Orang Islam Takkan Gentar Meski Dollar 100 Ribu

Bandung, Obsessionnews - Gonjang-ganjing dollar AS yang merangkak naik mencapai Rp14 ribu seolah menjadi pemutus umur. Kenaikan dollar yang bisa jadi merupakan ulah sekelompok orang agar negeri ini hancur seolah menjadi sakaratul maut, bahkan makan tahu dan tempe sebagai lauk pauk dibayangkan tidak akan pernah terbeli, tidak bagi umat Islam. Seorang muslim selalu meyakini, bahwa yang memberikan rejeki adalah Allah, meyakini selama dirinya berbuat baik, berikhtiar sejak pagi, dengan keyakinan, keikhlasan diiringi doa pasti tidak akan gentar dengan dollar walaupun menembus Rp. 100 ribu, karena keyakinannya dan usahanya akan menghasilkan yang lebih besar dari itu. Ibrahim bin Adham seorang Sufi pernah berkata kepada orang yang mengeluhkan kesulitan ekonomi di keluarganya. “Wahai saudaraku, jika ada anggota keluargamu yang rejekinya bukan dari Allah, maka alihkan dia ke rumahku. Rejeki tidak datang dari orang Amerika atau negara besar pengatur kurs, sehingga membuat orang jadi bimbang dan tidak lagi fokus kepada Allah sebagai pemberi rejeki, sehingga banting tulang mencari uang dan lupa shalat. Datangnya rejeki merupakan sesuatu yang ghaib, tak bisa ditebak, di kalkulasi secara nalar apalagi dipermainkan dalam bentuk valuta asing, rejeki adalah rahasia Allah SWT. Rejeki bergerak tanpa rencana manusia. Alquran sudah menjamin Wayarzuqhu min haitsu laa yahtasib(QS. Ath-Thariq 65 ayat 3). Rasul SAW bersabda, “Allah telah menetapkan takdir semua mahluk sejak 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi“ (HR.Muslim). Orang Islam tidak akan cemas walaupun dollar mencapai Rp. 100 ribu karena mereka meyakini rejekinya akan mampu membeli apapun yang dibutuhkan dan diinginkan, bahkan akan tersisa oleh karena itu selayaknyalah kita tidak perlu cemas mengenai rejeki Allah SWT. “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rejekinya. Dan Dia mengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS.Hud ayat 6). Allah SWT tidak cuma-cuma memberikan rejeki begitu saja ada beberapa syarat yang harus ditempuh agar rejeki itu datang plus berkah, yaitu sempurnakan ikhtiar, perkuat dengan doa, dan tawakal secara total kepada Allah, maka jika hal itu sudah dilakukan biarlah Allah yang maha mengatur untuk memberikan keputusan selanjutnya. Dari Umar bin Khattab RA, ia berkata, “Saya mendengar Rassulullah SAW bersabda, Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rejeki kepada kalian seperti seekor burung, pagi-pagi ia keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang (HR.Ahmad dan Turmuzi). Kalaupun penyelenggara negara ini, saat ini sedang berjibaku agar rupiah kembali menguat, menekan inflasi dan menyetabilkan ekonomi, maka upaya seorang muslim untuk menyetabilkan ekonomi dan menenangkan hatinya dengan cara Memperbanyak istighfar dan taubat, Allah berfirman, Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai (QS. Nuh (71) ayat10-12). Istiqamah dalam bersedekah /berinfak di jalan Allah. Rasul SAW bersabda Bersedekahlah kalian jangan terlalu lama disimpan dan ditahan. Sebab jika demikian, Allah SWT akan menahan (karunia-Nya) untukmu (HR. Bukhari).
