Barista, Peracik Kopi Asal Italia

Tangan lincahnya menari-nari diantara Grinder dan Tampler. Sesekali ia mengecap bau dari biji kopi sambil menunggu puluhan Chicco di caffè itu tergerus halus. Dengan perlahan, sang peracik mencampur bubuk kopi yang telah halus ke dalam Espresso Machine. Hingga akhirnya terciptalah satu cangkir minuman khas Italia. Magelang, Obsessionnews - Dialah Anggun Ristanto, seorang Barista senior dari kota budaya, Yogyakarta. Pria berusia 31 tahun ini sudah menggeluti profesi Barista sejak 9 tahun lalu. Baginya, bekerja sebagai Barista merupakan kesenangan tersendiri yang tak dapat terukur harganya. "Basicnya, saya suka minum kopi. Selama tiga bulan di kafe, saya kepengin jadi barista. Akhirnya ya itu, saya belajar sama senior," terang Anggun sewaktu disambangi obsessionnews.com, Selasa (15/9/2015). Butuh waktu bertahun-tahun bagi Anggun mempelajari seni meracik kopi asal negara pasta. Dengan tekun, Anggun belajar dari kafe ke kafe, menambah ilmu. Bukan hal mudah menciptakan sebuah kopi bermutu nan berkelas. Diperlukan keahlian memilih kopi yang tidak sembarangan orang bisa. Perlu diketahui, profesi Barista tidaklah sekedar mencampur kopi dengan air panas. Barista wajib mengetahui kualitas kopi mulai dari paska panen, sampai pembuatan. Pemilihan buah kopi paska panen sangat berpengaruh pada cita rasa. Anggun sendiri beruntung, sempat belajar bagaimana memilah biji kopi berkualitas. "Prosesnya itu panjang sekali. Itu keliru sedikit akan mempengaruhi green bean-nya," tutur pria yang bekerja kafe Amore itu. [caption id="attachment_61067" align="aligncenter" width="640"]
Anggun terbukti konsisten di jalan Barista. Dia terus berkarya menghasilkan berbagai kopi dengan rasa berkualitas[/caption] Buah kopi yang baik haruslah berwarna merah menyala. Usai dipetik, buah tersebut direndam ke dalam air. Perendaman itu dimaksudkan untuk memisah antara biji kopi bagus dan yang jelek. Begitu pula saat pengeringan. Pengeringan dilakukan pada tempat jauh dari debu jalanan dan langsung menggunakan sinar matahari. Begitu juga penentuan suhu dan teknik mencampur wajib hukumnya diperhatikan. Bagaimana tidak, selisih satu derajat saja, komposisi kopi dapat berubah. Seorang Barista, bagi Anggun harus bisa membedakan seluruh karakteristik kopi di Nusantara. Karakter itu bermacam-macam. Mulai Aceh hingga Papua memiliki taste dan sifat tersendiri. "Misal Temanggung rasanya gimana. Antar kopi itu lain-lain," ujar dia sambil sesekali melayani pelanggan. Semakin canggih alat, tidak menjamin secangkir kopi dapat tersaji dengan pas. Menurutnya, alat hanya berfungsi sebanyak 10% saja. "Dari dozing, tamping, semua harus konsisten. 90% itu tergantung dari Baristanya," imbuh Anggun.
Kopi racikan Barista berbeda dengan kopi kemasan pada umumnya. Masyarakat awam dapat langsung mengetahui perbedaan saat menyeruput antara kopi instan dan kopi asli barista. Segi rasa dan wangi tidaklah sama. Yang paling mencolok, tentu penyajian kopi bikinan Barista tidak memakai pemanis gula. "Makanya kalau minum kopi yang asli, walau banyak juga tidak sakit di perut. Karena biji kopinya asli," tuturnya. Tidak berhenti disitu, Anggun pun mulai mengepakkan sayap dengan mengikuti berbagai lomba. Meski belum berhasil menggondol juara, namun bagi Anggun, partisipasi dalam lomba Barista adalah suatu pengalaman berharga. Ke depan, ia ingin membuka sebuah kawasan kebun kopi lengkap dengan peralatan Barista. Sehingga, pengunjung nantinya bisa menikmati kopi sambil belajar membuat kopi buatan sendiri. (Yusuf IH)
Anggun terbukti konsisten di jalan Barista. Dia terus berkarya menghasilkan berbagai kopi dengan rasa berkualitas[/caption] Buah kopi yang baik haruslah berwarna merah menyala. Usai dipetik, buah tersebut direndam ke dalam air. Perendaman itu dimaksudkan untuk memisah antara biji kopi bagus dan yang jelek. Begitu pula saat pengeringan. Pengeringan dilakukan pada tempat jauh dari debu jalanan dan langsung menggunakan sinar matahari. Begitu juga penentuan suhu dan teknik mencampur wajib hukumnya diperhatikan. Bagaimana tidak, selisih satu derajat saja, komposisi kopi dapat berubah. Seorang Barista, bagi Anggun harus bisa membedakan seluruh karakteristik kopi di Nusantara. Karakter itu bermacam-macam. Mulai Aceh hingga Papua memiliki taste dan sifat tersendiri. "Misal Temanggung rasanya gimana. Antar kopi itu lain-lain," ujar dia sambil sesekali melayani pelanggan. Semakin canggih alat, tidak menjamin secangkir kopi dapat tersaji dengan pas. Menurutnya, alat hanya berfungsi sebanyak 10% saja. "Dari dozing, tamping, semua harus konsisten. 90% itu tergantung dari Baristanya," imbuh Anggun.
Kopi racikan Barista berbeda dengan kopi kemasan pada umumnya. Masyarakat awam dapat langsung mengetahui perbedaan saat menyeruput antara kopi instan dan kopi asli barista. Segi rasa dan wangi tidaklah sama. Yang paling mencolok, tentu penyajian kopi bikinan Barista tidak memakai pemanis gula. "Makanya kalau minum kopi yang asli, walau banyak juga tidak sakit di perut. Karena biji kopinya asli," tuturnya. Tidak berhenti disitu, Anggun pun mulai mengepakkan sayap dengan mengikuti berbagai lomba. Meski belum berhasil menggondol juara, namun bagi Anggun, partisipasi dalam lomba Barista adalah suatu pengalaman berharga. Ke depan, ia ingin membuka sebuah kawasan kebun kopi lengkap dengan peralatan Barista. Sehingga, pengunjung nantinya bisa menikmati kopi sambil belajar membuat kopi buatan sendiri. (Yusuf IH) 




























