RR Mau Bersihkan 'Tikus-tikus' Negara

RR Mau Bersihkan 'Tikus-tikus' Negara
Jakarta - Menko Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli mengungkapkan, rakyat kita miskin padahal negara kita kaya raya sumber daya alam. Hal ini akibat banyaknya mafia dan koruptor merajalela di negeri ini. Ibarat sawah, seringkali ada hama tikus yang merusak sawah. Demikian juga negara kita ini banyak sumber daya, dan banyak tikus yang merusaknya. “Supaya tikus-tikus itu tidak makan sumber daya kekayaan negara kita, ya kita bikinlah kegaduhan biar tikus-tikus itu buyar,” kata Rizal Ramli yang akrab disebut ‘RR’ dalam pertemuan dengan wartawan di Jakarta, Rabu (25/11/2015). Rizal menegaskan, dalam menjalankan pemerintahan ini mesti ada ‘gaduh putih’ untuk memberantas ‘gaduh hitam’ agar tikusnya kabur dan padi tumbuhnya menjadi subur. Langkah ini, menurutnya, adalah bagian dari revolusi mental untuk mewujudkan Nawacita dan Trisakti. Jangan seperti Orba, yang selalu melihat kegaduhan politik itu sebagai ancaman negara. “Gaduh hitam itu orientasinya berebut kekuasaan, proyek, konsesi-konsesi dan macem-macem yang bukan untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara, melainkan kepentingan dan memperkaya pribadi. Sebaliknya, ‘gaduh putih’ adalah untuk rakyat bangsa dan negara,” tandas Rizal. Setidaknya dengan kegaduhan itu, tegas dia, kontrak Freeport tidak diperpanjang. PT Freeeport harus membangun smelter, membangun pengolahan limbah, dan kesejahteraan rakyat Papua lainnya dan sebagainya. Karena itulah menurut Rizal, Jokowi harus melakukan reshuffle kabinet, dan terbukti kini ekonomi Indonesia sudah mulai membaik, karena titik dasarnya sudah tercapai. “Reshuffle I pada Agustus 2015 lalu terbukti berdampak positif dan reshuffle II nanti, akan berdampak lebih baik lagi sehingga pertumbuhan ekonomi tahun 2016 diperkirakan mencapai 6 persen,” tuturnya. Ia mengingatkan, tantangan terbesar adalah dari dalam diri sendiri, mau melakukan perubahan atau tidak. “Semua ada resiko, tantangan dan peluang yang besar karena Indonesia ini kaya raya. Kalau rakyat senang, itu barometernya kabinet. Sehingga dengan rajawali bangkit seperti PLN yang semula minus Rp 9 triliun, kini menjadi plus Rp 104 triliun, maka pentingnya re-evaluasi aset, yang bukan saja BUMN tapi juga perusahaan swasta,” bebernya. Rizal memposisikan dirinya sebagai rajawali si 'tukang kepret' dalam kabinet Jokowi karena menurutnya,  dalam menjalankan pemerintahan ini mesti ada 'gaduh putih' untuk memberantas 'gaduh hitam' agar tikusnya (pelaku korupsi) kabur. "Langkah ini bagian dari revolusi mental untuk mewujudkan nawa cita," tandasnya. Rizal-Ramli-1Jadi Menteri Bukan Cari Kenikmatan Rizal Ramli menegaskan dirinya menjadi menteri bukan cuma mencari kenikmatan dengan melupakan kesengsaraan rakyat. “Saya dikasih amanah jadi menteri. Saya tidak mau sekadar jadi menteri. Kalau mau kita nikmati saja, bermanis-manis tidak perlu gaduh, tidak perlu ngepret. Tapi saya tidak mau, karena rakyat ini hidupnya masih susah,” tegasnya. Menurut Rizal, bangsa kita ini miskin karena kekayaan sumber daya alam diakali terus oleh oknum-oknum di negara ini. “Kita (harus) berbuat agar ada perubahan. Memang ada resikonya. Ini perjuangan naik bukit. Banyak resiko, rintangan, halangan. Saya serahkan kepada Allah. Apa yang terjadi, terjadilah. Ini kita lakukan agar ada  perubahan,” tegasnya. Ia memaklumi, setiap perubahan menimbulkan silang pendapat. “Kita buat gaduh putih agar panennya baik. Tapi gaduh hitam merebut kekuasaan dan macem-macem. Gaduh putih lebih transparan dan terbuka. Perlu revolusi mental. Beda pendapat dianggap kegaduhan. Seperti orde baru, beda pendapat dianggap ancaman terhadap pembangunan,” paparnya. Rizal menyatakan tidak takut dengan elit politik. “Kalau elit politik musuhi saya, memang saya pikirin. Kita senangkan elit politik tidak ada gunanya. Kita (harus) senangkan rakyat!” seru Mantan Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur. Menurut Rizal, Presiden Jokowi harus melakukan reshuffle jilid II agar situasi semakin membaik. “Presiden memilih sendiri menterinya, tidak boleh dipengaruhi oleh tokoh-tokoh lain,” tuturnya. Apakah pak Rizal jadi bemper Jokowi untuk menghadapi menteri-menteri yang neolib? “Yang penting kita bekerja untuk kepentinganr akyat dan kepentingan naisonal. Kita bisa berbuat banyak, rakyat happy,” jawab Rizal diplomatis. Tapi Pak Rizal dikenal keras? “Keras terhadap prinsip dan tujuan, iya. Sawah kita memang banyak tikusnya. Supaya tikusnya kabur, panennya bagus, kita harus keras,” jawab Rizal pula. Ia mengakui, ada gaduh hitam soal Freeport. “Ini sinetron antar geng/mafia saja. Kalau bagi-baginya rata, ya mereka diam-diam saja. Tapi kalau bagi-baginya tidak rata, karena kalkulatornya rusak, ya gaduhlah seperti sekarang. Freeport ada tembaga dan emas untuk diambil alih nasional,” tandasnya. Ia menyatakan, negara kita kaya, seperti adanya tambang Freeport. Kini ada rebutan kue dari Freeport . Kegaduhan hitam itu, lanjut dia, harus dikepret (dibereskan). “Ya ada kegaduhan hitam, mereka rebutan kue Freeport. Kegaduhan hitam itu muncul 'kan mereka baginya nggak rata, mungkin kalau bagi-baginya rata, diam semua,” tegasnya. “Di situ kita 'kepret' yang tidak benar.Saya jadi menteri kan tidak sekedar jadi menteri, ingin berbuat, ada perubahan. Kita kepret yang melakukan kelakuan menyimpang,” tambahnya. (Red)