Adhyaksa: Pelaku Kekerasan Pramuka Gadungan

Jakarta, Obsessionnews -Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault menyesalkan terjadinya kekerasan terhadap 21 anggota Pramuka yang tengah mengikuti kegiatan intra di SMK Gunung Sari, Makassar. Menurutnya, kegiatan tersebut bukanlah kegiatan resmi Pramuka yang diadakan oleh pihak sekolah. Pasalnya, berdasarkan informasi yang sudah diterima oleh Adhyaksa, pelaku yang telah melakukan aksi kekerasan terhadap anggota Pramuka ternyata tidak tercatat sebagai anggota Pramuka, dan tidak pernah mengikuti pendidikan kepramukaan. Alias Pramuka gadungan. "Saya sudah telepon pengurus Kwarda Sulawesi Selatan yang di Makkassar, ternyata pelaku penganiayaan di SMK Gunung Sari bukanlah Pembina Pramuka dan belum mengikuti tahapan pendidikan kepramukaan," ujar Adhyaksa dalam keterangan tertulisnya Minggu (1/11/2015). Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga ini menuturkan, di dalam pendidikan Pramuka selalu diajarkan dengan memakai cara-cara yang menyenangkan, riang gembira. Karena itu, kekerasan dalam pendidikan itu bertolak jauh dari nilai-nilai pendidikan Pramuka. "Ini merusak psikis dan kepercayaan diri peserta didik, juga mencoreng gerakan pramuka dan profesi guru yang sangat mulia," tuturnya. Ucapan terimaka kasih disampaikan Adhyaksa kepada media yang sudah memberitakan kejadian ini sebagai alat kontrol dan pengawasan. Ia berharap kekerasan yang menimpa anggota Pramuka dan peserta didik di sekolah tidak terulang kembali. Sebab, bagaimanapun kekerasan dalam pendidikan tidak bisa dibenarkan. "Saya menolak penggunaan kekerasan dalam pendidikan, baik dengan fisik maupun perkataan atau dalam bentuk apapun," ucapnya. Terakhir Adhyaksa meminta kepada sekolah-sekolah di seluruh Indonesia agar tidak hanya mewajibkan siswanya mengunakan baju Pramuka, tapi disisi lain pendidikan Pramuka tidak pernah diajarkan kepada para siswa. Menurutnya, lebih baik tidak diwajibkan pakai seragam Pramuka, tapi mereka diberikan pendidikan kepramukaan. "Sekali lagi, saya bersama para segenap pengurus Kwarnas dan Kwarda akan bekerja keras agar hal ini tidak terjadi lagi," pungkasnya. Diketahui, sebelumnya, 21 calon anggota pramuka di Sekolah Menangah Kejuruan (SMK) Gunung Sari, Makassar mengalami kekerasan ketika melakukan pendidikan yang mengatasnamakan pramuka dari para seniornya. Kejadian terjadi pada Sabtu (31/10) Beberapa tindakan tidak wajar yang diperintahkan pada mereka diantaranya tiarap dan merangkak sampai ke lantai lima. Bahkan setiap calon anggota ditetesi lelehan lilin. Bahkan, mereka juga diperintahkan mengunyah kaos kaki dan menggigit sandal jepit hingga mengonsumsi makanan yang telah jatuh ke tanah. (Albar).





























