Kabut Asap Pekat, Pemerintah Belum Liburkan Sekolah

Padang, Obsessionnews - Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) belum mengambil kebijakan untuk meliburkan siswa sekolah akibat kabut asap berkepanjangan. Preses belajar mengajar semua tingkatan, masih tetap dilakukan seperti biasa. Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah mengatakan, meliburkan siswa harus melalui sejumlah indikator, antara lain, pencemaran udara sudah membahayakan bagi kesehatan. Hasil pengukuran terhadap kualitas udara berdasarkan PM10 menunjukkan kategori Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tidak sehat. Disamping itu, penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang terpapar akibat kabut asap belum terjadi peningkatan secara signifikan. "Dengan adanya kabut asap ini belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Ispa," kata Mahyeldi dalam keterangan pers kepada wartawan, Kamis (8/10). Mahyeldi Ansharullah ang didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Habibul Fauadi, Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kota Padang, Edi Hasymi, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Eka Lusti, Kepala Badan Penanggulagan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Dedi Henidal dan Kepala Biro Humas dan Protokoler Pemerintah Kota Padang, Mursalim, mengatakan, berdasarkan parameter dan indikator itu, Pemko Padang belum meliburkan siswa sekolah "Dengan data yang kita miliki ini, inilah yang melandasi, kita belum meliburkan siswa sekolah di Kota Padang," ujar Mahyeldi. [caption id="attachment_65523" align="aligncenter" width="640"]
Edi Hasymi[/caption] Meski siswa semua tingkatan belum diliburkan akibat kabut asap yang semakin tebal, kepada orangtua siswa diminta supaya memakaikan masker kepada anak mereka sejak dari rumah ke sekolah. "Dengan upaya itu dapat mengurangi dampak buruk terhadap kesehatan akibat kabut asap," kata Mahyedi. Kepada kepala sekolah dan majelis guru diminta supaya mengurangi aktivitas kegiatan belajar di luar kelas, seperti kegiatan olahraga. Apabila keluar ruangan, baik majelis guru terutama siswa untuk selalu memakai masker. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Eka Lusti mengatakan, meski kasus Ispa di Kota Padang sepanjang September meningkat dibanding bulan Agustus, jumlahnya tidak terlalu signifikan. [caption id="attachment_65524" align="aligncenter" width="640"]
eka lusti[/caption] Dinas kesehatan mencatat, kasus Ispa sepanjang September terdapat 8.835 kasus atau sekitar 6,30 persen dari 140.151 kunjungan ke puskesmas. Kasus tersebut meningkat 2.262 kasus selama bulan Agustus 2015. "Kalau peningkatan kasus Ispa sudah terjadi dua kali lipat, bisa jadi menjadi pertimbangan untuk mengeluarkan siaga darurat," kata Eka Lusti. Hal yang sama diungkapkan Kepala Bapedalda Kota Padang, Edi Hasymi. Kualitas udara berdasarkan PM10 menunjukkan kategori Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Padang, tidak sehat. "Dari empat hari pengujian yang kita lakukan, konsentrasi PM10 paling parah pada Rabu tanggal 7 Oktober kemaren. Konsentrasi PM10 mencapai 233,23 mikrogram per meter kubik meskipun selama empat hari itu kualiutas udara Kota Padang tidak sehat," ujar Edi Hasymi. (Musthafa Ritonga)
Edi Hasymi[/caption] Meski siswa semua tingkatan belum diliburkan akibat kabut asap yang semakin tebal, kepada orangtua siswa diminta supaya memakaikan masker kepada anak mereka sejak dari rumah ke sekolah. "Dengan upaya itu dapat mengurangi dampak buruk terhadap kesehatan akibat kabut asap," kata Mahyedi. Kepada kepala sekolah dan majelis guru diminta supaya mengurangi aktivitas kegiatan belajar di luar kelas, seperti kegiatan olahraga. Apabila keluar ruangan, baik majelis guru terutama siswa untuk selalu memakai masker. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Eka Lusti mengatakan, meski kasus Ispa di Kota Padang sepanjang September meningkat dibanding bulan Agustus, jumlahnya tidak terlalu signifikan. [caption id="attachment_65524" align="aligncenter" width="640"]
eka lusti[/caption] Dinas kesehatan mencatat, kasus Ispa sepanjang September terdapat 8.835 kasus atau sekitar 6,30 persen dari 140.151 kunjungan ke puskesmas. Kasus tersebut meningkat 2.262 kasus selama bulan Agustus 2015. "Kalau peningkatan kasus Ispa sudah terjadi dua kali lipat, bisa jadi menjadi pertimbangan untuk mengeluarkan siaga darurat," kata Eka Lusti. Hal yang sama diungkapkan Kepala Bapedalda Kota Padang, Edi Hasymi. Kualitas udara berdasarkan PM10 menunjukkan kategori Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Padang, tidak sehat. "Dari empat hari pengujian yang kita lakukan, konsentrasi PM10 paling parah pada Rabu tanggal 7 Oktober kemaren. Konsentrasi PM10 mencapai 233,23 mikrogram per meter kubik meskipun selama empat hari itu kualiutas udara Kota Padang tidak sehat," ujar Edi Hasymi. (Musthafa Ritonga) 




























