Tuhan Tidak Perlu Dibela, Tapi Sekarang Tuhan Butuh Pembelaan

Tuhan Tidak Perlu Dibela, Tapi Sekarang Tuhan Butuh Pembelaan
AKHIR-akhir ini persoalan Tuhan mendadak ramai diperbincangkan di media massa, menyusul ada seorang bernama 'Tuhan' di Desa Kluncing Kecamatan Lincin Kabupaten Banyuwangi. Ia menjadi populer setelah KTP-nya dipinjam untuk perpanjangan STNK sepeda motor. Ternyata, ada seseorang yang menyebar KTP-nya di media sosial. Namun, Tuhan mengaku tidak tahu dengan namanya yang unik itu telah menjadi perbincangan dikalangan nitizen. Bahkan, ia sempat takut ketika para wartawan ‎mencari alamat rumahnya untuk dimintai keterangan. Setelah mendapat sorotan dari media dan masyarakat. Tuhan tetap bersikekeuh tidak akan mengubah namanya. Sebab, ia meyakini nama tersebut adalah pemberian orang tua dengan maksud dan tujuan yang baik. "Saya tidak mau menganti nama saya, kan itu pemberiaan orantua. Selain itu, jika ganti nama, maka semua dokumen juga harus ganti, KTP, surat nikah, ijazah dan surat-surat lainnya," kata Tuhan Selasa (25/8/2015). Pihak yang paling gencar meminta Tuhan menganti nama adalah dari Majelis Ulama Indonesia. Ketua MUI, Ma'ruf Amin mengusulkan agar nama Tuhan diganti. Lantaran dianggap tidak etis dan penuh kontroversi. Menurutnya pria tersebut bisa mengunakan nama lain semisal Hamba Tuhan. "Itu mestinya diganti dengan nama yang sesuai. Misalnya Hamba Tuhan. Itu terlalu berlebihan nama itu nggak boleh terlalu besar. Tapi nggak boleh juga direndahkan," kata Ma'ruf. Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) Said Aqil Siroj. ‎Menurutnya nama Tuhan tidak etis, karena seolah ingin mensejajarkan diri dengan Sang Pencipta. Ia pun meminta kepada orang tua untuk memberikan nama yang baik kepada anaknya. "Saidina Ali sahabat Nabi Muhammad mau namakan anaknya Harb, artinya perang. Tapi tidak boleh ‎sama Nabi, diganti Hasan," katanya. Tuhan pun merasa terpojok dan butuh pembelaan. Ia merasa sebelum namanya terkenal tidak pernah ada masalah. Masyarakat disekitarnya juga tidak ada yang terganggu dengan namanya. Ia setiap hari bekerja sebagai tukang kayu dan tidak masalah. Berbicara soal Tuhan ‎sekitar 35 tahun yang lalu tepatnya tahun 1980-an Presiden ke 4 Republik Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menulis buku dengan judul "Tuhan Tidak Perlu Dibela" Tulisan Gus Dur ini lahir dari hasil pergulatan pemikirannya ketika menimba ilmu di negara Timur Tengah. Gus Dur merasa Islam dengan nama Tuhannya Allah sering kali dibawa-bawa dalam urusan kepentingan politik dan dunia. Mereka mengatasnamakan Tuhan dengan membunuh, mengkafirkan, mencela dan menyalahkan orang, seolah-olah mereka telah memperjuangankan agamanya. Padahal yang sebenarnya ia perjuangankan adalah kelompok dan golongannya. Semata-mata demi kekuasaan. Praktek tirani ‎semacam ini kerap dilakukan oleh sekelompok umat Muslim di era itu. Gus Dur lantas hadir dan memberi pemahaman baru tentang Tuhan. Menurut Gus Dur, Tuhan tidak perlu dibela, karena dia sudah Maha Segala-Galanya. Kata Gus Dur, belalah mereka para kaum yang terindas, mereka yang diberlakukan tidak adil. ‎Logikanya jika orang membela Tuhan maka orang tersebut menandakan dirinya lebih hebat dari pada Tuhan dan agamanya. Sebab dimanapun yang membela itu jauh lebih kuat dari yang dibela. Terlepas dari itu, nyatanya sekarang Tuhan butuh pembelaan. Karena Tuhan disini sudah mewujud menjadi sosok manusia. Apakah layak Tuhan dijadikan nama manusia, semua tergantung penilaian para pembaca. (Albar/Wartawan Obsessionnews)