Empat Hambatan Pertumbuhan Tak Bisa Dirotasikan ke Nawacita

Jakarta, Obsessionnews - Inflasi yang terus melonjak, tidak lepas dari konstalasi global. Implikasinya, juga dipengaruhi penurunan harga minyak dunia yang terus tergerus. Menurut ekonom Universitas Atmajaya A. Prasetyantoko, penurunan harga minyak mentah bakal menurunkan permintaan komoditas. Lantaran basis ekspor Indonesia dialihkan pada sektor ini, diduga kuat bakal ikut anjlok lantaran permintaan turun hingga mempengaruhi anggaran yang sudah disusun pemerintah. Memang, kata dia, ditengah kondisi ini ada hal yang menguntungkan berupa turunnya beban subsidi terhadap bahan bakar minyak. Namun, secara umum kondisi saat ini tidak menguntungkan. Selanjutnya, dalam RAPBN 2016, posisi nilai tukar juga perlu diperhatikan sebab jika dihitung secara fundamental, kurs seharusnya berada pada angka Rp 13 ribu per dolar AS. "Kemarin ga ada yang yakin tembus 14 ribu tapi ternyata terjadi," sebut dia. Kalau dilihat dari konteks regional dan global, posisi ideal nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sulit dicapai. Sebab Cina masih menjadi tantangan, ekonomi recovery secara global juga menjadi hambatan, revisi pertumbuhan ekonomi oleh IMF yang cuma 3%, serta rencana kenaikan suku bunga The Fed yang tak bisa dirotasikan terhadap Nawacita.(Mahbub Junaidi)





























