Gapki: Tudingan Industri Sawit Bakar Lahan Lebih ke Persaingan Bisnis

Gapki: Tudingan Industri Sawit Bakar Lahan Lebih ke Persaingan Bisnis
Jakarta, Obsessionnews - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) membantah tudingan bahwa ada skenario pada kasus kebakaran hutan yang saat ini tengah terjadi. Sebab sejak tahun 2002 lalu, land clearing untuk menyiapkan lahan dengan cara dibakar sudah dilarang. Edi Martono, Ketua Bidang Tata Ruang Gapki mengatakan, hingga saat ini ada 963 perusahaan yang menjadi anggotanya dengan luas lahan garapan mencapai 4,5 juta hektar. Penyiapan lahan dengan menggunakan mesin pun hanya membutuhkan dana sebesar Rp 6 juta untuk tiap hektarnya. "Kalau hanya bakar lantaran lebih murah itu konyol. Kita capek dipanggil Polda karena kasus kebakaran ini dan resikonya besar kalau harus membakar," jelas Edi saat ditemui usai diskusi 'Energi Kita' yang digelar Radio Republik Indonesia (RRI) di gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (25/10). Pernyataan Edi bisa jadi benar. Sebab dengan biaya sebesar Rp 6 juta untuk mempersiapkan tiap hektar lahan agar dapat segera ditanami sawit, tidak mungkin industri ini rela membayar denda ratusan milyar rupiah jika terbukti bersalah melakukan pembakaran hutan. "Ga mungkin ditanam saat panas seperti sekarang ini. Kelapa sawit tidak bisa dilawan dengan minyak jenis lain. Dan sebetulnya ada apa dengan kebakaran ini ?" lanjut dia. Edi menyebutkan, dengan 10,9 juta hektar lahan yang ada, sudah tidak ada lagi ekspansi untuk kebun sawit. Kalau pun ada yang terbukti membakar lahan, dia setuju ditindak keras. Namun penindakannya harus transparan. Lebih lanjut Edi mengatakan kalau tudingan yang dialamatkan ke industri sawit terkait kebakaran hutan lebih disebabkan persaingan bisnis. Sebab jika industri sawit berkembang pesat, Indonesia bisa menjadi kiblat energi dunia. Dan inilah yang tidak diinginkan negara-negara barat serta Eropa. Sekedar catatan, beberapa waktu lalu organisasi Grean Peace sempat menuding industri sawit Indonesia merupakan penyumbang terbesar emisi dunia. Belakangan diketahui kalau tudingan tersebut bermotif bisnis. Ini artinya, ada pihak yang tak rela industri sawit di tanah air menjadi raksasa dunia. Dalam sejarah memang dicatatkan kalau bibit sawit yang ditanam di Indonesia pertama kali dibawa penjajah Belanda. Namun lantaran iklim di sini sangat sesuai, maka sawit tumbuh subur dan jumlah produksinya pun melampaui dugaan awal. "Ini perang dagang belum selesai. Kita harus curiga di situ. Apa benar tanaman itu kita bakar," kata Edi kepada obsessionnews.com. Edi bilang, setiap hektar tanaman sawit mampu menghasilkan 6 ton minyak nabati. Sedangkan Soibin yang berasal dari tanaman bunga matahari butuh sepuluh kali lipat lahan untuk memproduksi minyak dengan jumlah serupa. "Saya tidak menuduh ke sana tapi sama-sama diinvestigasilah. Itu kebakar atau dibakar. Kalau terbakar, selama masyarakat membakar itu besar kemungkinannya. Jadi tidak itu terus. Masa setiap tahun membakar? Dan saat ini, asuransi tidak ada yang mau terima lahan sawit," jelas Edi.(Mahbub Junaidi)