Tak Ada Data Pasti, Pemerintah Bingung Soal Jumlah si Miskin

Tak Ada Data Pasti, Pemerintah Bingung Soal Jumlah si Miskin
Jakarta, Obsessionnews - Berapa angka patokan untuk mengukur seseorang miskin atau tidak di negeri ini ? Menurut Uchok Sky Khadafi, direktur Centre for Budget Analysis, pemerintah belum memiliki itu demi memetakan jumlah rakyat miskin Indonesia. Menurut Uchok, ketidak tersediaan data resmi tersebut bisa terlihat dari banyaknya angka yang dimiliki pemerintah guna menentukan berapa besar anggaran serta kebijakan. Akhirnya, pemerintah kebingungan soal angka pasti kemiskinan di Indonesia. Sebab menurut Badan Pusat Statistik (BPS) ada 28 juta rakyat miskin. Sementara Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bilang ada 88,2 juta, dan data beras miskin dari Badan Urusan Logistik (Bulog) menyebut jumlah orang miskin mencapai 15,5 juta jiwa. "Mana yang mau dipakai?" kata Uchok. Uchok sangat yakin, kalau pemerintah bakal kesulitan dalam mengucurkan bantuan hingga menilai optimalisasi kebijakan yang dikeluarkan. Belum lagi, pemerintah saat ini menitik beratkan fokus pekerjaannya pada pembangunan infrastruktur yang akhirnya tidak berdampak langsung pada orang miskin tapi lebih kepada penanam modal. Soal program infrastruktur, meski anggaran banyak disediakan untuk menyedot hasrat investor dan bertujuan menggerakkan roda ekonomi nasional, sampai saat ini belum ada dampak yang dirasa sangat berpengaruh atas kebijakan itu. Sebab, pemilik modal justru membawa dananya keluar Indonesia lantaran kondisi negeri ini memang tidak jelas. Asal tahu saja. Hingga saat ini investor asing menguasai 38% dari total porsi obligasi di Indonesia. Lantaran perekonomian terus melemah, sepanjang 2015 ini, jumlah capital outflow mencapai Rp 7,58 triliun hingga sukses membikin kurs rupiah anjlok dan Indeks Harga Saham Gabungan terus memble. Sementara itu, jumlah cadangan devisa yang disimpan Bank Indonesia tercatat sebesar 105,3 miliar dolar AS. Angka ini, turun 2,3 miliar dolar AS ketimbang akhir Juli 2015 lalu sebesar 107,6 miliar dolar AS. Dengan keadaan seperti ini, akhirnya ada yang menilai kalau program penggerakan roda ekonomi itu gagal memberesi persoalan kemiskinan di Indonesia. Salah satunya ya Uchok itu. Sampai Maret 2015, BPS menyebutkan jumlah penduduk miskin bertambah 310 orang hingga menyentuh angka 28,59 juta jiwa. Pemicunya adalah, penurunan pendapatan oleh masyarakat bahkan kehilangan pekerjaan. Belum lagi harga-harga komoditi pokok terus naik bahkan ogah turun. Lantas, bagaimana cara ideal mengukur kemiskinan ? Bisa jadi begini. Pendapatan tiap bulan berupa gaji kudu dibandingkan dengan ongkos pengeluaran wajib seperti makan, minum, tarif listrik, sewa rumah, pembelian bahan bakar minyak, serta rokok kalau perlu. (Mahbub Junaidi)