Menurut Imam Al-Qurthubi, jika seseorang meyakini Allah sepenuhnya, pasti Dia akan memberikan rejeki kepadanya tanpa disangka-sangka. Infak harus dikeluarkan secara ikhlas tanpa banyak pertimbangan. Meluangkan waktu untuk beribadah. Rasul SAW bersabda, Allah berfirman ‘Wahai Bani Adam, fokuskanlah hati kalian dalam beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan lapangkan hatimu, dan Aku penuhi kebutuhanmu. Kalau kamu tidak memfokuskan ibadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan kebutuhanmu tidak akan Aku penuhi “ (Hadis qudsi riwayat Ahmad,Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim). Secara umum hadis tersebut menurut imam Al’Ala’i menjelaskan bahwa hati seseorang jangan terlena dengan kesibukan dunia, hingga ia tidak menunaikan bentuk ketaatan kepada Allah. Bersegera mencari rejeki di pagi hari. Rasulullah SAW berdoa, Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi. Semoga keberkahan selalu tercurah bagi umatku yang beraktifitas di pagi hari(HR.Thabrani). Kelima, Bersilaturrahmi. Rasul SAW bersabda, Siapa yang ingin diluaskan rejekinya, dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturrahim (HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasai). Dalam hadis qudsi Allah berfirman, “Siapa yang menyambung silaturrahmi, maka akan Aku sambung rahmat-Ku untuknya. Dan siapa yang memutuskan silaturrahmi, maka Aku putuskan pula rahmat-Ku untuknya “ (HR. Tirmuzi dan Abu Daud). Aneka ragam rahmat Allah diberikan kepada manusia berupa kemudahaan dalam segala urusan, ketenangan dalam menjalani hidup, kesehatan jasmani dan rohani, keluasan rejeki dan sebagainya. Yang berikutnya adalah bersyukur kepada Allah. Allah berfirman Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepada kalian dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS Ibrahim ayat 7). Imam Al Mansyur berkomentar wahai manusia, jangan sekali-kali kalian mengusir kenikmatan rejeki dengan meninggalkan syukur. Sebab dengan meninggalkan syukur justru sedang mengundang bencana. Syukur adalah satu keniscayaan atas begitu banyaknya nikmat yang kita rasakan dalam hidup ini. Salah satu hal yang harus kita syukuri adalah rejeki pemberian Allah. Diantara cara mensyukurinya yaitu mengalirkannya kepada orang yang membutuhkan. Ibarat air, jika tidak dialirkan akan tersumbat. Demikian pula dengan rejeki, jika tidak dialirkan, saluran rezeki akan tersumbat. Keyakinan disertai upaya itulah akan membuat seorang muslim tak gentar dengan kenaikan harga, upaya manusia tamak dan rakuslah yang mempermainkan dollar, sehingga tidak ada waktu bagi orang Islam untuk curhat kepada Allah, bahkan upaya ekonom liberal ini akan terus menjadi-jadi saat tujuannya belum tercapai. Umat Islam yakin, ketika harga beras Rp12 ribu/kg, dia akan punya uang Rp13 ribu, harga daging sapi Rp120 ribu/kg, dia akan punya uang Rp130 ribu, dengan harga-harga yang naik kemampuan untuk membelinya pun akan berlipat, begitu selanjutnya. (Dudy Supriyadi)
Menurut Imam Al-Qurthubi, jika seseorang meyakini Allah sepenuhnya, pasti Dia akan memberikan rejeki kepadanya tanpa disangka-sangka. Infak harus dikeluarkan secara ikhlas tanpa banyak pertimbangan. Meluangkan waktu untuk beribadah. Rasul SAW bersabda, Allah berfirman ‘Wahai Bani Adam, fokuskanlah hati kalian dalam beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan lapangkan hatimu, dan Aku penuhi kebutuhanmu. Kalau kamu tidak memfokuskan ibadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan kebutuhanmu tidak akan Aku penuhi “ (Hadis qudsi riwayat Ahmad,Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim). Secara umum hadis tersebut menurut imam Al’Ala’i menjelaskan bahwa hati seseorang jangan terlena dengan kesibukan dunia, hingga ia tidak menunaikan bentuk ketaatan kepada Allah. Bersegera mencari rejeki di pagi hari. Rasulullah SAW berdoa, Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi. Semoga keberkahan selalu tercurah bagi umatku yang beraktifitas di pagi hari(HR.Thabrani). Kelima, Bersilaturrahmi. Rasul SAW bersabda, Siapa yang ingin diluaskan rejekinya, dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturrahim (HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasai). Dalam hadis qudsi Allah berfirman, “Siapa yang menyambung silaturrahmi, maka akan Aku sambung rahmat-Ku untuknya. Dan siapa yang memutuskan silaturrahmi, maka Aku putuskan pula rahmat-Ku untuknya “ (HR. Tirmuzi dan Abu Daud). Aneka ragam rahmat Allah diberikan kepada manusia berupa kemudahaan dalam segala urusan, ketenangan dalam menjalani hidup, kesehatan jasmani dan rohani, keluasan rejeki dan sebagainya. Yang berikutnya adalah bersyukur kepada Allah. Allah berfirman Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepada kalian dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS Ibrahim ayat 7). Imam Al Mansyur berkomentar wahai manusia, jangan sekali-kali kalian mengusir kenikmatan rejeki dengan meninggalkan syukur. Sebab dengan meninggalkan syukur justru sedang mengundang bencana. Syukur adalah satu keniscayaan atas begitu banyaknya nikmat yang kita rasakan dalam hidup ini. Salah satu hal yang harus kita syukuri adalah rejeki pemberian Allah. Diantara cara mensyukurinya yaitu mengalirkannya kepada orang yang membutuhkan. Ibarat air, jika tidak dialirkan akan tersumbat. Demikian pula dengan rejeki, jika tidak dialirkan, saluran rezeki akan tersumbat. Keyakinan disertai upaya itulah akan membuat seorang muslim tak gentar dengan kenaikan harga, upaya manusia tamak dan rakuslah yang mempermainkan dollar, sehingga tidak ada waktu bagi orang Islam untuk curhat kepada Allah, bahkan upaya ekonom liberal ini akan terus menjadi-jadi saat tujuannya belum tercapai. Umat Islam yakin, ketika harga beras Rp12 ribu/kg, dia akan punya uang Rp13 ribu, harga daging sapi Rp120 ribu/kg, dia akan punya uang Rp130 ribu, dengan harga-harga yang naik kemampuan untuk membelinya pun akan berlipat, begitu selanjutnya. (Dudy Supriyadi) 




























