'Tujuh Begal Garam' Kelakuannya Predator

Jakarta, Obsessionnews - Sistem kuota impor garam dinilai Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli, sangat merugikan. Sebab yang menarik manfaat menurut dia, bukan rakyat namun para pedagang, perantara atau kuota holder. "Mereka yang tarik keuntungan, misalnya di luar negeri sangat murah dibandingkan di Indonesia," kata Rizal saat memimpin rapat koordinasi di kantornya yang dihadiri Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Dirjen Bea Cukai, serta Kapolda Metro Jaya. Menurut Rizal, tujuh samurai yang menguasai arus perdagangan gula dan garam di Indonesia lebih tepat disebut sebagai 'tujuh begal'. "Demikian juga di garam ada tujuh penguasa kuota di perdagangan ini, mereka saya sebut tujuh begal garam," sebut dia. Lebih lanjut, sistem kuota yang diterapkan saat ini harus diubah menjadi sistem tarif. Artinya, siapapun boleh melakukan impor asal memenuhi kewajiban membayar tarif. Sedangkan tingkat tarif sendiri, ditentukan guna melindungi petani garam agar mendapat keuntungan yang lumayan. Sistem kuota sendiri dianggap buruk lantaran kelompok penguasanya mendirikan kartel yang perilakunya menyerupai predator. "Mereka ini kejam sekali," kata Rizal. Rizal juga mengatakan, pihaknya pernah melakukan penelitian terkait kartel. Beberapa tahun lalu, saat musim panen bawang di Brebes, Jawa Tengah, kartel melakukan impor dengan jumlah lebih banyak ketimbang produksi dalam negeri. Akibatnya, harga jatuh hingga petani tak mau lagi menanam bawang. Perilaku inilah yang dianggap Rizal sangat berbahaya. Karenanya, Rizal meminta Menteri Perdagangan Thomas Lembong untuk mengganti sistem kuota menjadi tarif di perdagangan garam. "Perkiraan perhitungan sekitar Rp 150 sampai Rp 200 perkilogram. Ini cukup memberi perlindungan agar harga petani naik dan pendapatan lebih tinggi," jelas Rizal. (Mahbub Junaidi)





























