Jokowi Ganti Menteri Gambaran Politik Transaksional?

Jokowi Ganti Menteri Gambaran Politik Transaksional?
Jakarta, Obsessionnews- Setahun pemerintahan Jokowi-JK, isu Reshuffle kembali dihembuskan setelah Agustus (12/2015) lalu dilakukan perombakan 6 posisi menteri dan pejabat setingkat menteri. Wacana reshuffle kali ini diperkuat masuknya Partai Amanat Nasional (PAN) dalam berisan pendukung Jokowi-JK. Dukungan PAN itu dianggap memaksa Jokowi untuk segera masukkan kader-kader PAN dalam barisan kabinet, sekaligus mengganti sebagian anggota kabinetnya baik dari kader parpol maupun figur profesional. Mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Laode Ida menilai Jokowi maupun Jusuf Kalla  meresponnya secara taktis, normatif, diplomatis, sebagaimana diungkapkan ‘reshuffle akan dilakukan berdasarkan evaluasi kinerja menteri’. Meski diakui keputusan reshuffle merupakan hak prerogratif presiden, yang tak bisa dihalangi. Namun menurut Laode, kebijakan gonta-ganti kabinet bisa menimbulkan berbagai presepsi publik. “Pertama, kelabilan jiwa seorang pemimpin negara sehingga sangat mudah dipengaruhi untuk gonta ganti pembantu. Kedua, gambaran kelemahan dalam identifikasi figur untuk posisi pembantu di bidang tertentu. Ini juga bisa terkait dengan yang pertama, yakni kelabilan jiwa sehingga dengan mudah terpengaruh oleh pemikiran sesaat dan atau kepentingan tertentu,” ujarnya pada Obsessionnews.com, Selasa, (20/10/2015). “Ketiga, mencerminkan gambaran politik transaksional yang patuh pada tekanan kelompok yang rebut jatah kekuasaan, walau bukan saja tak punya jasa sejarah melainkan juga lawan yang pernah cederai atau bahkan mengorbankan pendukung sejati,” tambahnya. Menurut Laode, fenomena seperti itu sungguh membahayakan, dan bisa jadi menimbulkan kegaduhan  publik yang disebabkan ketidaktenangan jiwa pemimpin terus melakukan gonta-ganti para pembantunya. “Para pembantu pun akan tak tenang dalam bekerja, karena terus kuatir akan terancam diganti. Padahal harusnya disadari bahwa kinerja menteri tidak hanya ditentukan oleh dirinya sendiri, melainkan juga dipengaruhi oleh suasana batin di bawah koordinasi seorang figur presiden. Kapan presiden tak tenang, labil dan mudah terpengaruh, maka para pembantu dan bahkan masyarakat pun akan ikut alami kegoncangan,” pungkasnya. Mengenai kebijakan gonta-ganti menteri, Laode berharap Jokowi dapat mengintropeksi diri, dan memutuskannya dengan pertimbangan matang. Sebab kata Laode, bangsa yang besar (Indonesia) tidak bisa dikelola dengan cara trial and error. (Asma)