Sigit Pramono Sukses Tangani Bank-bank Bermasalah

Jakarta, Obsessionnews - Di dunia perbankan, nama Sigit Pramono sudah dikenal luas. Integritas dan kapabilitasnya yang tinggi sebagai bankir, membuat pria yang pernah menjabat sebagai Presiden Direktur Bank Internasional Indonesia (BII) dan Direktur Utama BNI ini didapuk menjadi Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) selama dua periode. Perjalanannya sebagai bankir dimulai sebagai officer di Bank Exim tahun 1984 dan ikut membidani lahirnya Bank Mandiri hingga mencapai puncak sebagai Dirut Bank BNI. Momentum paling prestisius adalah ketika ia sukses menangani masalah restrukturisasi di bank Mandiri. Tidak heran jika ia kemudian dipercaya menangani beberapa bank bermasalah lainnya, seperti Bank Internasional Indonesia pada 2002-2003, kemudian BNI pada 2003. Pada 2006 Sigit dipercaya para bankir menjadi Ketua Umum Perbanas hingga sekarang. Ia sudah menjabat selama dua periode di organisasi paling bergengsi di dunia perbankan tanah air itu. Tak hanya kiprah di dalam negeri, Sigit juga berprestasi di tingkat regional. Masyarakat perbankan ASEAN resmi mendukungnya sebagai Presiden ASEAN Banking Council Meeting (ABA) untuk periode 2015-2017 pada '45th ASEAN Banking Council Meeting' di Singapura. Kepemimpinan Indonesia pada ABA ini menjadi penting mengingat mendekati era pasar bebas ASEAN, yang untuk sektor perbankan dan jasa keuangan akan mulai diberlakukan pada 2020. Salah satu isu strategis yang akan dikembangkan Indonesia pada forum ABA adalah perlunya negara-negara di Asia Tenggara memiliki satu sistem pembayaran terintegrasi dan berlaku regional. “Ini memang bukan pekerjaan mudah. Tapi akan lebih baik jika diinisiasi sejak dini,” kata Komisaris Independen Bank BCA itu. Menanggapi polemik tentang konsolidasi perbankan, ia mengatakan sejak dulu ia mendukung ide tersebut. “Untuk itu perlu kepemimpinan yang jelas, mau diapakan bank BUMN ini. Negara tetangga kita konsolidasi terus. Bank mereka kini kuat. Kita harus berpikir, memilih bank mana yang harus dan tidak dimerger,” jelasnya. Ia menegaskan konsolidasi perbankan perlu dilakukan karena bank di Indonesia masih terlalu kecil untuk menghadapi persaingan di Asia. Indonesia tak bisa hanya mengandalkan pertumbuhan secara organik. Harus merger atau akuisisi. Merger bank BUMN bisa menjadi contoh untuk bank swasta nasional lainnya. Jika sukses diterapkan bank plat merah, langkah ini bisa direplika untuk bank swasta nasional. Harapannya Indonesia memiliki Qualified ASEAN Bank (QAB) sebelum 2020. Terkait pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Sigit mengatakan Indonesia harus punya bank yang fokus terhadap pembiayaan UMKM. Menurutnya, bank yang paling ahli menangani UMKM adalah BRI. “Dia ahli mengurus UMKM. Jadi serahkan saja ke dia,” kata Sigit dalam forum Executive Leaders Talk yang digelar Obsession Media Group di Jakarta, Senin (31/8/2015). Sigit mengemukakan, dari Rp200 triliun dana yang dialokasikan untuk UMKM, sebaiknya difokuskan kepada bank yang ahli. Sementara pemerintah, menyiapkan regulasi dan teknis saja. Sedangkan soal pembangunan infrastruktur, sebaiknya BRI tidak dilibatkan. Kiprahnya di dunia perbankan mengantarkannya terpilih sebagai salah seorang dari 70 tokoh berpengaruh di Indonesia 2015 versi Majalah Men’s Obsession. (Giattri FP/Rud)





























