Perlu Dijelaskan Siapa yang Berada di Belakang PKI

Perlu Dijelaskan Siapa yang Berada di Belakang PKI
Jakarta, Obsessionnews - Tanggal 1 Oktober adalah peringatan Kesaktian Pancasila (KP). Ideologi Indonesia itu menyimpan makna penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini, dimana saat itu ideologi Pancasila selamat dari ancaman komunis melalui G30S PKI tahun 1965. Menurut mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Laode Ida, momentum peringatan hari Kesaktian Pancasila tidak sekedar ritual peringatan namun perlu ada penyadaran pada masyarakat, penanaman keasadaran nasionalime. “Hari ini, sebenarnya tak hanya perlu ritual peringatan, melainkan harus disadarkan apa sebenarnya di balik peristiwa upaya pendongkelan Pancasila itu,” ungakpnya pada Obsessionnews.com Kamis, (1/10/2015). Laode menyerukan, perlu kembali menceritakan momentum pemberontakan PKI saat itu sebagai ilmu sejarah para generasi muda. “Siapa PKI itu? Dari mana dia? Siapa yang berada di belakang PKI? Semua ini harus dijelaskan agar perjalanan bangsa ke depan bisa lurus. PKI merupakan parpol pembawa ideologi komunis, itu tidak bisa disangkal,” tandasnya. Menurutnya, secara substansial ideologi Komunis identik dengan pemikiran-pemikiran sosial Karl Marx. Dalam proses penyelenggara, komunisme sangat eksis di dua negara besar, yakni Rusia dan Cina. Namun di Rusia, kini mulai sedikit memudar sebagai dampak demokratisasi dan tercerai berai jadi beberapa negara (balkanisasi). "Tapi Cina beda. Partai Komunis di Cina masih gencar dikumandangkan. Meskipun partai komunis di sana sebagai partai tunggal namun di abad 21 ini Partai Komunis di Cina masih sangat kokoh, meskipun gerakan ekonominya saat ini sedikit ke arah pasar.Tapi pada dasarnya pemahaman ideologi komunis tidak akan pernah hilang," tandas Laode. “Hanya yang perlu dicatat, idelogi komunisme tak akan hilang apalagi dalam kendali kuasa negara. Dan kembali pada pendukung PKI Indonesia dulu, jelas salah satunya adalah negara dan kaki tangan Cina. Dan konon, termasuk di Indonesia, tak sedikit turunan Cina yang mendukung PKI. Ini artinya, dalam komunisme politik dengan negara dan elemen-elemen Cina sebenarnya harus selalu dalam tingkat kehati-hatian yang tinggi, karena kita punya pengalaman dan luka sejarah ideologi yang dalam,” kenang mantan Aktivis ini. Laode menyatakan sungguh aneh, sekarang saja justru negara Indonesia kembali hendak berkiblat ke Cina. Ia pun menilai Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia hendak diserahkan untuk dikelola oleh para pebisnis Cina. “Termasuk akan kebijakan yang jadikan warga Cina berbondong-bondong ke negara ini. Ada apa ini? Bagi saya, Presiden Jokowi harusnya menganulir semua kebijakan pemberian kemudahan terhadap negara yang pernah secara ideologi membahayakan bangsa ini,” ungkapnya. (Asma)