APBN Nawacita Masih Andalkan Utang

APBN Nawacita Masih Andalkan Utang
Jakarta, Obsessionnews - Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pertama kalinya oleh pemerintahan Jokowi. Namun, hal tersebut dilakukan pada situasi yang tidak menggembirakan. Ekonom CORE Indonesia Akhmad Akbar Susamto mengatakan, dari sektor target belanja dan penerimaan, dalam RAPBN 2016 memang ada peningkatan. Untuk belanja saja, dipatok angka Rp 2.121,3 triliun. "Asumsi itu cenderung sangat optimis. Tapi kenyataannya melewati target dan terlalu baik ketimbang yang terjadi sekarang," kata Akbar pada Core Media Discussion di Jakarta, Selasa (15/9). Memang, ketimbang APBN sebelumnya, pada APBN saat ini ada perbedaan penting berupa alokasi anggaran infrastruktur sangat besar, peningkatan cukup besar pada alokasi belanja kesehatan minimal 5 persen dan belum termasuk gaji, serta alokasi transfer ke daerah dan dana desa lebih besar dari alokasi kementerian. "Kalau dijumlahkan memang lebih besar. Tapi kalau dihitung detail, dana Kementerian lebih kecil ketimbang alokasi dana desa," sebut Akbar. Sementara itu, persamaan antara APBN 2016 dan APBN sebelumnya antara lain, pendapatan dari perpajakan tetap merupakan kontributor terbesar penerimaan dalam negeri. Besaran pendapatan juga lebih kecil ketimbang belanja negara. Sebagai konsekuensi dari defisit anggaran, pemerintah terus bergantung pada pembiayaan baik domestik atau luar negeri. Salah satu sumber yang diandalkan untuk menutup defisit adalah hutang. Penarikannya saat ini, masih lebih besar ketimbang pada APBN sebelumnya yakni sebesar 50 %. (Mahbub Junaidi)