Tiga Penyebab Kampanye Hitam di Pilkada

Jakarta, Obsessionnews - Direktur Eksekutif Inspire, Marbawi, mengatakan ada beberapa faktor mengapa para calon kepala daerah melakukan kampanye hitam dengan berbagai cara untuk menjatuhkan lawan politiknya. Ia mencatat setidaknya ada tiga penyebabnya. Pertama, karena faktor psikologis-politis. Informasi politik dan publik semakin banyak dibahas di media sosial meningkatkan preferensi psikologis pemilih terhadap figur kandidat tertentu dengan segala latar belakangnya. Pemilu atu pilkada yang berlangsung pasca reformasi lebih banyak didorong oleh figur yang menciptakan “lovers” dan “haters”nya sendiri. “Kedua-duanya: buta. Keyakinan religius, ras dan suku, kelas sosial, dan skandal kandidat menjadi objek utama kampanye hitam yang bebas di media sosial," kata Marbawi pada saat menjadi pembicara dalam diskusi Peran Media Sosial dalam Menyukseskan Pilkada Serentak yang Damai dan Berkualitas, yang diselenggaran oleh Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi, Selasa (27/10/2015). Kedua, menurut Marbawi, faktor sosiologis-politis, dimana kelompok-kelompok politik yang gagal bertarung dengan “elegan” dengan mengusung program, kelompok korban kebijakan diskriminatif, kelompok intoleran, rendahnya kepercayaan pada sistem demokrasi, dan lain-lain kembali kepada isu-isu primordial dan mengeksploitasinya untuk pemenangan politik. Ketiga, murni karena faktor ekonomi-politik. Terkesan rasional, kampanye didorong oleh motif-motif keuntungan ekonomi dari pertarungan politik yang sedang berlangsung. Kekuatan ekonomi ini dapat juga menggunakan faktor pertama dan kedua demi menyelamatkan bisnis. “disini pengguna medsos harus bersatu melawannya," imbuh Marbawi dalam presentasinya yang berjudul Kampanye Kotor: Musuh Demokrasi dan Kemanusiaan. Diskusi ini dihadiri oleh berbagai pegiat medsos dan komunitas, bahkan ada yang datang jauh-jauh dari Surabaya. Mereka juga mendeklarasikan dukungannya pada pilkada serentak yang berkualitas dan damai lewat tanda tangan dan pernyataan sikap. “Dulu kita adalah penikmat konten media, sekarang di era digital kita semua sudah menjadi media itu sendiri. Setiap orang adalah kantor berita. Tantangannya adalah, mampukan kita menyajikan konten yang baik dan benar”, ungkap Hariqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten. (Albar)





























