Ini Bunyi Surat PIA Untuk Presiden Jokowi

Ini Bunyi Surat PIA Untuk Presiden Jokowi
Jakarta, Obsessionnews - Bertempat di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Jakarta, Senin (12/10), 150 orang Perempuan Indonesia Antikorupsi sepakat membuat surat untuk Presiden Jokowi terkait Permintaan Perempuan Indonesia Untuk Hentikan Kriminalisasi terhadap Bambang Widjojanto. Ini bunyi surat selengkapnya: Kepada Yth.Presiden Republik IndonesiaIr. Joko WidodoDi TempatHal: Permintaan Perempuan Indonesia Untuk Hentikan Kriminalisasi terhadap Bambang WidjojantoDengan Hormat,Bapak Presiden Joko Widodo yang terhormat, kami berdoa agar Bapak sehat dan berbahagia selalu. Karena dengan keadaan fisik yang sehat, kami berharap Bapak bisa memimpin Bangsa Indonesia dengan lebih baik lagi. Melalui surat ini kami ingin menyampaikan pernyataan sikap kami sebagai Komunitas Perempuan Indonesia Anti Korupsi terkait kriminalisasi yang dihadapi oleh Komisioner KPK Non-Aktif, Bambang Widjojanto.Kami merasa bahwa apa yang terjadi kepada Saudara kami, Bambang Widjojanto adalah sebuah perbuatan yang menyakitkan hati. Seorang Komisioner KPK yang dicintai publik, tapi dibenci oleh koruptor, kini harus menghadapi proses hukum yang seolah-olah dipaksakan. Ini berarti tidak ada jaminan keamanan bagi kami dari tindak-tindak kriminalisasi dan kesewenang-wenangan aparat penegak hukum, karena jika seseorang seperti saudara kami Bambang Widjojanto saja bisa dikriminalisasi, bagaimana dengan kami yang hanya rakyat biasa?Bapak Presiden Joko Widodo yang terhormat, tentulah Bapak sudah menimbang dengan bijaksana seluruh keputusan yang Bapak keluarkan terkait hal ini, namun izinkanlah kami menyampaikan masukan dan titipan doa untuk anak dan cucu kami kelak. Jika kemudian kriminalisasi terhadap saudara kami, Bambang Widjojanto tidak juga dihentikan, kami khawatir anak dan cucu kami kelak tidak akan mengenal Indonesia yang bebas dari korupsi. Betapa tidak, seorang tokoh pemberantasan korupsi yang di pundaknya kami titipkan harapan membasmi perilaku korup para koruptor, justru dibuat tak berdaya karena tuduhan yang tak berdasar.Bapak Presiden Joko Widodo yang kami hormati, apa yang menimpa saudara kami, Bambang Widjojanto, pernah pula menimpa saudara Chandra M. Hamzah dan Bibit Samad Riyanto. Keduanya adalah Komisioner KPK ketika kriminalisasi juga menjerat mereka, namun tak perlu waktu lama bagi saudara Chandra M. Hamzah dan Bibit Samad Riyanto kembali lagi memimpin KPK setelah deponeering demi kepentingan umum.Bapak Presiden Joko Widodo, apakah upaya pemberantasan korupsi bukan termasuk kepentingan umum? Apakah anak dan cucu kami tidak berhak menikmati Indonesia yang bebas korupsi? Apakah kami tidak boleh bersedih ketika saudara kami diperlakukan dengan seenaknya ketika ditangkap, dan ketika tuduhan-tuduhan tak berdasar diarahkan kepadanya? Ibu Pertiwi pun patut bersedih, ketika salah satu putra terbaiknya diperlakukan dengan tidak adil, bahkan tanpa ada dukungan dari negara, yang seharusnya melindungi warganya, dan turut memperkuat upaya pemberantasan korupsi.Apa yang terjadi kini, membuat kami khawatir dengan anak-anak kami. Jawaban apa yang harus kami berikan kepada mereka ketika mereka bertanya, mengapa orang baik justru dikriminalisasi di bumi pertiwi? Bagaimana jika suatu saat anak kami lebih ingin menjadi koruptor karena tahu mereka akan hidup enak, dibandingkan menjadi pejuang anti korupsi ketika yang berjuang melawan korupsi tidak dapat dilindungi?Bapak Presiden Joko Widodo yang terhormat, kami harap Bapak selalu dalam keadaan sehat, sehingga tonggak tertinggi pemberantasan korupsi tetap bisa Bapak emban terus dengan amanah. Untuk itu Bapak Presiden Joko