Soal Ajakan Latihan Perang, Menhan dan Panglima TNI Berseberangan

Jakarta, Obsessionnews - Menteri Pertahanan Ryamirzad Ryacudu memiliki pandangan yang berbeda dengan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo soal ajakan Menteri Pertahanan Cina Chan Wanquan untuk mengadakan latihan perang di Laut Cina Selatan bersama negara-negara ASEAN. Menurut Ryamizard, ajakan Menhan Cina itu bukan latihan perang, melainkan ajakan untuk patroli bersama. Patroli itu sifatnya untuk menjaga perdamaian dunia. Sementara latihan perang tujuannya persiapan untuk menghadapi perang. "Oh iya dong, kita ingin membereskan Laut Cina Selatan jangan diliatin doang, dong," ujarnya di DPR, Senin (19/10/2015). Ryamirzad mengatakan, bila ajakan Cina itu untuk menjaga perdamaian dunia, maka, Indonesia punya kewajiban untuk itu. Sesuai dengan amanah UUD 1945. "Dalam pembukaan UUD 1945 kan itu ikut mensukseskan perdamaian dunia, jadi kenapa nggak boleh perang-perang," tuturnya. Ia juga mengaku, sudah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait mengenai hal tersebut. Sementara ini, rencana itu tengah dipersiapkan dengan matang oleh pemerintah Indonesia. "Kami ada persiapan dulu," katanya. Di tempat yang sama Panglima TNI menegaskan, pihaknya tidak akan mengirim pasukan untuk mengadakan latihan perang di Laut Cina Selatan. Sebab, Laut Cina Selatan sampai saat ini masih menjadi daerah konflik antar negara seperti, Filipina, Vietnam dan Thailand. "Yang Pertama Pemerintah Indonesia bertekad untuk wujudkan keamanan dan stabilitas. Kedua, pemerintah mengimbau agar semuanya menghindari untuk tidak laksanakan kegiatan-kegiatan di laut Cina Selatan yang dapatkan tingkatkan tensi stabilitas. Artinya, diajak negara manapun di Cina Selatan Selatan karena tingkatkan stabilitas di sana sebaiknya TNI tak laksanakan itu," ujar Gatot di DPR, Senin (19/10/2015). Secara garis Intruksi Menhan tidak bisa memerintahkan Panglima TNI untuk mengirimkan pasukan. Menhan hanya memfalisitasi anggaran untuk keperluan TNI. (Albar)





























