Justin Theroux Tenyata Tidak Bisa Baca Hingga SMA

Justin Theroux Tenyata Tidak Bisa Baca Hingga SMA
Obsessionnews – Aktor dan Penulis Skenario asal Amerika Justin Theroux membuat pengakuan, akibat menderita disleksia, dirinya dapat membaca dengan baik pada saat remaja. Ia juga menceritakan perjuangannya dalam mengatasi persoalannya itu beberapa tahun duduk dibangku sekolah. "Saya bukan pembaca yang baik. Saya tidak tahu bagaimana berbicara dengan cara lain. Saya diuji sebagai penderita disleksia dan saya adalah seorang anak yang tidak fokus, jika saya harus jujur, dalam hidup saya, saya tidak banyak membaca sejak dini, dan tidak membaca banyak seperti sekarang," kata bintang berusia 44 tahun dan suami dari Aktris Jennifer Aniston ini. "Bahkan sampai hari ini, saya membaca hal-hal secara real time seperti seolah-olah sedang berbicara. Saya tidak bisa menepis hal-hal dengan orang-orang kebanyakan yang bisa dalam hal ini," ujarnya, seperti dilansir laman bernama, Kamis (22/10/2015). Justin, yang juga ikut menulis komedi yang akan datang dalam film berjudul 'Zoolander 2' dan memiliki sejumlah profil tentang dirinya, berkisah ketika dibangku sekolah ia pernah berpura-pura sakit perut ketika ia diminta untuk membaca sesuatu dengan suara keras di sekolah. justin therox "Itu memalukan. Itu mengerikan. Pertama kali saya pernah dipanggil untuk membaca saya tidak bisa. Saya dipanggil pada hari pertama atau kedua dari sekolah umum itu untuk membaca, dan saya ingat, saya melihat ke bawah pada selembar kertas yang saya seharusnya membaca dengan kata pertama adalah 'the,' yang seharusnya saya bisa membacanya, soalnya tiga huruf pertama dari nama terakhir saya, tapi saya tidak bisa membaca satu kata tunggal lainnya. rasanya seperti hanya melihat Yunani," jelasnya . Aktor tampan ini juga mengungkapkan banyak mengejar ketinggalan pelajaran semasa sekolah. "Saya akhirnya menyusul dengan banyak pendidikan saya di Sekolah Menengah Atas (SMA). Aku banyak mengejar ketinggalan," katanya. Namun, Justin memiliki ibu yang sangat simpatik kepadanya, dimana pada saat itu, percaya bahwa dia adalah penulis skenario yang lebih baik. "Saya pikir saya disetel telingaku untuk berdialog. Saya bisa karena pada dasarnya hanya meniru mimik orang yang tertuang pada kertas dan menulis dialog dan saya hanya berpikir, kekurangan apapun yang saya miliki, telah berakhir melayani saya dalam menulis sebuah skenario," tandasnya berbagi. (Popi Rahim)