Indonesia Belum Krisis

Jakarta, Obsessionnews - Di sepanjang tahun 2015, banyak yang menilai indonesia kembali ke krisis 1998. Jika dipahami, krisis tersebut belum menyentuh indonesia. Tahun 2015 ini, secara rata-rata mata uang rupiah melemah 15% terhadap dolar AS. Di tahun 1997-1998 saat krisis moneter melanda, pelemahan justru mencapai 50%. "Sekarang kita belum sepertiganya. Kalau dibandingkan, setahun terakhir mata uang Thailand, Malaysia, dan mata uang Asia lainnya melemah 50 persen dan Indonesia belum. Jadi anggapan indonesia kembali alami krisis itu tidak benar," kata Gundy Cahyadi, ekonom DBS pada DBS Asian Insights Media Luncheon, di Jakarta, Selasa (27/10). Memang, ketika pemerintah Cina memutuskan mendevaluasi mata uang yuan sebesar 2%, ada dugaan ini dilakukan karena kepanikan terhadap adanya resiko crash landing. Menurut Gundy, penilaian itu tidak benar.
Devaluasi yuan karena crash landing kata Gundy, sudah terjadi pada tahun 2010 lalu. Ke depan, pertumbuhan ekonomi Cina bakal terus melemah. Besarnya ekonomi Cina saat ini, dia bilang lebih besar 50% ketimbang lima tahun lalu dengan pertumbuhan yang mencapai 10%. Jadi ketika sudah besar seperti saat ini untuk menjadi lebih besar lagi itu susah. Devaluasi kata Gundy merupakan proses alami di Cina. Ini, dilakukan lantaran pergerakan dolar AS, yen dan yuan relatif stabil. "Proses devaluasi 2 persen itu minim sekali ketimbang dua tahun lalu. Alasannya, patokan nilai tukar yuan berdasarkan apa yang sudah terjadi sehari sebelumnya," jelas dia. "Saat pasar inginkan mata uang cina menguat, maka di hari berikutnya melemah," lanjutnya.(Mahbub Junaidi)
Devaluasi yuan karena crash landing kata Gundy, sudah terjadi pada tahun 2010 lalu. Ke depan, pertumbuhan ekonomi Cina bakal terus melemah. Besarnya ekonomi Cina saat ini, dia bilang lebih besar 50% ketimbang lima tahun lalu dengan pertumbuhan yang mencapai 10%. Jadi ketika sudah besar seperti saat ini untuk menjadi lebih besar lagi itu susah. Devaluasi kata Gundy merupakan proses alami di Cina. Ini, dilakukan lantaran pergerakan dolar AS, yen dan yuan relatif stabil. "Proses devaluasi 2 persen itu minim sekali ketimbang dua tahun lalu. Alasannya, patokan nilai tukar yuan berdasarkan apa yang sudah terjadi sehari sebelumnya," jelas dia. "Saat pasar inginkan mata uang cina menguat, maka di hari berikutnya melemah," lanjutnya.(Mahbub Junaidi) 




























