Ideologi Pancasila Diajarkan di Forum ASEAN

Kuala Lumpur, Obsessionnews - Dalam acara ASEAN Roundtable Forum yang digelar di Kantor Kementerian Luar Negeri Malaysia, Indonesia diberikan kesempatan untuk menyampaikan butir-butir Pancasila sebagai ideologi negara. Kesempatan itu tidak diberikan kepada negara-negara lain. Adalah Nazaruddin Nasution, yang diberi kesempatan menyampaikan falsafah Pancasila melalui tema besarnya Moderate Islam and Pancasila in Indonesia. Ia menjelaskan, seperti halnya negara lain, Indonesia juga ada konflik. Namun, konflik tersebut lebih kepada persoalan ekonomi dan politik, bukan soal agama. Menurutnya, Indonesia menjadi negara aman dan damai lantaran menganut idelogi Pancasila. Ideologi yang digagas oleh para pendiri bangsa ini, terbukti bisa menyatukan Indonesia sebagai negara kesatuan, meski memiliki karakter masyarakat majemuk dengan perbedaan suku, budaya, dan agama. "Kita harus berterima kasih pada seluruh pendiri Indonesia yang telah mewariskan Pancasila," ujar Nazaruddin usai presentasi di Ruangan Treaty, Kementerian Luar Negeri Malaysia Minggu (4/10/2015). Bahkan, mantan Dubes RI untuk Kamboja ini berani menyampaikan ke peserta forum, agar negara-negara ASEAN mau belajar dari Pancasila. Ia yakin, bila itu dilakukan, mampu menjaga perdamaian di negara-negara ASEAN. Sebab, lima sila Pancasila mudah dimengerti dan dipahami. “Pancasila ini dapat dibaca dan dipelajari oleh anak-anak muda di ASEAN, karena mengandung nilai-nilai yang jika dipraktekkan dengan baik akan mampu menjaga perdamaian ASEAN dan dunia," tuturnya. [caption id="attachment_64843" align="aligncenter" width="640"]
Nazaruddin Nasution Mempresentasikan Pancasila dan ASEAN di ASEAN Roundtable Forum di Kuala Lumpur 04 Oktober 2015(1)[/caption] Sementara itu, Hariqo Wibawa Satria dari Komunitas Peduli ASEAN mengatakan, untuk menguatkan integrasi ASEAN, perlu memaksimalkan pemanfaatan internet dan media sosial. Menurutnya, media sosial dapat mempercepat integrasi ASEAN yang produktif, namun media sosial juga bisa merusak integrasi ASEAN. “Bukan hal yang tidak mungkin, jika pemicu ketegangan antarnegara ASEAN terjadi karena media sosial, atau bisa saja ada pihak yang ingin ASEAN tidak stabil, kita harus cek segala informasi yang disebarkan tentang suatu negara," jelasnya. Hariqo yang juga Direktur Eksekutif Komunikonten ini, mengusulkan agar ada semacam kesepahaman untuk menggunakan media sosial dengan benar di ASEAN. “Di media sosial kita juga bisa cek berapa banyak yang membicarakan, mengkritik ASEAN,” ungkap Hariqo. ASEAN Roundtable Forum diketahui dihari 80 orang penggiat ASEAN dan para pakar dari seluruh negara ASEAN. Kegiatan ini diadakan Institute of Diplomacy and Foreign Policy Relations (IDFR) di Kementerian Luar Negeri Malaysia, Jalan Wisma Putra, 50460 Kuala Lumpur, Malaysia. Diundang juga dari Indonesia, Ibrahim Yusuf (Chairman of Executive Board of ICWA), Dr. Musni Umar (Sosiolog dan Eminent Persons Group), Diana Putri Arini (Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta). Ibrahim Yusuf memandu diskusi tentang peran NGO di ASEAN, sedangkan Musni Umar mempresentasikan "Democracy and Human Right in Indonesia". (Albar)
Nazaruddin Nasution Mempresentasikan Pancasila dan ASEAN di ASEAN Roundtable Forum di Kuala Lumpur 04 Oktober 2015(1)[/caption] Sementara itu, Hariqo Wibawa Satria dari Komunitas Peduli ASEAN mengatakan, untuk menguatkan integrasi ASEAN, perlu memaksimalkan pemanfaatan internet dan media sosial. Menurutnya, media sosial dapat mempercepat integrasi ASEAN yang produktif, namun media sosial juga bisa merusak integrasi ASEAN. “Bukan hal yang tidak mungkin, jika pemicu ketegangan antarnegara ASEAN terjadi karena media sosial, atau bisa saja ada pihak yang ingin ASEAN tidak stabil, kita harus cek segala informasi yang disebarkan tentang suatu negara," jelasnya. Hariqo yang juga Direktur Eksekutif Komunikonten ini, mengusulkan agar ada semacam kesepahaman untuk menggunakan media sosial dengan benar di ASEAN. “Di media sosial kita juga bisa cek berapa banyak yang membicarakan, mengkritik ASEAN,” ungkap Hariqo. ASEAN Roundtable Forum diketahui dihari 80 orang penggiat ASEAN dan para pakar dari seluruh negara ASEAN. Kegiatan ini diadakan Institute of Diplomacy and Foreign Policy Relations (IDFR) di Kementerian Luar Negeri Malaysia, Jalan Wisma Putra, 50460 Kuala Lumpur, Malaysia. Diundang juga dari Indonesia, Ibrahim Yusuf (Chairman of Executive Board of ICWA), Dr. Musni Umar (Sosiolog dan Eminent Persons Group), Diana Putri Arini (Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta). Ibrahim Yusuf memandu diskusi tentang peran NGO di ASEAN, sedangkan Musni Umar mempresentasikan "Democracy and Human Right in Indonesia". (Albar) 




























