Ekonomi Indonesia 'Lampu Kuning'

Ekonomi Indonesia 'Lampu Kuning'
Jakarta, Obsessionnews - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Farouk Muhammad menilai situasi melemahnya rupiah saat ini disebabkan masalah sosial dan ekonomi. Sedangan dalam situasi ekonomi saat ini dipengaruhi situasi internal dan eksternal. Melalui Forum Senator untuk Rakyat (FSuR), Farouk kurang sepakat dengan pidato Presiden Jokowi beberapa waktu lalu yang menyatakan bobot ekonomi masih aman. "Kurang sepakat dengan pidato Presiden yang memberikan bobot tinggi terhadap ekonomi saat ini," ungkapnya Minggu (6/9/2015). Menurut Farouk, faktor ekonomi eksternal yang terjadi di tiga kawasan yakni Cina, Amerika Serikat dan Eropa mengalami gejolak ekonomi sehingga berdampak pada lemahnya rupiah. Sehingga kata dia posisi saat ini untuk mempertahankan rupiah harus merubah kebiasaan dari industri komoditas ke manufakrur. "Kita harus merubah kebiasaan dari industri komoditas ke manufaktur. Sehingga tenaga kerja terserap disana, sebab saat ini tidak bisa diharapkan petani dan pertambangan atau nelayan,  tidak bisa hanya bergantung terhadap itu," tuturnya. farouk-2 Menurutnya, serapan rupiah saat ini sangat rendah. "Kebijakan fiskal 260 triliun sepertinya mengendap di bank, apakah itu karena mendekati momentum pilkada, atau takut kriminalisasi atau para pemborong dan para kontraktor, sehingga rupiah yang terserat sangat terbatas. Lebih lanjut ia menuturkan, naiknya dolar di 1989 berbeda dengan kondisi saat ini 2015. Tahun 98 bersifat moneter ekonomi dimana goncangan terhadap bank yang langsung koleps. "Sedangkan sekarang Kami lihat faktor antara ekonomi dan sosial. Masalah ekonomi dilihat tidak separah 98, karena 98 berbaurnya sosial PHK dan ancaman PHK berdampak pada masyarakat yang lemah," jelasnya. Namun dia mengakui kalau kondisi ini menilai sudah lampu kuning. "Kalau kondisi perpaduan sosial dan ekonomi awas ini lampu kuning, kalau salah mengambil tindakan maka akan fatal," tegasnya. Langkah-langkah kongkrit yang harus diambil sekarang kata Farouk peningkatan sektor maritim, energi, pertanian dan infrastruktur. " Maritim bisa membantu, infrastruktur melalui padat karya dapat dilakukan untuk menyerap tenaga kerja," pungkasnya. (Asma)