung, memang disarankan tiba sebelum matahari terbit agar bisa mendapat moment tersebut dan menyaksikan indahnya keramaian pasar di tengah-tengah cahaya matahari pagi. Ingin berwisata ke pasar apung Quin, Anda bisa menempuhnya dengan menggunakan perahu dari dua titik, yaitu dari depan Masjid Sultan Suriansyah dan dari Dermaga. Terdapat dua jenis perahu yang bisa digunakan dengan harga sewa yang bervariasi, mulai dari Rp.200.000, untuk perahu kecil atau kelotok dengan kapasitas 6 orang, hingga Rp.500.000 untuk perahu besar dengan kapasitas hingga 15 orang. Dari mulut darmaga menuju pasar Quin, menempuh jarak sekitar 3 km dengan memakan waktu kurang lebih 30 menit menggunakan perahu besar. Sedangkan jika menggunakan kelotok mungkin akan lebih lama, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit hingga 1 jam. Sepanjang perjalanan menuju pasar Apung, Anda dapat menikmati pemandangan sepanjang muara sungai Quin – Sungai Barito, beserta kehidupan masyarakat yang tinggal di sepanjang tepian sungai dengan suasana pedesaan. Sepanjang jalan itu, Anda akan melihat langsung aktivitas penduduk yang tinggal di rumah-rumah kayu di pinggir sungai, seperti mencuci. Namun sayangnya, sepanjang perjalanan masih banyak ditemukan sampah-sampah yang menggenangi sungai tersebut, sehingga sangat mengganggu pemandangan keindahan muara sungai Quin. Setiba di pasar apung Quin di tengah sungai Barito, layaknya pasar, Anda akan menemukan banyak pedagang di atas kelotok. Mereka berdagang berkerumun di tengah sungai dengan kelotok-nya masing-masing. Aneka dagangan ditawarkan, mulai dari sayuran, buah-buahan, makanan ringan, minuman seperti kopi dan teh hingga cinderamata. Menurut Udin, salah satu pemilik perahu yang sudah 15 tahun mengemudi untuk pengunjung pasar apung Quin ini, sayur dan buah-buahan yang dijual tersebut, kebanyakan dari hasil kebun mereka masing-masing. Yang menarik, di pasar Apung Quin juga terdapat warung makan yang menjual nasi lengkap dengan lauknya, hingga makanan khas Kalimantan Selatan, Soto Banjar. baca juga: Wah, Masyarakat AS Ternyata 'Gandrung' Hantu dan Mistik Pengakuan Heni tentang Rumah Hantu di Bekasi FOTO Wisata Pancing Gratis di Jakarta Wisata Halal Harus DikembangkanPresiden Canangkan Kawasan Wisata Mandeh Nikmati sensasi menyantap soto Banjar atau makanan lainnya di atas perahu yang bergoyang-goyang terbawa ombak kecil, menjadi pengalaman berkesan yang tidak didapatkan dari warung makan biasa di daratan. Ya, di sinilah Anda akan berpetualang, berhadapan dengan situasi bagaimana rasanya berbelanja di atas sungai, melakukan kegiatan jual beli dari perahu ke perahu tentunya harus cekatan mengambil belanjaan dan melakukan transaksi dari atas perahu. Pasar apung Quin beroperasi setiap hari, namun ramai dikunjungi pada saat weekend yang biasanya penuh oleh para wisatawan, baik itu turis lokal maupun mancanegara. Selain pasar apung Quin di tengah sungai Barito, di Siring Sungai Martapura, juga diramaikan pasar apung di pinggiran darmaga, yang khusus digelar setiap Minggu, mulai pukul 06.00 – 10.00 WITA. Pulau Monyet di Tengah Sungai Berkunjung ke pasar apung Quin, rasanya tak lengkap jika tidak mengunjungi pulau kembang, yakni sebuah pulau dengan luas 60 hektar yang dihuni ratusan monyet. [caption id="attachment_77419" align="alignleft" width="557"]
Pulau Kembang, yakni sebuah pulau dengan luas 60 hektar yang dihuni ratusan monyet[/caption] Pulau kembang masih terletak di sekitar sungai Barito, tak jauh dari pasar apung, memakan waktu kurang lebih hanya 15 menit menggunakan kelotok dan perahu. Di pulau ini, Anda dapat berinteraksi langsung dengan para monyet yang langsung menyerbu pengunjung begitu perahu tiba di darmaga pulau kembang. Para monyet tersebut umumnya hanya ingin makanan dari pengunjung yang datang. Maka disarankan jika Anda berencana ke sana, persiapkan perahu Anda dengan makanan atau buah-buahan untuk oleh-oleh para monyet di sana. Yang menarik, beberapa monyet tersebut bahkan tak takut berenang menghampiri perahu pengunjung hanya untuk meminta makanan. Jika tersedia makanan, ia tidak akan mengganggu, ia akan makan di dekat Anda dengan santai, pengunjung pun bisa berinteraksi langsung, bahkan menyentuh monyet itu saat ia sedang makan. Ketika urusan perut sudah terpenuhi, monyet tersebut akan berenang kembali ke tempat asalnya. Selain melihat para monyet beraksi dari atas perahu, pengunjung juga dapat memasuki pulau yang ditetapkan sebagai hutan wisata berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 788/Kptsum12/1976 untuk beinteraksi lebih dekat dengan para monyet. Namun Anda jangan kaget jika tiba-tiba monyet-monyet jinak itu akan naik ke atas pundak atau kepala untuk mengajak bermain atau meminta makan. Pengunjung bisa mengelilingi pulau sembari melihat-lihat pemandangan pepohonan yang tumbuh di atas rawa lengkap dengan monyet-monyet yang bertengger di atasnya. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, monyet-monyet tersebut bukanlah sembarang monyet. “Monyet-monyet di sini sakti. Dulu pernah ada pengunjung yang membawa pulang salah satu monyet, tapi tiba tiba sakit dan tidak bisa disembuhkan oleh dokter. Akhirnya ada orang pintar yang menyarankan untuk kembalikan monyet tersebut ke asalnya, lalu dia sembuh,” cerita Udin saat menemani Men’s Obsession menyusuri muara sungai Quin dan sungai Barito pertengahan Agustus lalu. (Suci Yulianita /rez)




























