Pengamat Kuatir Rupiah Bisa Terbanting

Pengamat Kuatir Rupiah Bisa Terbanting
Jakarta – Pengamat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Jakarta, Salamuddin Daeng menilai, penguatan rupiah akhirnya berakhir, Bank Indonesia (BI) telah mengorbankan devisa cukup besar untuk intervensi. Devisa berkurang dari 105 miliar dolar menjadi 101 miliar dolar. “Hari ini rupiah kembali melemah, satu-satunya paket kebijakan yang paling kongkrit yakni penurunan harga BBM ternyata tanggung, tidak signifikan dan tidak akan menolong ekonomi yang tengah sekarat,” tandasnya, Kamis (8/10/2015). Salamuddin Daeng menegaskan, penurunan harga BBM (bahan bakar minyak) yang secuil (cuma Rp200) tidak membantu industri dan usaha kecil menengah untuk bangkit dari kebangkrutan. “Demikian juga inflasi yang tinggi dan daya beli masyarakat yang jatuh membuat investasi tidak ada harapan,” papar Peneliti The Indonesia for Global Justice (IGJ) ini. “Ditambah dengan suku bunga tertinggi di ASEAN mmbuat industri tidak kompetitif kalah bersaing dengan negara ASEAN lainnya,” imbuhnya. Kalau penurunan harga energi tanggung begini dan bunga tidak turun separuh, lanjut dia, tampaknya ekonomi tidak akan meroket sebagaimana janji Presiden Jokowi. “Bisa-bisa rupiah yang membumbung bisa terbanting lagi hingga patah tulang,” tutur Salamuddin Daeng mengingatkan. (Ars)