Prof Sri Edi Prihatin, Kampus-kampus Kita Ajarkan Neolib

Jakarta, Obsessionnews - Ekonom senior yang juga guru besar ekonomi Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Sri Edi Swasono menyerukan bahwa yang pertama-tama harus kita bangun adalah Rakyat, Bangsa dan Negara. “Bukan bangun Rupiah lalu bingung pilih pakai Dollar atau Yuan, lah norak dan sepele banget!” serunya melalui pesan BBM, Minggu (27/9/2015). “Bangunlah ekonomi nasional kita, bangun ekonomi rakyat yang low cost dan resources-based ini, yang dukung hidup sehari-hari rakyat dan anda (yang sediakan kehidupan murah bagi kita semua), yang dukung ekonomi nasional,” tegas mantan Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) ini. Sri Edi mengungkapkan, investor asing sudah masuk ke Indonesia sejak 1967, terbukti tidak bisa sejahterakan kita. “Malah eksploitatif nyedotin kita. Kita tidak anti asing, tidak xenophobic, tetapi sejak awal Soekarno dan Hatta ingatkan kita agar investasi asing tidak mendominasi (overheersen) ekonomi nasional,” tandasnya. Menurut Sri Edi, kita harus tetap menjadi Tuan di Negeri Sendiri sesuai makna Proklamasi 1945. “Ekonomi nasional harus dibangun seiring dengan ideologi nasional, dengan semangat Kebangsaan dan Kerakyatan,” papar menantu Bung Hatta ini. Ia pun mengingatkan, Bung Hatta selalu menegaskan bahwa investasi asing, bahkan pinjaman luar negeri, tujuannya haruslah untuk meningkatkan kemandirian nasional. “Sekarang kemandirian nasional digadai-gadaikan, kedaulatan nasional (Ibu Pertiwi) dijualbelikan sebagai komoditi dagang. Daulat Rakyat digusur oleh Daulat Pasar, pembangunan menggusur orang-orang miskin, bukan menggusur kemiskinan,” bebernya. “Kita tidak risih jadi jongos globalisasi, menjadi aborigin sevil. Kampus-kampus kita mengajarkan gospel neoliberalisme, sok pasar-bebas laissez-faire, menghasilkan teknokrat-teknokrat yang tidak ngerti strukturalisme ekonomi sebagai syarat menjadi Merdeka sesuai Sila kelima Pancasila,” ungkapnya prihatin. Sri Edi juga menilai, Teknokratisme Indonesia mewajarkan LoI-nya Candessus, yang tanpa KMB II terjadi "penyerahan" (balik) kedaulatan ke asing. “Omong kosong kalau bilang ngerti Trisakti Soekarno. Omong kosong kalau bilang ngerti Demokrasi Ekonomi Hatta,” sindirnya. (Ars)





