Widodo, izinkanlah kami meminta kepada Bapak untuk dapat mempertimbangkan penghentian perkara hukum atas nama saudara kami, Bambang Widjojanto. Karena dengan melakukan itu, Bapak Presiden akan memberikan harapan baru bukan saja bagi upaya pemberantasan korupsi, tapi juga bagi kami rakyat awam, untuk sekali lagi bisa percaya, bahwa Indonesia yang bebas korupsi, adalah mungkin.Demi anak, demi cucu, dan demi Bangsa Indonesia kita. Hormat Kami,Perempuan Indonesia Antikorupsi   1.Tri Mumpuni – Profesional - Jakarta 2.Nur Amalia, SH, MDM - Pengacara Publik - Jakarta 3.Anis Hidayah – Direktur Eksekutif Migran Care - Jakarta 4.Sely Martini – Anggota Badan Pekerja ICW - Bandung 5.Inggita Notosusanto – Ibu Rumah Tangga- Jakarta 6.Aulia Wijiasih - WG ESD Indonesia - Jakarta 7.Sita Aripurnami – Peneliti - Jakarta 8. Judhi Kristantini – Konsultan - Tangerang 9. Illian Deta Arta Sari – Mahasiswa - Melbourne 10. Devi Suryani A – Manager Program Pendidikan - Jakarta 11. Meissy Sabardiah – Peneliti - Jakarta 12. Titi Anggraini Mashudi – Direkrut Eksekutif Perludem – Tangerang Selatan 13. Bunga Manggiasih – Pekerja Swasta - Jakarta 14. Nida Zidny Paradhisa – Aktivis - Jakarta 15. Shinto Nugroho – Government Relation - Jakarta 16. Yeni Rosa Damayanti – Aktivis - Jakarta 17. Nurul Almy Hafild – Aktivis - Jakarta 18. Valentina Dwisasanti – Aktivis Lingkungan Hidup - Jakarta 19. Arimbi Heroepoetri – Aktivis HAM - Jakarta 20. Hana A. Satriyo – Aktivis Perempuan- Jakarta 21. Erny Murniasih – Program Development - Jakarta 22. Galuh Pangestu – Communication specialist - Jakarta 23. Livia Iskandar – Social Entrepreneur - Jakarta 24. Woro Supartinah – Aktivis Lingkungan - Riau 25. Dwi Rahardiani – Konsultan - Jakarta 26. Mariati Djamianto – Self Employed - Jakarta 27. Donda Lucia Yuniar Hutagalung – Pengusaha - Jakarta 28. Aryani Murcahyani – Arsitek - Bandung 29. Marintan Sirait – Seniman - Bandung 30. Dwi Retnastuti – Aktivis lingkungan - Bandung 31. Dyah Widiastuti – Policy Planner - Jakarta 32. Nong Darol Mahmada – Aktivis - Jakarta 33. Mila Nuh – Konsultan - Tangerang 34. Paramita Iswari – Aktivis - Jakarta 35. Halimah Tusadiah – Aktivis - Jakarta 36. Rahimah Abdulrahim – Direktur Eksekutif The Habibie Center - Jakarta 37. Sulistiyani – Pengusaha - Jogjakarta 38. Debra Yatim – Editor - Jakarta 39. Anik Wusari – Aktivis - Jakarta 40. Melly Setyawati – Peneliti - Jakarta 41. Catharina Widyasrini – Pengusaha – Tangerang Selatan 42. Mardiyah Chamim – Jurnalis - Jakarta 43. Christine Susanna Tjhin – Peneliti - Jakarta 44. Evie Permata Sari – Konselor- Tangerang 45. Gita Putri Damayana – Mahasiswa - Seattle 46. Indria Fernida Alphasonny – Program Coordinator - Jakarta 47. Galuh Wandita – Aktivis - Denpasar 48. Olga Lydia – Seniman - Jakarta 49. Indry Oktaviani – Aktivis - Jakarta 50. Leony Aurora – Communication Manager - Jakarta 51. Wasingatu Zakiyah – Direktur IDEA - Jogyakarta 52. Gita Syahrani – Pengacara - Jakarta 53. Natalia Warat – Aktivis - Jakarta 54. Dayu Nirma Amurwati – Dosen - Tangerang 55. Mangisi Irene M. Pangaribuan – Aktivis - Jakarta 56. Yanti Nisro Corbett – Peneliti - Jakarta 57. Komang Aryanti – Aktivis - Jakarta 58. Taty Apriliyani – Aktivis - Tangerang 59. Sita Supomo – Konsultan/Ibu Rumah Tangga - Jakarta 60. Hening Purwati Parlan – Aktivis - Jakarta 61. Nabiha Shahab – Aktivis Lingkungan - Jakarta 62. Esti Utami – Aktivis - Jakarta 63. Tini Hadad – Aktivis Perempuan - Jakarta 64. Misiyah – Aktivis - Jakarta 65. Indira Prabandhari – CEO Astana - Jakarta 66. Lia Endiani – Media Specialist - Bandung 67. Josi Khatarina – Peneliti - Jakarta 68. Purwani Diyah Prabandari – Media Production - Jakarta 69. Sari wardani – Aktivis - Jakarta 