Awal Oktober, Pemodal Digerakkan Sejumlah Sentimen

Jakarta, Obsessionnews - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin, Rabu (29/9), berhasil melanjutkan rebound dan ditutup di atas 4.200 yaitu di 4223,908 atau menguat 45,50 poin (1,1%) di 4223,908. Penguatan pada perdagangan akhir kuartal tiga kemarin, terutama ditopang optimisme pasar terhadap paket kebijakan ekonomi tahap II yang diumumkan hari sebelumnya dan pergerakan positif di sejumlah pasar saham global dan kawasan. Nilai tukar rupiah atas dolar AS kemarin, turut menguat 0,5% di Rp 14.657 pasca pengumuman kebijkaan paket ekonomi tahap II. Membaiknya sentimen pasar, juga tercermin dari mulai masuknya kembali dana asing di pasar saham setelah sejak 15 September lalu terus mencatatkan nilai penjualan bersih. Kemarin, nilai pembelian bersih asing mencapai Rp288 miliar. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar pun menjadi penopang penguatan IHSG kemarin. Salah satu kebijakan pemerintah dalam paket ekonomi tahap II adalah memberikan potongan pajak atas deposito devisa hasil ekspor dinilai akan mendorong para eksportir untuk menyimpan devisa hasil ekspornya lebih lama di sistem perbankan dalam negeri. Apabila ini terjadi, maka bakal memberi peluang penguatan rupiah atas dolar AS. Pengamat pasar modal David Setyanto menilai, meski demikian, pasar saham sepanjang September lalu melanjutkan tren bearish dengan koreksi hingga 6,34% melanjutkan koreksi bulan sebelumnya 6,10%. Sedangkan nilai tukar rupiah atas dolar AS sepanjang September anjlok hingga 4,5%. Sementara itu, bursa saham global tadi malam menutup akhir kuartal tiga berhasil rebound. Indeks Eurostoxx di zona Euro naik 2,34% di 3100,67. Indeks DJIA dan S&P di Wall Street menguat masing-masing 1,47% dan 1,91% tutup di 16284,70 dan 1920,03. Harga minyak mentah naik tipis 0,29% di 45,36 dolar AS perbarel. Penguatan di Wall Street sendiri, dipicu aksi window dressing pemodal menutup akhir 3Q15 dan rebound saham-saham berbasiskan teknologi dan bioteknologi setelah beberapa sesi terakhir tertekan. Memasuki perdagangan awal Oktober ini, pemodal akan digerakkan dengan sejumlah sentimen data ekonomi makro seperti dari dalam negeri data inflasi, dan dari kawasan data final manufacturing indeks China. IHSG sendiri diperkirakan akan bergerak dengan support di 4170 dan resisten di 4270 berpeluang melanjutkan penguatan terutama juga ditopang potensi penguatan rupiah atas dolar AS.(Mahbub Junaidi)





























