Harga Saham Eropa Naik di Tengah Penurunan di Cina

London - Nilai saham di London dan banyak negara di Eropa naik pada Selasa pagi (25/08) sesudah sempat terkena dampak merosotnya bursa saham di Cina. FTSE 100 naik hampir 2% pada indeks 6.003,72 sementara Dax di Jerman dan Cac di Paris naik lebih dari 3%. Kenaikan ini terjadi seiring dengan penurunan bursa saham di Cina dalam beberapa hari ini. Indeks saham utama gabungan di Cina turun 7,6% ke angka 2.964,97 poin. Jepang juga mengalami penurunan tajam, ketika saham indeks Nikkei di Tokyo turun 4%. Pada pasar saham negara Eropa lainnya seperti Lisabon, Madrid dan Milan naik pada perdagangan pagi hari mencapai 3%, dan di Moskow meningkat 2%. [caption id="attachment_57001" align="aligncenter" width="640"]
Pasar saham Eropa membaik, seperti yang diperlihatkan di bursa saham di Amsterdam ini. (bbc.co.uk)[/caption] Aksi jual saham global sempat terjadi didorong kekhawatiran pelambatan pertumbuhan ekonomi Cina, yang berarti menurunnya bisnis bagi negara-negara lain. Ledakan ekonomi Cina pada 30 tahun terakhir memperlihatkan penyerapan besar-besaran bahan mentah untuk keperluan manufaktur di satu sisi, serta meningkatnya permintaan barang manufaktur dan barang mewah dari negara-negara lain. Sesudah beberapa dekade pertumbuhan yang cepat, Cina mulai kehabisan tenaga. Investor global khawatir bahwa banyak perusahaan dan negara yang mengandalkan permintaan dari Cina -kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia- akan terpengaruh pelambatan ekonomi ini. Lemahnya angka manufaktur di Cina memicu jatuhnya harga saham dimana-mana pada hari Jumat, yang kemudian diikuti lagi oleh penurunan pada hari Senin, yang berdampak pada aksi jual saham di banyak negara di seluruh dunia. (bbc.co.uk)
Pasar saham Eropa membaik, seperti yang diperlihatkan di bursa saham di Amsterdam ini. (bbc.co.uk)[/caption] Aksi jual saham global sempat terjadi didorong kekhawatiran pelambatan pertumbuhan ekonomi Cina, yang berarti menurunnya bisnis bagi negara-negara lain. Ledakan ekonomi Cina pada 30 tahun terakhir memperlihatkan penyerapan besar-besaran bahan mentah untuk keperluan manufaktur di satu sisi, serta meningkatnya permintaan barang manufaktur dan barang mewah dari negara-negara lain. Sesudah beberapa dekade pertumbuhan yang cepat, Cina mulai kehabisan tenaga. Investor global khawatir bahwa banyak perusahaan dan negara yang mengandalkan permintaan dari Cina -kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia- akan terpengaruh pelambatan ekonomi ini. Lemahnya angka manufaktur di Cina memicu jatuhnya harga saham dimana-mana pada hari Jumat, yang kemudian diikuti lagi oleh penurunan pada hari Senin, yang berdampak pada aksi jual saham di banyak negara di seluruh dunia. (bbc.co.uk) 




























