Bupati Purworejo Jadi 'Murid'-nya Bupati Subang

Bupati Purworejo Jadi 'Murid'-nya Bupati Subang
Subang, Obsessionnews – Keberhasilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Subang Jawa Barat dalam memenuhi target produksi beras mendapat perhatian dari Pemkab Purworejo Jawa Tengah. Upaya ini dilakukan karena antara Pemkab Subang dan Purworejo memiliki kesamaan fokus pada sektor pertanian. Hal tersebut terungkap dalam kunjungan kerja Bupati Purworejo, Mahsun Zain. Menurut Mahsun, pihaknya ingin mengetahui upaya mengoptimalikan pengelolaan pertanian. Dia menyebutkan di Purworejo baru pada kisaran 6 -7 ton per hektar. Sedangkan di Subang telah mampu berproduksi pada kisaran 9 – 10 ton per hektar. Kemudian bisa meningkatkan surplus produksi beras dari 125 ribu ton per tahun menjadi 200 ribu ton. "Kami akan menerapkannya di Purworejo," ujar Mahsun, Jum’at (23/10/2015). Rombongan Bupati Purworejo yang didampingi puluhan pejabatnya diterima oleh Bupati Subang, Ojang Sohandi yang didampingi oleh Wakil Bupati Subang, Imas Aryumningsih beserta Kepala Dinas dan jajaran pejabat lain di lingkungan Pemerintah Kab Subang. PWRJ - Sub Pada kesempatan itu berlangsung dialog tentang upaya pengelolaan lahan pertanian berdasarkan Tata Ruang Wilayah, pengelolaan lahan pertanian oleh petani dan keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan produksi pasca panen. Dijelaskan oleh Ojang bahwa pengelolaan lahan telah diatur dalam rencana tata ruang dengan komitmen menjadi Lumbung Padi Nasional. Walaupun di beberapa wilayah, diantaranya di Pantai Utara (Pantura) Subang terdapat upaya konversi lahan menjadi non-pertanian, namum pemerintah mengutamakan pada lahan pertanian. Kemudian pemerintah juga menyakurkan bantuan berupa alat pertanian dengan mengutamakan pada kelompok kerja (Pokja) Pertanian. Dengan mempergunakan power threser kemudian baru-baru menggunakan mesin combine harvest. Sedangkan pengelolaan produksi pasca panen dilakukan melalui resi gudang guna menjaga mekanisme ketimpangan harga produksi. Karena mekanisme harga umumnya dari petani ditekan serendah mungkin, tetapi di pasar harga ditekan sebesar mungkin. “Maka diatasi melalui mekanisme resi gudang,” ujarnya. Untuk resi gudang baru terbatas pada produksi beras tertentu, yaitu beras ketan. “Sampai sekarang sudah diresigudangkan sebanyak 800 ribu ton,” imbuhnya. Produksi pertanian Subang telah berhasil berkontribusi ke luar Subang sebesar 600 ribu ton per tahun. Untuk menjaga ketersediaan beras, pemerintah mulai menghidupkan kembali tradisi leuit (menyimpan persedian pada lumbung beras) di desa-desa. (Teddy)