Reshuffle Kabinet, PAN Dapat Apa?

Reshuffle Kabinet, PAN Dapat Apa?
Jakarta, Obsessionnews – Desakan dari berbagai elemen masyarakat agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan reshuffle atau perombakan kabinet jilid kedua terus bergulir. Jika Jokowi melakukan reshuffle kabinet, muncul pertanyaan Partai Amanat Nasional (PAN) akan mendapat posisi apa? PAN memang mempunyai kepentingan dengan reshuffle kabinet setelah secara resmi mendukung pemerintahan Jokowi beberapa bulan lalu. Meski menyadari reshuffle kabinet merupakan hak prerogatif Presiden, PAN tentu berharap ada kadernya yang masuk dalam kabinet sebagai imbalan mendukung Jokowi. Semula di bawah kepemimpinan Hatta Rajasa PAN merupakan bagian dari Koalisi Merah Putih (KMP). Anggota KMP lainnya adalah Gerindra, PKS, PPP, dan Golkar. Pada Pilpres 2014 KMP mengusung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, berhadapan dengan Jokowi-JK yang didukung PDI-P, PKB, Nasdem, Hanura, dan PKPI yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Duet Jokowi-JK secara gemilang menaklukkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Meski kalah dalam Pilpres, KMP mendominasi parlemen, di mana unsur pimpinan DPR dan MPR dikuasai KMP dan Partai Demokrat. Demikian pula KMP dan Partai Demokrat berhasil menempatkan kader-kadernya menguasai unsur pimpinan fraksi. Tapi kesolidan KMP tidak berlangsung lama, ketika terjadi perpecahan di tubuh Golkar dan PPP. Situasi semakin runyam tatkala terjadi suksesi kepemimpinan PAN dari Hatta Rajasa ke Zulkifli Hasan. Zulkifli terpilih sebagai Ketua Umum DPP PAN periode 2015-2020 dalam Kongres IV PAN di Nusa Dua, Bali, 28 Februari – 2 Maret 2015 . Belum lama menduduki kursi Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli yang juga Ketua MPR membawa gerbong PAN meninggalkan KMP. Dia secara resmi membawa PAN mendukung Jokowi pada Rabu, 2 September 2015. PAN memiliki tradisi bagian dari pemerintah. Partai yang dilahirkan di era reformasi ini tak pernah absen menempatkan kader-kadernya sebagai menteri di era Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001), Presiden Megawati Soekarnoputri (2001-2004), dan Presiden SBY (2004-2014). Keinginan PAN agar kader-kadernya terus menjadi menteri tak terwujud, karena Prabowo Subianto-Hatta Rajasa kalah dalam Pilpres 2014. Di bawah kendali Hatta Rajasa PAN bersama partai-partai yang tergabung dalam KMP menjadi oposisi terhadap pemerintah. Kini setelah PAN di bawah komando Zulkifli Hasan menyatakan dukungannya pada Jokowi, muncul harapan PAN akan mendapat jatah menteri. Tetapi, hal itu tidak mudah. PAN harus bersaing dengan Golkar yang belakangan ini juga mendukung Jokowi. Andaikata terjadi reshuffle kabinet jilid kedua, belum tentu PAN mendapat kursi menteri. Jokowi kemungkinan memberikan jatah menteri kepada Golkar yang memiliki kursi cukup besar di DPR, sedangkan PAN hanya sedikit memiliki kader yang menjadi anggota DPR. Posisi Jokowi akan lebih kuat jika mendapat tambahan dukungan dari Golkar. Alasannya, ya itu tadi, Golkar memiliki pengaruh besar dalam percaturan politik nasional dibandingkan PAN. Jika reshuffle kabinet jilid kedua jadi dilakukan, dan PAN tidak mendapat jatah kursi menteri, apakah PAN akan kembali ke KMP? (Arif RH)