Golkar Optimis Menang Pemilu 2019

Golkar Optimis Menang Pemilu 2019
Jakarta, Obsessionnews – Partai Golkar genap berusia 51 tahun pada Selasa, 20 Oktober 2015. Partai berlambang pohon beringin ini bertekad memenangkan Pemilu 2019 mendatang. (Baca: HUT ke-51 Golkar, Pengurus DPP Ziarah ke Makam Sesepuh) "Di Pemilu 2019 mendatang, Golkar optimis dapat memenangkan Pemilu secara demokratis," kata Ketua Dewan Pertimbangan DPP Golkar Akbar Tanjung pada acara HUT Golkar ke-51 di Kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Kota Bekasi , Jawa Barat, Selasa (20/10).(Baca: Kubu Agung Laksono Hormati Putusan Mahkamah Agung) Apa yang dikatakan mantan Ketua DPR ini memicu semangat kader-kader Golkar untuk bekerja keras. Golkar identik dengan pemerintahan Orde Baru (Orba) yang berkuasa selama 32 tahun (1966-1998). Partai beringin ini pendukung utama Soeharto yang menjadi orang nomor 1 di Indonesia pada periode 1966-1998. Ketika Soeharto terjungkal dari kursi kekuasaannya tanggal 21 Mei 1998, berbagai elemen masyarakat menghujat Golkar dan menuntut Golkar dibubarkan. Namun, sungguh ajaib, Golkar tak jadi mati. Atau dengan kata lain: Golkar nggak ada matinya! (Baca: Tommy Soeharto: Golkar Menang Rakyat Aman) Golkar didirikan oleh golongan militer, khususnya perwira TNI Angkatan Darat, untuk menghadapi kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Bung Karno. Golongan militer yang anti PKI menghimpun puluhan organisasi pemuda, wanita, sarjana, buruh, tani, dan nelayan dalam Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Sekber Golkar didirikan tanggal 20 Oktober 1964. (Baca: Partai Golkar, Pernah Dibubarkan Gus Dur, Kini Malah Terus Berkibar) Semula Sekber Golkar beranggotakan 61 organisasi fungsional, lalu berkembang menjadi 291 organisasi fungsional. Organisasi-organisasi yang bergabung ke dalam Sekber Golkar kemudian dikelompokkan berdasarkan kekaryaannya ke dalam tujuh Kelompok Induk Organisasi (Kino), yaitu Koperasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro), Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), Organisasi Profesi, Ormas Pertahanan Keamanan (Hankam), dan Gerakan Pembangunan. (Baca: Tommy Soeharto Ingin Golkar Bersatu Kembali) Golkar menjadi peserta Pemilu 1971, pemilu pertama dalam pemerintahan Orba di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Pemilu 1971 diikuti 10 partai politik, dan Golkar tampil sebagai pemenang dengan menyabet 236 kursi DPR atau 62,82% dari 360 kursi yang diperebutkan. (Baca: Munaslub Tentukan Arah Politik Golkar) Tahun 1973 pemerintah menyederhanakan jumlah partai dari 10 partai menjadi 3 partai, yakni Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Ketiga partai inilah yang menjadi peserta Pemilu 1977, Pemilu 1982, Pemilu 1987, Pemilu 1992, dan Pemilu 1997. Kemenangan Golkar diulangi lagi pada Pemilu 1977, Pemilu 1982, Pemilu 1987, Pemilu 1992, dan Pemilu 1997. Kemenangan Golkar dalam enam kali pemilu secara berturut-turut itu terjadi karena Soeharto membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung kemenangan Golkar melalui jalur ABG, yakni jalur A adalah ABRI (TNI dan Polri), jalur B adalah Birokrasi (pegawai negeri sipil), dan Golkar (SOKSI, MKGR, dan Kosgoro). Selain itu, Golkar semakin kuat dengan adanya ormas-ormas kepemudaan yang dibentuknya, yakni Forum Komunikasi Putra-Putri ABRI (FKPPI), Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), Pemuda Panca Marga, dan Pemuda Pancasila. Soeharto semakin nyaman berkuasa karena mendapat dukungan mesin politik Golkar yang begitu kuat, dan juga mendapat dukungan dari PPP dan PDI. Golkar Dituntut Dibubarkan Namun, tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kekuasaan Soeharto. Kejatuhan Soeharto diawali krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan 1997 yang berlanjut pada krisis kepercayaan kepada Soeharto pada tahun 1998. Pada pertengahan 1997 hingga Mei 1998 mahasiswa, buruh, dan berbagai elemen masyarakat lainnya melakukan unjuk rasa menuntut Soeharto turun dari kursi kepresidenan. Demonstrasi menentang Soeharto semakin semarak terjadi di berbagai daerah setelah tewasnya beberapa mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, yang ditembak aparat keamanan, pertengahan Mei 1998. Melihat gelombang demonstrasi yang semakin lama semakin membesar, Soeharto ketakutan, dan akhirnya dia mengundurkan diri. Selanjutnya Wakil Presiden BJ Habibie naik kelas menjadi Presiden. Meskipun Soeharto sudah lengser, demonstrasi masih terus berlangsung, dan menuntut Soeharto diseret ke pengadilan karena kasus KKN dan kasus pelanggaran HAM. Selain itu para demonstran juga menuntut Golkar dibubarkan karena Golkar identik dengan Soeharto. Dengan penuh amarah massa membakar kantor Golkar di sejumlah daerah, membakar bendera dan berbagai atribut Golkar. Selain itu massa juga menganiayai kader-kader Golkar. Kemarahan massa itu membuat kader-kader Golkar ketakutan, dan tidak berani lagi menampilkan identitasnya sebagai kader Golkar. Pasca jatuhnya Soeharto yang merupakan Ketua Dewan Pembina Golkar, banyak pengamat memprediksikan Golkar akan hancur. Tetapi, fakta ternyata berbicara lain. Adalah Akbar Tandjung yang terpilih menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar di Jakarta, 9-11 Juli 1998, yang berhasil menyelamatkan Golkar. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) yang telah lama malang-melintang di dunia politik ini aktif turun ke daerah-daerah untuk memberi semangat kepada kader-kader Golkar. Akbar tak gentar meski di beberapa daerah ia dikejar-kejar oleh massa yang anti Golkar. Akbar dihormati oleh alumni HMI. Banyak alumni HMI yang menjadi pengurus dan kader Golkar di berbagai daerah. Nah, Akbar memanfaatkan jaringan alumni HMI tersebut untuk mempertahankan keberadaan Golkar. Upaya keras Akbar menyelamatkan Golkar berbuah manis. Pada Pemilu 1999 yang merupakan pemilu pertama di era reformasi dan diikuti 48 partai politik, Golkar tetap diperhitungkan. Golkar menduduki posisi kedua di bawah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Ini suatu prestasi yang luar biasa di tengah gencarnya gempuran terhadap Golkar. Pada Pemilu 2004 Golkar berhasil menjadi pemenang. Sedangkan pada Pemilu 2009 Golkar duduk di urutan kedua setelah Partai Demokrat. Demikian pula pada Pemilu 2014 Golkar harus puas menjadi runner up di bawah PDI-P. Salah satu obsesi Golkar adalah memenangkan Pemilu 2019. Hal ini bisa terwujud apabila seluruh pimpinan dan kader bersatu serta bekerja ekstra keras dalam merebut hati rakyat. (Arif RH)