70. Damairia Pakpahan – Aktivis Perempuan - Jogjakarta 71. Ririn Sefani – Konsultan - Jakarta 72. Etit Gartiah – Pegawai Swasta – Bandung 73. Nisa Rizkiah – Content Writer – Bandung 74. Merisa Dyba – Makeup Artist – Bandung 75. Farah Sofa – PNS – Jakarta 76. Lusi Herlina – Aktivis LSM – Jakarta 77. Zul Haeroni – Profesional – Mataram NTB 78. Endang Suyatin – karyawan swasta – Depok 79. Katarina Floranza – Ibu Rumah Tangga – Kupang 80. Carolina Martha – Legal Reformer – Jakarta 81. Risniati Soewandyo – Karyawan Swasta – Tangerang Selatan 82. Warniati – Karyawan Swasta – Mataram 83. Sinta Savitri – Hakim – Mataram 84. Maya D. Sukmantara – Pengusaha – Mataram 85. Masnawati – Karyawan Swasta – Mataram 86. Margareta Artanti – Mahasiswa – Canberra 87. Utami Gozali – Pensiunan – Colchester 88. Fira Mubayyinah – Dosen – Sidoarjo 89. Rondang Delima – Buruh LSM – Tangerang Selatan 90. Rike Setiawati – Personal Trainer – Bandung 91. Susanti Ramba – Pengusaha – Bandung 92. Nurul Widyaningrum – Mahasiswa – Albany, New York 93. Karina Waksman – Ibu Rumah Tangga – Bandung 94. Wahidah Suaib Wittoeng – Election Advisor – Jakarta 95. Ramalis Sobandi – Arsitek – Bandung 96. Fahriatul Amanda – Pekerja Sosial – Sumbawa Besar 97. Amalia Ahmad – Produser TV – Jakarta 98. Cut Marini Dara Cora – Dosen – Banda Aceh 99. Myrna A. Safitry – Dosen – Depok 100. Wahidah Rustam – Aktivis - Jakarta 101. Permata Andhika Rahardja – Body Movement Specialist - Bandung 102. Prayekti Murharjanti – Mahasiswa – Sydney 103. Nurhastuty K. – Mahasiswa - Queensland 104. Maria Anggraini – Seniman - Jakarta 105. Gudrun Suharto – Etnolog – Jakarta 106. Sri Hariani – Finance Manager – Bekasi 107. Suli H. Murwani – Penulis – Jakarta 108. Meita Darussalam – Ibu Rumah Tangga – Jakarta 109. Ifa H. Misbach – Dosen – Bandung 110. Srisetiowati Seiful – Praktisi Pengembangan Pendidikan – Tangerang 111. Betti Alisjahbana – Konsultan Manajemen dan Kepemimpinan – Jakarta 112. Amalia – Ibu Rumah Tangga – Bandung 113. Susy Aisyah Nataliawati – Peneliti Kejepangan dan Perkotaan – Jakarta 114. Diana Iskandar – Konsultan Teknik Lingkungan – Jakarta 115. Sri Bimastuti Abimanju – Arsitek – Jakarta 116. Afrianti Wulandari Tanti – Dosen – Tangerang Selatan 117. Nur – Aktivis LBH– Pangkal Pinang 118. Septaria Elidalni Bangun – Aktivis Pemberdayaan Masyarakat – Bekasi 119. Elvirina – Karyawati – Jakarta 120. Lelyana Santosa-Advokat-Jakarta 121. Anita Wahid- Aktivis- Jakarta 122. Smita Notosusanto- profesional- Jakarta 123. Grace Natalie – Profesional – Jakarta 124. Siti Munawiroh - Guru-Jawa Timur 125. Hernawati - Guru- Jawa Timur 126. Ayu Rachmaningtyas – Aktivis – Jakarta 127. Asri Tri Undari – Aktivis – Solo 128. Bella Lizawana – Banker – Surabaya 129. Inayatul Wahidyah – Psikolog – Jawa Timur 130. Irene Silvia – Banker – Jakarta 131. Dian Kartika Dewi – Karyawati – Surabaya 132. Ratna Tyas – Karyawati – Jakarta 133. Almas Ghalya Putri – Aktivis – Jakarta 134. Rina Febrina Sari – Guru- Jakarta 135. Almira Elyan – Karyawati – Jawa Timur 136. Maynita Greceh Locok – Karyawati – Balikpapan 137. Igsana Cyntia – Dokter – Jawa Timur 138. Elita Barbara – Dokter – Jogjakarta 139. Rosalian Anisakh – Guru – Jawa Timur 140. Cie Yusella – Aktivis – Depok 141. Aisy Ilfiyah – Aktivis – Jakarta 142. Desak Putu Sinta – Mahasiswa – Jakarta 143. Dian Amelia – Ibu Rumah Tangga – Surabaya 144. Esti Wilujeng – Ibu Rumah Tangga – Jawa Timur 145. Bernasha Cassa – Pengusaha – Jawa Timur 146. Memey Framesky – Dokter- Jawa Timur 147. Elok Novia Puri – Dokter - Surabaya 148. Hannum Wulan – Wiraswasta – Jakarta 149. Jane Sandra – Aktivis – Jakarta 150. Ruri Kusuma Wardhani – Ibu Rumah Tangga – Jawa Timur. (Dudy Supriyadi)