He…He..Hee… Kata Laode, Simbol Go-Jek Lecehkan HMI

He…He..Hee… Kata Laode, Simbol Go-Jek Lecehkan HMI
Jakarta, Obsessionnews - Go-Jek sedang menjadi trending topic warga Ibukota. Go-Jek merupakan alat transportasi bisnis system aplikasi dilengkapi mesin pencari google, dengan bersimbolkan warna baju Hijau-Hitam. Pakaian keseragaman mereka jaket hijau campur hitam dan helm hijau. Per April 2015 Go-jek berkembang pesat dan menjadi kendaraan bergensi roda dua yang diminati masyarakat, khususnya tingkat menengah. Peminatnya per April 2015 sudah mencapai 3.000 orang. Mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Laode Ida menilai ada yang mengesankan ketika memperhatikan soal jaket dan simbol Go-Jek yang berwarna hijau-hitam. Menurutnya, simbol warna tersebut sudah digunakan oleh organisasi ekstra kampus, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan 1947 lalu. Simbol itu, kata Laode, juga tidak pernah digunakan dalam kepentingan komersil. “Organisasi ini turut berjasa baik dari pergerakan kenegaraan dan pemerintahan pasca kemerdekaan. Dan rasa-rasanya, simbol warna atributnya itu tak pernah digunakan untuk kepentingan bisnis. Tapi mengapa kini ada yang begitu berani menggunakan atribut HMI itu untuk bisnis bersepeda motor di Ibukota? Kok begitu berani sang pebisnis itu? Atau apakah bisnis itu juga bagian dari elemen “Hijau Hitam”? Ataukah sudah dapat restu dari sebagian dedengkot HMI?“ ungkapnya kepada Obsessionnews.com dengan nada heran, Jumat (25/9/2015). Sejumlah pertanyaan itu sampai saat ini belum terjawab. Namun, tukas Laode, beberapa komentar yang beredar lewat broadcasting via BBM (Blackberry Messenger) mesti ditanggapi dengan serius oleh elemen “hijau hitam” yang ada sekarang ini. HMI - Secara pribadi Laode pun menilai pengenaan simbol atribut Go-Jek bagian daripada sikap pelecehan terhadap organisasi HMI yang pernah memperjuangkan bangsa ini. “Bagi saya, pengguna simbol atribut HMI itu oleh pebisnis Go-Jek bisa dianggap sebagai pelecehan terhadap organisasi kader intelektual ternama di negeri ini,” tutur Mantan Aktivis ini. Namun tanpa menyalahkan sepenuhnya Laode menganulir bisa saja pemibisnisnya tidak sadar akan penggunaan warna atribut HMI itu, sehingga Laode juga mengajukan agar Go-Jek segera mengganti warna atributnya.“Sehingga oleh karenanya,menurut saya perlu diingatkan untuk segera menggantinya,” usulnya. Menurut Laode, tidak menuntut kemungkinan ketika dihadapkan dengan orang awam, HMI akan disebut sebagai perkumpulan tukang Go-jek. Hal ini diandaikan Laode,jika HMI berkumpul menggunakan atribut lengkap, maka katanya tak mustahil orang awam akan menganggapnya sebagai kumpulan “tukang Go-Jek yang sedang demo atau antri nunggu gaji dari majikannya. Apalagi lanjutnya tak lama lagi oragnisasi HMI itu akan mengadakan Kongres di Pekan Baru. “Wah.. jangan-jangan sebagai warga masyarakat di sana yang sudah pernah liat Go-Jek di Jakarta akan anggap bisnis Gojek akan merambah Pekan Baru,” sindirnya. Namun demikian, katanya itu hanya sekedar anggapan kesan, dan tidak perlu ditanggapi jika merasa atribut “Hijau Hitam” dianggap sebagai hal biasa digunakan untuk bisnis. “ Barangkali juga, pebisnis Go-Jek itu secara sengaja menggunakan atribut yang sama untuk sekedar memukul nurani para kader HMI sekarang, sebagaimana menjalankan kiprahnya terutama dalam menghadapi krisis kepemimpinan dan ekonomi di negara ini,” tandas dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini. Perusahaan Go-Jek didirikan oleh Nadiem Makarim, Michaelangelo Moran, dan Brian Cu tahun 2010. Diketahui sampai saat ini Go-Jek belum memiliki regulasi yang jelas. (Asma)