Indonesia Krisis Petani, Kurikulum Pendidikan Perlu DItinjau

Jakarta, Obsessionnews – Indonesia mulai mengalami regenerasi petani di pedesaan. Itu yang disampaikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mencegah itu, pemerintah dan swasta, serta masyarakat sipil harus menciptakan lapangan pekerjaan di desa. Selain itu, perlunya pemerintah meninjau kembali pendidikan sekolah tingkat dasar, agar para pemuda dipedesaan semakin kreatif dan tidak merasa terasing, lalu memilih tinggal didesa. "Perlu dilakukan peninjauan kurikulum pendidikan sekolah di tingkat dasar agar tidak mengasingkan anak-anak, remaja dan pemuda desa dari lingkungan tempat hidupnya dan agar mereka menjadi kreatif," ujar Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI lainnya Gutomo Bayu Aji dalam diskusi publik dan pemutaran film ‘Srono Urip: Modernisasi dan Krisis Regenerasi Petani di Pedesaan’ di Gedung LIPI, Jakarta, Jumat (2/10/2015). Ia menjelaskan, agar regenerasi petani berjalan dengan baik, pemerintah bersama-sama dengan sektor swasta dan masyarakat sipil perlu menciptakan variasi lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan pemuda di pedesaan.
Sementara itu, Koordinator Penelitian yang juga Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI YB Widodo menerangkan, berdasarkan hasil pengamatan atau penelitian sementara, modernisasi yang dijalankan melaui keluarga, sekolah, sawah dan aktivitas non pertanian telah membentuk pemuda pedesaan sebagai sumber daya manusia yang bersifat modern. Pemuda pedesaan yang modern ini berpengaruh terhadap perilaku mobilitas penduduk usia muda di pedesaan melalui fenomena imigrasi dari desa ke kota yang pada akhirnya berdampak ditinggalkannya pertanian skala kecil pedesaan," ungkap YB Widodo. Dikatakannya, tim peneliti LIPI juga melihat modernisasi di pedesaan menjadi pendorong perubahan sosial terutama perubahan pandangan terhadap ‘aset’ sosial, ekonomi dan budaya menjadi ‘modal’ sosial, ekonomi dan budaya. Contoh sederhananya adalah pemuda sebagai generasi penerus tidak serta merta mewarisi keterampilan pertanian dari orang tua atau komunitas masyarakatnya karena modernisasi di bidang keluarga sekolah, sawah dan aktivitas non pertanian justru mengasingkan mereka dari lingkungan tempat hidupnya. (Popi Rahim)
Sementara itu, Koordinator Penelitian yang juga Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI YB Widodo menerangkan, berdasarkan hasil pengamatan atau penelitian sementara, modernisasi yang dijalankan melaui keluarga, sekolah, sawah dan aktivitas non pertanian telah membentuk pemuda pedesaan sebagai sumber daya manusia yang bersifat modern. Pemuda pedesaan yang modern ini berpengaruh terhadap perilaku mobilitas penduduk usia muda di pedesaan melalui fenomena imigrasi dari desa ke kota yang pada akhirnya berdampak ditinggalkannya pertanian skala kecil pedesaan," ungkap YB Widodo. Dikatakannya, tim peneliti LIPI juga melihat modernisasi di pedesaan menjadi pendorong perubahan sosial terutama perubahan pandangan terhadap ‘aset’ sosial, ekonomi dan budaya menjadi ‘modal’ sosial, ekonomi dan budaya. Contoh sederhananya adalah pemuda sebagai generasi penerus tidak serta merta mewarisi keterampilan pertanian dari orang tua atau komunitas masyarakatnya karena modernisasi di bidang keluarga sekolah, sawah dan aktivitas non pertanian justru mengasingkan mereka dari lingkungan tempat hidupnya. (Popi Rahim) 




























