UNP Gelar Diskusi Menangkal Radikalisme

Padang, Obsessionnews - Mindsetradikal yaitu meyakini pandangan mereka sebagai representasi Islam yang sebenarnya dan menganggap lembaga demokratis dan pemilu sebagai perwujudan dari kekafiran. Pendapat tersebut dikemukakan Guru Besar Universitas Negeri Padang (UNP) Prof Azwar Ananda saat menjadi nara sumber dalam diskusi publik yang digelar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatera Barat (Sumbar), Rabu (25/11/2015). Dalam diskusi yang berkerjasama dengan Forum Pemerhati Sosial Kemasyarakatan dengan tema "peran masyarakat dan media masa menangkal berkembangnya paham komunisme dan radikalisme", Azwar Ananda mengatakan, bentuk-bentuk radikalisme agama yaitu radikalisme muncul ketidaktahuan akan ajaran agama yang sebenarnya. "Radikalisme muncul karena semangat berlebihan dalam mengamalkan ajaran agama, radikalisme muncul karena keliru menilai perilaku umat beragama, dan radikalisme muncul karena adanya pengaruh dari luar," kata Azwar Ananda. Menurut Azwar, salah satu cara menangkal radikalisme di Indonesia kembali merevitalisasi komitmen sebagai bangsa. Pemerintah (lembaga pemerintahan wajib berkomitmen untuk mencintai NKRI dan NKRI harga mati dan berkomitmen NKRI pantas dicintai seluruh anak bangsa). "Revitalisasi konsensus nasional tanggal 18 Agustus 1945 (Indonesia adalah negara Pancasila dan bukan negara agama, ideologi negara adalah pancasila bukan ideologi lain, kita sepakat bahwa Undang-undang kita adalah UUD 1945), revitalisasi nilai-nilai Pancasila," ujar Azwar. Menurut Azwar, yang paling ampuh menangkal radikal dan komunis, dengan tetap menjaga nilai-nilai Pancasila. Pancasila merupakan dasar negara yang memiliki kekuatan untuk mempersatukan perbedaan di NKRI. Sementara itu, Tokoh Pemuda dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumbar, Haeru mengatakan, perkembangan teknologi dan pengetahuan salah satu faktor komunis semakin cepat masuk dan mempengaruhi kaum pemuda. Pemerintah harus sejak dini memperkenalkan pengetahuan agama sesuai dengan ajaran agama masing-masing yang benar tanpa kekerasan dan memberikan pemahaman pengetahuan tentang ilmu wawasan nusantara dan jiwa nasionalisme terhdap NKRI, serta memahami kesenjangan sosial, memahami dan menjalankan nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari. "Upaya itu dinilai dapat menangkal paham radikalisme dikalangan pemuda," ujar Haeru. Upaya menangkal paham radikalisme dan komunisme yaitu memperkuat Pancasila sebagai ideologi bangsa secara substansial (pemahaman doktrin agama). Kemudian, perlu ketegasan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan dalam menghadapi kekerasan dan anarkisme terutama yang berlatarbelakang radikalisme atas nama agama. Selanjutnya, perlu segera membangkitkan kesadaran pemimpin bangsa terhadap adanya ancaman serius radikalisme. Dalam kesempatan yang sama, Dosen Fakultas Ilmu Sejarah UNP sekaligus moderator, Hendra Naldi mengatakan, kegiatan diskusi sangat baik. Kegiatan merupakan salah satu langkah mengantisipasi masuknya paham komunisme da radikalisme di kalangan generasi pemuda. (Musthafa Ritonga)





























