Kualitas Udara di Sumbar Makin Buruk Akibat Kabut Asap

Kualitas Udara di Sumbar Makin Buruk Akibat Kabut Asap
Padang, Obsessionnews- Kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumatera Barat (Sumbar) semakin tebal bahkan sudah memengaruhi kualitas udara. Bahkan sejak hari Selasa (1/9) kondisinya semakin tidak sehat. Kepala pelaksana tugas (plt) BPBD Sumbar, Zulfiatno mengatakan, jika pada hari Senin, (31/8) kabut asap paling pekat masih berada di wilayah Kabupaten Dharmasraya, hari ini Senin (3/9) terpantau sudah sampai ke wilayah Kabupaten Sijunjung dan Tanah Datar. "Kabupaten Dharmasraya paling parah paparan kabut asap, karena daerah itu berbatasan langsung dengan sumber asap di bagian Selatan Sumbar," kata Zulfiatno kepada obsessionnews, Kamis, (3/9). Berdasarkan pantauan, jarak pandang di wilayah Sumbar Rabu (3/9) berjarak antara 3000 meter sampai 5000 meter. Zulfiatno mengatakan, penurunan kualitas udara di wilayah Sumbar semakin memburuk berdasarkan pantauan Global Atmosphere Watch (GAW) Koto Tabang, Bukittinggi dimana indeks partikel dalam udara di wilayah Sumbar masih berfariasi atau dalam kategori sedang atau tidak sehat. Hal yang sama diungkapkan Kepala Seksi Observasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ketaping, Padang Pariaman, Budi Iman Samiaji. Kualitas udara terus di wilayah Sumbar terus menurun hingga ke level tidak sehat. “Berdasar pantauan Global Atmosphere Watch (GAW) Koto Tabang, Bukittinggi, indeks partikel dalam udara (PM 10) per mencapai 173 ug/m3. Itu sudah tidak sehat,” jelasnya. Menurut Budi, sumber kabut asap berasal dari Provinsi sebelah Selatan Sumbar. Asap yang diduga akibat kebakaran lahan gambut, bergerak menuju Sumbar sesuai dengan tiupan arah angin dari Selatan-Tenggara ke arah Barat Daya. Budi menjelaskan, selain mencemari udara dan bisa mengakibatkan gangguan infeksi saluran pernafasan akut (ispa), kabut asap juga dapat mengurangi jarak pandang. Bahkan akibat kabut asap, jarak pandang mengalami penurunan setiap harinya, dari 7.000 meter menjadi 3.000 meter. “Jarak pandang semakin menurun dan sudah mencapai antara 3.000 sampai 4.000 meter. Perlu diwaspadai juga, kalau penurunannya sampai ke 1.000 bisa menganggu penerbangan,” ujar Budi Iman Samiaji. (Musthafa Ritonga)