Harga Minyak Anjlok, Saudi Hadapi Keterpurukan Ekonomi

Arab Saudi - Pemerintah Arab Saudi mengumumkan kebijakan pengetatan ekonomi karena sedang menghadapi keterpurukan. Menurut laporan koran Rai al-Youm, Jumat (9/10/2015), Raja Salman bin Abdulaziz telah menyampaikan kebijakan pengetatan ekonomi dan langkah-langkah penghematan untuk diterapkan di semua departemen pemerintah, sebab Kerajaan mengalami defisit anggaran sebesar 20 persen. “Kebijakan itu mencakup pemangkasan anggaran perjalanan dinas dan penghentian proyek-proyek baru serta pengurangan subsidi bahan bakar, listrik, air dan beberapa kebutuhan lainnya,” tulis Rai al-Youm mengutip keterangan beberapa pejabat ekonomi di negara-negara Teluk Persia. Sementara itu, The Guardian Inggris dalam edisi Jumat, membocorkan memo rahasia Raja Salman kepada menteri keuangan yang dikeluarkan pada 28 September. Dokumen itu menekankan pengurangan pengeluaran pemerintah pada bulan-bulan yang tersisa di tahun 2015. Memo "Sangat Rahasia dan Paling Mendesak" ini memberikan instruksi tegas untuk menghentikan proyek-proyek baru, mengakhiri pembelian setiap kendaraan baru, perabotan atau peralatan lainnya, membekukan semua janji dan promosi dan menghentikan pembayaran kompensasi untuk properti. Pendapatan minyak Saudi merosot tajam akibat anjloknya harga minyak yang mencapai di bawah 50 dolar per barel, padahal 90 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu sangat tergantung pada penjualan minyak. Di pasar bursa, indeks saham Arab Saudi juga melorot sekitar 30 persen dalam 12 bulan terakhir dan pemerintah Riyadh terpaksa menggunakan sekitar 75 miliar dolar cadangan devisanya untuk mengatasi defisit anggaran dan masalah finansial lainnya, terutama biaya besar perang di Yaman dan Suriah. (irib.ir)





























