Sofyan Wanandi Dianggap Hina Bangsa! "Indonesia Bangsa Pisang"

Jakarta, Obsessionnews - Mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Laode Ida menilai, ucapan Koordinator Staf Wapres Sofyan Wanandi (SW) sudah menghina bangsa Indonesia. Ucapannya dengan menyebut 'Indonesia sebagai bangsa pisang' tidak layak dilayangkan oleh SW, sebab hal itu sudah mengarah kepada rasis. Menurut Laode, ucapan yang dilontarkan SW itu sungguh tidak etis dan memuakkan. "SW harus minta maaf pada bangsa ini. Tak etis dan sangat tak pantas, memuakkan. Masa' menyebut bangsa ini sebagai bangsa pisang. Bukankah ia jadi salah satu penikmat dan pengeksploitasi kekayaan alam bangsa ini melalui jalur bisnis pribadi dan kelompoknya dan sebagian uangnya diinvest di luar negeri," ungkapnya pada Obsessionnews.com, Jumat (11/9/2015). Laode menilai SW seolah tak puas dengan harta yang dimilikinya, sehingga merasa terganggu ketika Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli mengoreksi kebijakan power plan 35 ribu megawatt. "Karena kemungkinan besar ia punya kepentingan atau bahkan jadi bagian dari bisnis pribadi dan kelompoknya," tutur dosen UIniversitas Negeri Jakarta (UNJ) ini. Di sisi lain ungkap Laode, tidak mungkin RR ngomong tanpa dasar dan data. Sebab kata Laode menilai RR memiliki visi uang negara yang tidak mungkin dihamburkan untuk bisnis sekelompok orang seperti proyek 35 ribu megawatt power plan. Dan sebaiknya kata Laode SW bisa gunakan cara-cara lain untuk bela JK (Jusuf Kalla) sebagai bosnya atau koleganya. "Tidak seperti orang kelimpungan dengan terkesan begitu sakit hati dengan RR lalu anggap bangsa ini sebagai bangsa pisang. Wah..., warga nusantara ini dari Merauke sampai Sabang niscaya akan tersinggung, sebagai pribumi pemilik bangsa ini disebut sebagai bangsa pisang," pungkas mantan Aktivis ini. "Sungguh sangat rasis SW itu. Mentang-mentang SW bukan pribumi bangsa Indonesia, yakni bangsa Cina, lalu dengan arogan dan seenaknya menyebut bangsa nusantara ini sebagai bangsa pisang. Wah..., sudah begitu jauh SW ini menyepelehkan pribumi di nusantara ini. Sungguh sangat memuakkan pula seorang koordinator staf Wapres JK menghina bangsa di mana ia sudah kenyang menikmatinya," kesalnya. "Wah..., apalagi yang akan dilabelkan oleh SW terhadap bangsa ini jika kepentingan bisnisnya terganggu? Kritikan kebijakan untuk perbaikan bagi kepentingan rakyat saja sudah demikian sangat marah dan menghina bangsa di mana jadi salah warga turunan yang memperoleh keuntungan tak terhingga," "Tapi begitulah barangkali karakter asli sebagaian pebisnis warga keturunan: arogan karena kekayaannya, apalagi merasa dekat dan bisa mengatur penguasa. Namun, warga bangsa dan pejabat bangsa ini pulalah yang begitu "baik" dengan orang seperi SW, memanfaatkan karakter bangsa pribumi yang pemaaf dan begitu menghargai non pribumi," ujarnya. (Asma)





























