Ekonomi Lemah, Tanda Indonesia Tak Siap Hadapi MEA

Ekonomi Lemah, Tanda Indonesia Tak Siap Hadapi MEA
Jakarta, Obsessionnews - Sebentar lagi Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Namun menurut La Ode Masihu Kamaluddin, Indonesia sepertinya belum siap untuk berperan aktif tetapi lebih cenderung sebagai penonton, bukan pemain. Apalagi saat ini kondisi ekonomi Indonesia dari usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mengalami problem besar. “Kalau MEA kita ngak siap, mau ngapain kita ngak ada, saya dengar adalah mau mengucapkan selamat datang saja, bukan kita mau datang kesana, kita undang orang lain datang artinya kita tidak siap untuk datang,” ungkapnya pada Obsessionnews usai menghadiri peresmian gedung forum Obsession Media Group (OMG) dan diskusi Executive Leaders Talk Komunitas Kedondong yang digelar OMG di Jakarta Selatan, Senin (31/8). Menurut Rektor Unisula ini, dalam pengembangan potensi UKM tidak hanya sebatas pengembangan interpreneur saja namun kata dia perlu dilihat mengenai pilihan hidup. Jadi ia menilai orang yang mampu menentukan pilihan hidupnya maka ada kemungkinan besar bisa sukses. “Yang sukses itu adalah pilihan hidup, pilihan hidup saja terkadang sudah tidak sukses apalagi bukan pilihan hidup berat untuk sukses, jadi dilemanya ini dimental kita,” tuturnya. Sehingga lanjut dia, untuk menciptakan pengusaha muda dalam pengembangan UKM pelakunya harus diseleksi ulang. “Kita harus melakukan perubahan fundamental didalamnya,” tegasnya. Ketua majelis pakar nasional Korps Alumni Mimpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) ini juga membandingkan dengan ekonomi Filipina 6,9% sedangkan ekonomi Indonesia malah melorot 4,7% saja. Ia menilai kondisi ekonomi melemah, lapangan pekerjaan sermakin sempit, PHK dimana-mana adalah menunjukkan ekonomi Indonesia tidak kuat. “PHK menunjukkan ekonomi Indonesia tidak kuat atau pengelola ekonominya itu tidak mumpuni. Saya pikir ini harus dimenej manajemennya, dan pers perlu mengontrol ini juga,” harapnya. Menurut dia, pemerintah harus benar-benar mengatur manajemen dengan baik kalau mau mendorong pertumbuhan ekonominya lebih tinggi. “Rumusnya setiap ada kenaikan 1% pertumbuhan ekonomi  menciptakan lapangan pekerjaan 400 ribu lapangan pekerjaan, sebaliknya kalau setiap penurunan pekerjaan 1% penurunanya juga sebaliknya 400 ribu juga,” sarannya. (Asma)