Bulog Sumbar Tak Mampu Penuhi Serapan Beras Lokal

Padang, Obsessionnews - Serapan beras lokal yang diprogramkan Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) Sumatera Barat (Sumbar) dari 8.000 ton yang ditargetkan dalam tahun ini, baru tercapai 3.100 ton. Bulog belum mampu memenuhi serapan beras lokal sesuai target, karena terdapat sejumlah kendala. Kepala Bulog Divre Sumbar, Ajun Ansol Siregar mengatakan, sejumlah kendala sehingga Bulog belum mampu memenuhi serapan beras lokal sesuai target yang ditetapkan tahun 2015, karena harga beras lokal tinggi atau berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Selain harganya tinggi, juga kualitasnya bagus, serta musim panen di Kabupaten/Kota di Sumatera Barat tidak bersamaan “Beras disini kualitasnya memang bagus sehingga harga juga relatif tinggi, diatas Harga Pembelian Petani (HPP) kita sebesar Rp 7.300. Dengan kondisi itu, kita kadang membeli beras petani dengan harga komersil. Terlebih lagi, hampir setiap bulan ada panen, sehingga harga beras dari petani tidak mungkin turun. Hal itu berbeda dengan di Pulau Jawa, yang memiliki masa panen raya, sehingga ketika panen harga beras cenderung turun,” kata Ajun ketika ditemui di ruang kerjanya, Kamis (19/11). Faktor lain, kata Ajun, Bulog masih kalah bersaing dengan pedagang dari luar Provinsi yang telah mengetahui masa panen di masing-masing wilayah, sehingga cepat bergerilya mengumpulkan beras dari penggilingan. Selain itu, pedagang juga berani membeli beras dari petani diatas HPP ataupun harga komersil dari Bulog. “Kita pakai HPP, pedagang pasti berani lebih tinggi walaupun Rp 100. Begitu pula kalau kita pakai harga komersil,” ujar Ajun. Ajun mengatakan, salah satu strategi yang diterapkan agar tahun 2016 serapan beras lokal tercapai target yang ditetapkan, Bulog bekerjsama dengan Korem 032/Wiraraja. Kerjasama penguatan dibidang pangan sudah berjalan dengan Korem 032 Wirabraja melalui babinsa, memetakan masa panen sekaligus sebaran lokasi penggilingan beras. Selanjutnya, dilakukan pertemuan dengan pegusaha pengilingan beras. “Kita kumpulkan pengusaha penggilingan beras, seperti di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Kita beri mereka arahan, karena sebenarnya harga beli dari Bulog dan pedagang itu beda tipis. Pedagang membeli diatas harga Bulog, tapi pedagang harus mengeluarkan ongkos mengantar. Kalau kita berani jemput. Berapapun banyaknya kita pasti beli,” terang Ajun Ansol Siregar.





























