Hipmi Jabar Ajak Pengusaha Bantu Pemerintah Keluar dari Krisis

Bandung, Obsessionnews - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jawa Barat (Jabar) mengajak kalangan pengusaha membantu Pemerintah keluar dari krisis. "Menjadi pengusaha harus siap dalam ketidakpastian, kadang untung atau rugi itu hal biasa!" ajak Ketua Umum BPD HIPMI Jabar Jodi Janitra, Kamis malam (3/9), di Cafe Bobers miliknya Jl. Sumatera, Bandung. Pengusaha muda kelahiran 5 Januari 1987 ini meminta agar pengusaha mampu mengubah mainset dan tidak melulu mengandalkan barang impor. Dalam acara yang dihadiri pula Ketua Steering Commite Musda XV BPD HIPMI Jabar Oke D. Junjunan, Ketua Organizing Commite Musda XV BPD HIPMI Jabar Zoelkifli M.Adam, mantan Sekretaris Umum BPD HIPMI Jabar Avip Firmansyah dan Forum Wartawan Online (FWO) ini, Jodi juga mengajak semua pihak untuk tidak mencari keuntungan sesaat, namun rugi selamanya. “Saya selaku ketua Hipmi jabar mengajak pengusaha untuk mengambil resiko, berani mengambil keputusan dan tidak mudah menyerah serta tetap menjaga nasionalisme," tegasnya. Seorang pengusaha harus mampu menularkan ilmunya kepada siapapun termasuk kepada masyarakat luas, pola pemikiran yang negatif harus dihilangkan dan tetap menatap masa depan dengan penuh kreatifitas. Jodi ingin mengatakan kepada Pemerintah, kalau selama ini pemberian bantuan terhadap pelaku UKM masih kurang tepat sasaran, seharusnya ada pendampingan dan evaluasi, sehingga UKM merasa ada yang membimbing dan mengasuh, seperti halnya akan dia terapkan di Hipmi Jabar. "Selaku pemuda saya ingin selalu ada perubahan dalam hidup sehingga akan berteriak saat adanya kebijakan pemerintah yang kurang pas diterapkan kepada masyarakat," ujar Jodi. Di saat ekonomi terpuruk Hipmi pusat dijadwalkan mengusahakan permodalan untuk UKM sebesar Rp. 25 Triliun. Jodi mengatakan negara ini butuh meniru Tiongkok yang kerapkali memberikan stimulus pada pengusaha kecil, dibimbing dan diberikan arahan atas usahanya tersebut. "Coba lihat sekarang Tiongkok maju pesat," tandasnya. Pemerintah Tiongkok memberi kemudahan pada perijinan dan memotong jalur distribusi yang sekiranya akan merugikan pengusaha, sehingga tidak terlalu banyak pengeluaran. "Calo di negeri ini sangat banyak sehingga merugikan prosuden dan konsumen," ucapnya. Konsep seperti itulah yang dia terapkan di Hipmi Jabar, yakni diawali adanya kantor yang refresentatif suasana yang memberi kenyaman dan penuh kreatifitas. "Silakan nanti rekan-rekan wartawan datang, berdiskusi, sehingga berita ekonomi dan isu seputar jabar dapat diliput tanpa harus keliling kesana kemari, kita sediakan nara sumber setiap hari," ucapnya. Jodi juga mengajak para wartawan untuk menjadi agen perubahan, sehingga memandang negeri ini dengan rasa optimis. Jodi meminta wartawan memandang bad news is bad news dan good news is good news tidak terbalik. "Semakin banyak pemberitaan yang memberi inspirasi terhadap yang lainnya maka akan semakin cepat negara mengalami kemajuan," tandasnya. Jodi akan mencoba menerapkan link para pengusaha di Jabar dan Indonesia melalui sebuah aplikasi, sehingga para pengusaha akan bertemu masyarakat lainnya ketika membutuhkan komoditi tertentu melalui aplikasi tersebut, tanpa harus melalui calo. Begitupun pertemuan intensif dengan sejumlah pengurus Hipmi tingkat kota dan Kabupaten untuk dapat mengetahui komoditi apa yang diperlukan dan dibutuhkan di pelosok daerah. (Dudy Supriyadi)





























