Betulkah 'Tak Ada Udang Dibalik Batu' Kedatangan Petinggi IMF ke Indonesia?

Jakarta, Obsessionnews- Trauma dengan IMF yang justru memperparah krisis ekonomi moneter tahun 1998 yang lalu, Presiden RI Joko Widodo memastikan, kedatangan petinggi IMF ke Indonesia tidak bakalan mendikte pemerintah lagi. Jokowi memastikan, bahwa kunjungan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde ke Indonesia tak terkait pemberian utang untuk negara. "Enggak ada, enggak dibicarakan masalah itu," kata Jokowi, Selasa (1/9/2015) sore, usai bertemu Lagarde di Istana Negara. Jokowi menjelaskan bahwa dalam pertemuannya dengan Lagarde, mereka berdiskusi tentang situasi perekonomian global yang belakangan penuh ketidakpastian. Menurut Jokowi, Lagarde meyakinkan bahwa Indonesia memiliki kesiapan untuk menghadapi situasi tersebut. "Ya, kan tadi disampaikan bahwa memang ada angin dari Cina, dari Amerika, kan memang itu. Tapi dia (Lagarde) menyampaikan bahwa kita memiliki kesiapan yang baik untuk menghadapi itu," kata Jokowi. Sebelumnya, orang dekat Jokowi, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan RI, Luhut Panjaitan menjelaskan jika kedatangan mereka tak bisa mengintervensi pemerintahan Presiden Joko Widodo. Ada perbedaan yang ingin ditekankan Luhut, bahwa Indonesia tak dalam keadaaan krisis moneter dan ekonomi di tahun 1998 silam. Sehingga, kedatangan IMF tak mengubah apapun kebijakaan yang akan diambil Presiden. "Jangan pernah berfikir kedatangan IMF sama dengan tahun 98 ya. IMF tidak bisa lagi intervensi pemerintahan pak Jokowi," kata Luhut di kantornya, Jakarta, Jumat (28/8). Saat ini, Presiden sudah merangkul ekonom-ekonom senior dalam tim ekonomi. Tim tersebut sudah mempunyai langkah-langkah jelas dan terukur menangani lesunya pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dengan demikian, kedatangan IMF tak bermakna apa-aapa karena pemerintah tak berniat meminjam dana segar dari IMF. "Dana kita masih banyak, triliunan ada di daerah, desa, BUMN-BUMN. Itu yang mau kita kejar. Tidak ada lagi kita pinjam ke IMF. Kita tak mau lagi berurusan dengan IMF. Mereka malah bikin masalah," tuturnya. Menurut Luhut, saat dirinya masih duduk menteri industri perdagangan era pemerintahan Abdurrahman Wahid pernah menegaskan jika IMF hanya membuat ekonomi dalam negeri kacau balau. "Jadi kita tak mau berurusan soal pinjam meminjam atau minta advise lagi ke IMF. Mungkin malah IMF yang mau belajar dan minta nasehat dengan Indonesia atasi krisis di negara berkembang," pungkasnya, seperti dilansir Rappler Indonesia. Perlu diingat, di tengah krisis ekonomi yang memburuk tahun 1998 yang lalu, Presiden Soeharto terpaksa menandatangani 'letter of intent' dengan IMF di kediaman Cendana, pada 15 Januari 1998. Sepintas IMF seperti membantu, tapi kenyataannya sebaliknya. Bantuan dengan sejumlah syarat itu malah sangat merugikan perekonomian Indonesia. Dalam kesempatan memberikan kuliah umum di kampus pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) sebelum bertemu Jokowi, Lagarde juga menegaskan bahwa kedatangannya ke Indonesia terkait dengan dua agenda utama yang tak terkait soal pemberian utang kepada Indonesia. Dua agenda utama Lagarde ke Indonesia adalah menghadiri konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan bertemu pengambil kebijakan di Indonesia. "Ada rumor terkait kedatangan saya ke Indonesia. Saya takut saya harus membuat mereka kecewa. Kedatangan saya sudah dibicarakan sejak lama. Karena saya pernah hadir di konferensi bank sentral Swiss yang disponsori IMF, mengapa saya tidak hadir juga di konferensi serupa di Indonesia," kata Lagarde. Perempuan pertama sepanjang sejarah yang menjadi Direktur Pelaksana IMF ini memang dijadwalkan untuk hadir dalam Konferensi Internasional "The Future of Asia's Finance" yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI) di Gedung BI, hari ini Rabu, 2 September. (rez)





























